RAKTA : The Cursed Blood

Aida Elrika
Chapter #7

Lontar Ketujuh

“Pelan-pelan, Raden!"

Kara tidak mengindahkan seruan tersebut. Kakinya tetap terpacu, melesat bak kuda hitam yang berlari membelah sabana. Mata beriris coklat kemerahannya sejak tadi sibuk memindai, menatap satu persatu celah-celah sempit kios-kios kosong di kanan dan kirinya, tempat berbagai macam makhluk-makhluk tak kasat mata mengintip di antara kegelapan.

Dua hari lalu, ayahnya tercinta memberikan tugas perdana. Dengan senang hati ia menerima, tentu saja dipenuhi semangat menggebu-gebu ia pergi menjalankan tugas dengan baik. Ketiga belas kakaknya sempat protes, berbicara omong kosong tentang ia masih belum mampu mengemban tugas besar sendirian dan harus dalam pengawasan salah satu dari mereka.

Hah?! Omong kosong apa itu?! Dia sudah menjalani pelatihan selama bertahun-tahun untuk menjadi ksatria dan dukun yang baik. Resi Lelana juga menganugerahkan gelar ksatria muda terbaik untuknya dan ia resmi lulus dengan nilai yang memuaskan dari kadewaguruan.

Ia mendengus, mengarahkan ujung tombak ke arah kiri, ke arah buto yang hendak menerkamnya, merapalkan mantra singkat, dan semburan api keluar dari ujung tombak, membakar habis buto tersebut tanpa ampun.

Lihat? Ia sudah sangat jago menghadapi para dedemit rendahan seperti ini. Tanpa melihat pun ia bisa menghabisi mereka. Kakak-kakaknya saja yang terlalu protektif.

“Raden, hamba mohon Raden!”

Ah, dan orang ini, tentu saja.

Dengan berat hati ia menghentikan langkah dan berbalik hanya demi melihat pria dewasa bergelar Akuwu beserta dua pengawalnya yang ngos-ngosan mendekat. Ia memutar bola mata, memeluk tombak, dan menatap si Akuwu tanpa minat.

Ngomong-ngomong, pria itu sahabat lima kakak tertuanya. Tanpa sepengetahuan, ketiga belas kakaknya sepakat mengirim pesan pada si Akuwu Girah untuk mengawasi tingkah polahnya selama menjalankan tugas. Dalihnya, itu juga perintah ayah kepada si Akuwu sebagai penanggung jawab daerah tersebut, tapi ia tidak percaya. Karena sejak ia datang di kota ini, si Akuwu selalu memperlakukannya bak barang pecah belah, sungguh ingin ia tendang saja kemaluannya agar kapok.

“Kalian lelet sekali,” ia berkomentar tanpa mengalihkan perhatian pada kuku-kuku jarinya yang terpotong rapi.

“Mohon maafkan keleletan kami, Raden. Namun, saat ini kita berada di dunia ghaib tak dikenal, kita harus selalu waspada pada makhluk-makhluk di sini dan jebakan-jebakan yang disiapkan. Kita harus mematuhi langkah-langkah saat memasuki dunia ghaib dan harus tahu siapa yang berkuasa di sini terlebih dahulu, atau—”

“Aku di sini untuk menjalankan misi bukan mendengar ceramah dari pak tua!” Serunya.

Pria itu memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum kembali membuka mata dan menatap adik temannya itu dengan sabar. Akuwu Girah itu sudah sering mendengar keluhan temannya, lima putra tertua Sang Mahapatih itu selalu mengeluhkan hal yang sama padanya setiap kali mereka berkumpul, adik bungsu mereka.

Ia pikir mereka berlima hanya melebih-lebihkan cerita tentang kenakalan adik bungsu mereka. Sampai, akhirnya ia berhadapan langsung dengan si biang kerok penyebab sakit kepala lima temannya. Ia akan meminta maaf setelah ini karena sering menganggap cerita mereka berlebihan.

“Raden, tolong jangan gegabah. Kita harus—”

Lagi-lagi ia tidak menyelesaikan kalimat, karena bocah itu sudah kembali melesat pergi, dan mencipratkan lumpur ke wajahnya. Ia terdiam, mengatupkan bibir rapat-rapat dan memejamkan mata berusaha mengumpulkan kesabaran.

“Ikuti dia,” ia memberi titah pada dua pengawalnya.

“Baik, Tuan.”

Yang diikuti sendiri tidak ambil pusing dengan tingkahnya. Ia kembali berlari, memindai dunia ghaib kumuh itu dengan teliti sambil berkomentar tentang betapa busuknya tempat itu.

Sesekali akan ia ayunkan tombaknya dan memberikan semburan api pada makhluk-makhluk yang berani mendekat. Dalam hati ia berharap untuk bertemu dengan penguasa dunia ghaib ini dan mengalahkannya. Ah, pasti setelah itu ia akan pulang disambut kekaguman oleh ke-tiga belas kakaknya.

“Darah?” Kara bergumam, menghentikan langkah ketika melihat genangan darah bercampur bersama lumpur di antara kios-kios yang tutup. Bau menyengat percampuran antara daging dan sayuran busuk sedikit mengganggu indra penciumannya, tapi di antara kubangan busuk itu ia bisa mencium aroma samar melati bercampur mawar dari darah tersebut.

“Pemilik rakta benar-benar ada di sini,” ia kembali bergumam. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, sementara kedua netranya berbinar mengetahui fakta tersebut.

Kara kembali melangkah, kali ini ia langkahnya pelan. Menyusuri kios-kios sempit dan gang-gang berbau serupa. Mengikuti aroma samar dan juga ceceran darah yang perlahan menuntunnya pada rumah berukuran besar di tengah-tengah tempat itu. Ia tersenyum dan mencengkram tombak di tangan dengan erat, sangat antusias. Ujung tombak sudah terarah pada pagar beton kokoh rumah tersebut, dalam sekali tembak ia bisa menghancurkan apa pun yang ada di balik sana, tapi …

Lihat selengkapnya