Rangkaian Bunga Kecil

Lilyandra
Chapter #2

2

Setelah makanan habis, Aya keluar membawa nampan, Pak Kasim yaitu ayahnya bersandar di depan pintu kamarnya.

"Bagaimana sama anak itu?" Tanyanya dengan cemas.

"Anak itu baik baik aja pak, tapi anak itu hilang ingatan, dan juga masih trauma, Aya sudah mencoba berbicara dengan santai, dan syukurlah anak itu menerima dan menyambut Aya" Aya melihat pintu yang sudah tertutup rapat.

"Anak itu hilang ingatan? Hm... ini harus kita laporkan, bagaimana juga kita memegang amanah untuk mengabari keadaan anak ini kepada Dia" Pak Kasim berpikir keras.

"Bapak benar, kita harus beritahu Beliau untuk kedaan anak ini, bagaimanapun kita sudah janji, kalau gitu Aya mau kebelakang dulu ya pak, sekalian lihat anak-anak yang lain" Aya izin pamit.

"Iya, pergilah, anak anak juga perlu diperhatikan, bapak pergi dulu sebentar ke kediaman Beliau, kamu jaga disini bersama anak anak ya, bapak gak akan lama kok" Pak Kasim juga izin meninggalkan panti asuhan.

"Iya pak" Mereka meninggalkan kamar dan kembali ke tujuan mereka masing-masing. Pak Kasim pergi ke tempat yang dituju, sementara Aya pergi ke dapur.

Sementara di kamar, seorang anak perempuan itu masih terdiam termenung di dalam kamar. Menatap kosong pada pintu yang ada di depannya.

"Kenapa aku tak mengingat apapun?" Dia melihat kedua tangannya.

"Apa aku disini aman ya? Apa lebih baik dari hutan tadi? Aku takut mereka akan membuangku nanti. Apa aku akan baik baik saja? Aku kan gak tau aku siapa dan dari mana, mereka bisa saja dengan mudah membuangku" Anak sekecil itu harus bergelut dengan pikirannya.

Sampai rasa kantuk datang membuatnya tak berdaya hingga tertidur.

Hari berganti menjadi sore, mengingat kepergian Pak Kasim sudah sangat lama pergi, Aya menjadi khawatir, sesekali ia melihat ke arah pintu masuk.

Terdengar suara seekor kuda masuk kandang. Perhatian Aya teralihkan. Pak Kasim akhirnya pulang, wajahnya memberi sinyal yang berbagai macam.

"Bapak udah pulang? Gimana apa kata Beliau?" Aya terlihat begitu khawatir.

"Ada banyak yang mau bapak ceritakan, kita masuk dulu ya, ke ruangan bapak, disana bapak akan ceritakan semuanya" Pak Kasim membawa Aya untuk masuk ke ruangan.

"Nak, Beliau memberikan sebuah tanggapan yang baik, beliau bersyukur karena anak yang dibawanya sudah sadar dan mau bercerita, berulang kali ia meminta maaf, dan beliau memberikan ini" Pak Kasim memletakkan sebuah kain yang berwarna hijau di atas meja.

"Ini apa pak?" Aya ingin membukanya.

"Itu kalung" Aya terkejut saat membukanya. Kalung yang sangat indah dan begitu berharga.

"Tapi pak, ini untuk apa? Barang ini terlalu mahal pak" Aya menutup kembali kalung itu.

"Kalung itu untuk anak yang tadi dibawanya, Beliau juga memberikan nama dan kalung itu secara bersamaan, sebenarnya bapak juga gak mau menerima ini, tapi bapak juga gak bisa menentang keputusan Beliau" Wajahnya tampak kusut.

"Namanya Malya Harita, dan kalung itu... bapak juga gak paham sama Beliau, kenapa memberikan barang berharga seperti itu kepada anak yang masih kecil" Aya menyimak perkataan bapaknya.

"Bagaimana jika kita simpan dulu pak?" Usulnya.

Lihat selengkapnya