Langkah kecil berjalan tanpa arah, tubuh mungil itu berjalan di tengah hutan, pakaian yang kotor seperti habis berguling-guling di tanah, tubuh mungil yang penuh dengan luka luka goresan di tangan bahkan wajahnya.
Kakinya melangkah tanpa arah, menyusuri hutan dan kedua matanya melihat lihat sekitar, hening tak ada suara yang keluar dari mulut kecilnya. Sesekali ia memegang perutnya, ia merasa lapar.
"Aku ada dimana sih, kenapa aku tak melihat adanya jalan keluar? Aku sangat lapar... " Tangannya memeluk erat perutnya yang lapar.
Tubuhnya gemetar, bukan karena kelaparan, tapi karena takut. Suasana yang mulai terang, matahari mulai menampilkan cahayanya, tapi... suasana mencekam dari hutan tak menghilangkan rasa takutnya. Kedua tangannya memeluk tubuhnya yang mulai tak tahan dengan ketakutan. Sementara mulutnya berkata, "Kau kuat, kita akan keluar dari sini, pasti..". Suara desiran air terdengar, seakan menemukan harta karun, kakinya yang awalnya berjalan, kini berlari, tubuhnya yang bermula ketakutan kini mulai berani. Menerjang apapun yang ada di depan.
Semak belukar menghalangi jalannya. Tangannya berusaha menyingkirkan daun daun yang menghalangi pandanganya. Sampai akhirnya, ia melihat sebuah sungai, tubuhnya ia jatuhkan tepat di tepi sungai. Tangannya meraup air yang ada di depannya, langsung saja ia masukkan ke mulutnya, sangat segar. Merasa tak puas, tangannya kembali meraup, meminumnya dan membasuh wajah serta tubuhnya yang kotor. Aksinya terhentikan saat air mulai tenang dan memantulkan suatu bayangan.
"Wajahku seperti ini ya?" Kepalanya miring dan kedua matanya memperhatikan pantulan yang ada didepannya.
"Tapi... sayang banget, aku tak tau aku siapa..., aku dimana, dan kenapa aku bisa ada disini, sungguh aku ketakutan..." Wajahnya lesu menatap sendu pantulan wajahnya di sungai.
Suara suara hewan lain mulai terdengar keras, seperti mulai banyak yang bermain atau sekedar cari makanan.
Kedua matanya menangkap sebuah keluarga monyet yang sedang bergantungan. Sangat dekat dan saling membantu, walau tak secara langsung tapi bentuk perhatiannya cukup terlihat.
Suasana damai hutan mulai terusik. Terdengar suara keras dan teriakan yang tak jauh darinya. Ia bangkit, ia ketakutan, matanya mencari arah asal suara itu. Tubuhnya secara tak langsung pergi meninggalkan sungai dan mulai mencari tempat aman.
Kakinya terus berlari, lari sekencang kencangnya. Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah halaman luas, disana ada beberapa tanaman yang berbunga kuning.
"Aku... aku takut, aku takut, ibu.... tolong aku... aku takut" Tubuh mungilnya meringkuk ketakutan. Ia bingung harus kemana.
Suara itu tetap mengejar, bukan menghilang tapi mengejar.
"Tolong berhenti!" Suara lantangnya menghentikan suara yang mengikutinya.
"Hah.. hah.. berhenti? Be beneran berhenti?" Matanya berair, tangisannya pecah.
Pebuah panah melesat tepat disebelahnya. Tubuhnya langsung kaku, dan melirik dengan perlahan panah itu tertancap dengan baik di atas tanah. Pandangannya memudar dan akhirnya tubuhnya jatuh.
"Aku takut ibu... aku takut..." Kesadarannya hilang. Suara yang mengikutinya ternyata adalah segerombolan pemburu berkuda. Mereka berhenti tepat di tubuh mungil yang mungkin mereka kira adalah buruan.
Kedua matanya terbuka, ruangan yang sangat asing, ruangan yang terlalu besar dan luas.
"Aku dimana?" Matanya memandangi sekitar, ruangan yang tertata rapi. Kepalanya pusing, seakan akan berputar.
"Kenapa aku bisa ada disini? Bukannya aku di hutan? Aku.. aku gak diculik kan?"