RAKTA : The Cursed Blood

Aida Elrika
Chapter #6

Lontar Keenam

“Ambil sampai habis darahnya.”

Esa harap semua yang terjadi padanya hanya mimpi. Ia harap saat ia membuka mata semua hal buruk itu pergi. Namun, mau berapa kali pun ia mengucap doa, hal itu tidak akan terjadi. Esa pikir ia akan mati di bawah derasnya hujan, pikiran buruk yang mungkin lebih baik terjadi. Karena apa yang menimpa dirinya saat ini lebih buruk daripada kematian itu sendiri.

Tubuh tak berdayanya itu diseret oleh dua makhluk serupa monyet yang beberapa waktu lalu ikut andil dalam ritual entah apa itu. Salah satu dari mereka setengah terbakar hingga membuat tampilannya makin mengerikan. Suara mereka menggema di telinga Esa, membicarakan rencana-rencana buruk yang akan mereka lakukan pada tubuhnya.

“Apa kita perlu mengulang ritual?” Mini, si setengah terbakar itu melempar tanya. Ia tampak kepayahan menyeret salah satu kaki Esa.

“Tidak perlu, kita ambil saja darahnya dan segera lempar dia ke Rowo, si bodoh itu sejak tadi merengek minta makan,” Moni menimpali. “Atau sebelum itu kita panggang saja tubuh si bajingan ini sampai setengah matang, hukuman karena telah melukaimu,” lanjutnya kemudian.

“Ide bagus, nanti aku akan siapkan kayu bakar,” Mini memekik dengan antusias.

Esa mendesis lirih, hanya bisa pasrah dengan apa yang menimpa dirinya. Mungkin, setelah ini ia akan benar-benar mati mengenaskan. Dalam hati ia tak henti-henti merapalkan doa, walau ia tahu dengan jelas semua itu hanya berakhir sia-sia belaka.

“Pada hitungan ketiga kita angkat bajingan ini,” Moni memberi aba-aba. Esa bisa melihat samar rupa makhluk jadi-jadian itu. Melotot dengan matanya yang memerah dan terlihat begitu beringas. Esa ingin sekali meludahi wajah buruk rupa itu, sebagai pelampiasan atas rasa kesal yang bercokol di dalam hati, tapi apa boleh buat, tubuhnya sudah serupa boneka kertas tak berdaya yang hanya bisa pasrah menghadapi segala jenis penyiksaan oleh dua makhluk buruk rupa ini.

Sial, padahal Esa selalu membayangkan setidaknya ia akan menghadapi kematian dengan cara yang keren. Melawan sampai akhir dan dikenang sebagai orang gigih yang berusaha mempertahankan hidupnya sendiri. Namun, Tuhan sepertinya sangat senang melihat dirinya menderita. Pada kenyataan, alih-alih melawan sampai akhir, ia malah lebih mirip kambing yang siap disembelih, pasrah dan tak berdaya.

“Berat sekali bajingan ini!” Moni memukul dadanya keras. Menciptakan bunyi menyakitkan, perpaduan antara suara tulang retak dan juga desis lirih Esa. Rasanya perih dan nyeri, belum lagi panas dan sesak tiap kali ia menghirup udara pengap di sekitarnya.

Lihat selengkapnya