"Hei, dia ini lucu ya, lihat pipinya tembam banget.... "
"Iya ya... kok bisa pipinya ada gumpalan gini?"
"Hei, Hei, bangun...... bagi dong pipinya, aku juga mau"
"Eh jangan ke kamu dong, punyamu aja udah ada, aku nih yang belum, aku juga mau...."
Erangan kecil membuat suara itu pergi, yang terdengar hanya suara sesuatu menyenggpl kayu.
"Aduh" Ternyata itu suara Sela, ia mengelus kakinya yang terhantuk pinggiran ranjang.
"Sela, kamu gak apa apa?" Malya terbangun dan masih mengusap usap matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Eh gak apa apa kok" Sela pura pura gak baik aja, sementara Wati, Sena dan Ratih menahan tawa.
"Ngomong ngomong tadi ada yang bising banget loh, tapi siapa ya?" Malya masih membuka setengah matanya, ia pun duduk. Tubuhnya ia regangkan.
"Eh suara bising? Mana ada kayak gitu" Kata Sena.
"Iya gak ada tuh" Kali ini Wati ikutan.
"Kalian udah bangun? Kok gak bangunin aku sih, apa kita udah terlambat ya?" Kesadaran Malya belum terkumpul tapi langsung penuh, karena melihat teman temannya yang lain sudah bersiap siap, kasur yang sudah rapi dan hanya dia yang belum apa apa.
"Tenang... kami memang terbiasa bangun lebih awal, gak apa apa kok, bentar lagi kita keluar, jadi ayo bangun dan bersihkan tempat tidurmu, baru kita keluar" Kata Sena.
"Ooooh, oke bentar aku rapikan dulu" Malya langsung bangkit dan merapikan tempat tidurnya.
Tak butuh waktu lama, mereka selesai. Pagi ini matahari belum sempurna menapakkan dirinya. Embun masih bisa menusuk kulit, tapi anak anak sudah bangun, kecuali anak yang masih kecil, kebanyakan seusia Malya 9 tahun ke atas.
"Ini kita kemana?"
"Kita akan ke kebun, nanti kita akan ketemu sama 4 orang lagi, mereka sudah menunggu disana, mereka selalu lebih awal. Nanti kita petik sayur, lalu sayur itu akan dijual di pasar pusat" Ratih menjelaskan dengan pelan pelan.
"Wah.... ternyata panti asuhan kita hebat ya, bisa menjual sayuran sampai ke pasar pusat tapi pasar pusat itu jauh ya?"
"Hihihi.... Malya panti asuhan kita ini dikelola oleh seorang pedagang, wajar kalau panti asuhan kita sangat besar dan menjamin, aku juga sampai heran, tapi tida hanya itu, kau bisa menemukan kandang kambing nantinya dan disana ada yang pernah susunya" Kali ini yang menjelaskan adalah Sela.
"Seperti bukan panti pada umumnya, ini disebut terlalu kaya, sayuran, susu, lalu apalagi nanti?" Malya memperhatikan sekitar dengan penuh penasaran.
"Semua kekayaan ini juga harus dibayar, semua gak gratis Malya, aku tak sengaja pernah dengar percakapan bibi Aya dan pak Kasim, mereka sempat berdiskusi soal pajak yang diberatkan kepada panti asuhan kita. Mereka bilang kekayaan kita ini milik mereka juga, aku sangat ingin marah saat itu, tapi... aku kan masih kecil" Wati menambah penjelasan dari Sela.