Ada seseorang yang telah mengenal Rambut Emas lebih dulu, jauh sebelum rambut emasnya menjadi bahan pembicaraan orang-orang Puntang. Orang itu adalah seorang pemuda bernama Rampu.
Pada awalnya karena usia mereka tidak berselisih jauh jaraknya, keduanya mulai berteman. Sejak mulai berteman, keduanya mulai sering terlihat bersama. Mulai dari pergi ke sungai untuk bermain sambil memancing atau menebar jala, memeriksa bubu pada keesokan harinya, pergi ke hutan mencari buah-buahan atau kayu bakar, hingga membantu di ladang milik Pak Kepala Adat, semua hampir mereka lakukan bersama.
Biar pun sewaktu kecil Rambut Emas bertubuh lebih tinggi darinya, sekarang setelah beranjak dewasa malah terlihat sebaliknya. Bukan hanya lebih tinggi dari Rambut Emas, tubuh Rampu sekarang bahkan lebih tegap dari kebanyakan pemuda Puntang seusianya.
Karena hampir setiap hari berada di bawah matahari, kulit Rampu berwarna kecokelatan. Rambut hitamnya lebih sering tampak sedikit berantakan, terutama setelah pulang dari membantu di ladang Pak Kepala Adat.
Meski air mukanya nyaris datar, sorot mata Rampu terasa menenangkan. Bahkan, terlalu menenangkan untuk dikira dapat menyadari sesuatu yang tidak disadari oleh siapa pun, termasuk oleh Rambut Emas yang hampir selalu bersamanya itu.
Lebih dari sekadar orang yang akan selalu terlihat bersama Rambut Emas, sebenarnya Rampu adalah orang yang akan menarik pulang gadis itu, saat ia lupa waktu karena harus menolong orang lain yang tak sengaja ditemui di jalan pulang.
Seperti suatu hari, ketika waktu nyaris petang, Rampu yang sudah lebih dulu sampai rumah akhirnya menyadari bahwa Rambut Emas belum pulang.
“Kau selalu seperti ini.”
Hari itu, karena harus ikut Bapaknya untuk menggarap ladang orang, Rampu memang tidak bisa pergi ke sungai bersama Rambut Emas. Saat pergi ke sungai dan akhirnya menemukannya, gadis itu terlihat sedang membantu seorang anak memasang kembali bubunya yang hampir hanyut karena arus sungai. Persis dugaannya.
“Apa kau lupa kalau kau harus segera pulang sebelum Mak-mu pulang?”
Rambut Emas hanya terkekeh kecil sebelum menjawab.
“Apa boleh buat. Kebetulan hanya aku yang melintas dan melihat anak ini kesusahan. Bagaimana mungkin aku tidak membantunya?”
Rampu melirik anak kecil yang masih sibuk memegangi bubu.
Anak laki-laki itu tampak takut menatap Rampu, yang sejak kedatangannya tadi langsung bertolak pinggang dan mengomel.
“Kalau Mak-mu nanti marah, bagaimana?” Rampu menghela napas sambil kembali menatap Rambut Emas.
Rambut Emas sedang bersiap turun ke sungai untuk memasang bubu, yang talinya sudah selesai ia ikat dengan simpul lebih kencang, milik anak laki-laki itu.
“Kalau nanti dapat sidat, aku bagi satu untuk Ayuk.”
“Nah, lihat. Bukankah dia sangat menggemaskan untuk ditinggal kesusahan sendirian?”
Rambut Emas menoleh sebentar ke arah Rampu yang ikut mendekat.