Selesai makan, anak anak kembali ke aktifitas mereka masing masing termasuk Sela,Sena, Wati dan Ratih.
"Kalian mau kemana?" Malya terlihat bingung saat teman temannya merapikan barang yang ada di atas meja.
"Kami dapat giliran bersih bersih Malya, nanti kamu juga dapat kok giliran yang sama" Jawab Sela yang masih sibuk merapikan.
"Jadwal giliran?" Tanya Malya lagi.
"Iya, setiap orang yang ada disini mendapat giliran untuk mengatur kebersihan dan kerapian Malya, selain disini kami juga dapat giliran di tempat yang lain" Kata Sena yang mengelap meja makan.
"Oh.... kalau begitu ada yang mau aku bantu gak? Biar pekerjaan kalian selesai" Malya mendekati Ratih yang membawa piring piring ke dapur.
"Tidak Malya, kali ini biarkan kau melihat kami dulu, setelah itu kalau jadwal sudah keluar kau bisa mengikuti jadwal dan melakukan pekerjaan yang sama" Jawab Ratih dengan lembut.
"Itu benar Malya,lebih baik kau ikut yang lain dan main main saja sana" Seperti biasa Wati selalu mengatakan kata yang cukup pedas.
Malya mengikuti perkataan mereka, tapi Malya tak pergi, dia hanya berdiri di sudut ruangan dan memperhatikan mereka. Sesekali Malya mendengar percakapan mereka, ada yang membahas bermain di dalam halaman panti, dan ada juga sebagian anak laki laki yang cukup dewasa pergi melakukan ronda malam. Sementara anak perempuan yang mendapatkan bagian bersih bersih, mereka mencuci piring dan merapikan dapur. Malya jadi gelisah saat yang lain sibuk sementara dia tidak.
"Aku bisa bantu kok, aku aja ya yang nyapu" Malya menawarkan diri, kepada salah satu sebayanya yang sedang menyapu.
"Kamu kan belum dapat bagian, kamu nanti aja, lebih baik kamu ikut bermain aja sana sama yang lain, biar kami saja yang beresin ini semua" Ucapnya.
"Baiklah.. " Malya pun keluar dari ruangan itu.
"Huh, aku tidak bisa membantu mereka sekarang, aku kan juga mau bantu bantu" Malya mendumel.
Malya melihat lihat sekitar, banyak orang orang yang berlalu lalang. Kedua mata Malya melihat langit, ia begitu terkagum-kagum, saat melihat bulan purnama bersinar menyinari bumi, anak anak yang berlarian dan sebagian memanfaatkan cahaya bulan untuk menenun. Panti asuhan ini begitu luas, dikelilingi bangunan lalu di tengah panti terdapat halaman luas untuk anak anak bermain. Malya duduk di tepi lantai, menikmati langit yang indah dan anak anak lainnya bermain dengan indah. Langit gelap yang diterangi indahnya bulan dan taburan bintang bintang, hawa dingin bukan menjadi halangan untuk menikmati keindahan. Malya menutup kedua matanya seolah terbenam dalam keindahan malam.
Seseorang duduk di sebelah Malya. Membuatnya membuka kedua matanya.
"Anak anak disini kebanyakan.... adalah hasil jual budak, mereka memiliki nasib yang malang, ada yang dijual, ada yang dijadikan budak, ada yang dibuang, ada juga yang memang tak tau asal usulnya. Tapi disini nereka dikumpul jadi satu kesatuan, mereka hidup lebih baik. Mereka semua istimewa Malya.... mereka semua adalah orang yang sama disini, anak anak panti yang pantas dilindungi dan diberi kasih sayang yang besar" Malya menatap orang yang dudul disebelahnya, Aya menatap anak anak yang sedang bermain ria gembira. Lalu tersenyum.
"Malya juga sama seperti mereka yang pantas untuk bahagia dan merasa aman, disini kita semua keluarga tanpa ada rasa iri, benci dan lainnya. Bibi harap kita semua jadi seperti ini seterusnya, merasakan dan memberi rasa damai" Sungguh senyuman itu paling tulus yang pernah Malya lihat.
"Iya bi, Malya akan menjadikan mereka semua keluarga, Malya juga nyaman berada disini, sungguh bi" Senyuman Malya sangat indah.
"Baguslah" tangan Aya mengelus lembut.