Rangkaian Bunga Kecil

Lilyandra
Chapter #6

6

Malya bisa bernafas lega, karena rombongan keluarga suami bi Aya pergi kembali ke kampungnya, dan artinya Malya tenang tidak diganggu lagi. Senyuman terukir di wajahnya, kembali seperti biasa. Pagi ini mereka semua ke sungai, mandi dan melakukan rutinitas biasanya.


“Langit hari ini indah ya? Indah banget…. hup… hah…. Ketenangan yang aku inginkan” senyuman yang tak pernah sedikitkun hilang dari wajahnya.


Sungai sangat ramai, banyak ibu-ibu dan anak anak yang bermain disana. Mereka semua cuci dekat perkumpulan ibu-ibu.


“Eh kalian anak asuhnya Panji ya?” ujar salah satu ibu ibu.


“Iya buk” jawab Ratih.


“Kalian harus pinter-pinter jaga diri, jangan nakal nakal, jadi anak tuh yang baik, juga jangan pakai pakaian yang ketat, apalagi pakai baju yang kurang bahan” jelasnya.


“Iya kan yuk, kalian itu perempuan, masih muda jangan sampe kalian lakukan hal yang gak pantes” kata ibu yang disebelahnya.


“Memangnya ada apa ya buk?” Sela pun angkat suara.


“Ck… itu loh anak kampung sebelah, katanya sudah hamil, padahal masih muda, katanya karena apa yuk?”


“Itu karena kejadian itulah, pokoknya gak pentes diucap di depan kalian, yang paling penting itu kalian jangan sampai gak lakuin apa yang kami omongin, ini demi kebaikan kalian loh”


Mereka semua mengangguk, setelah mengatakan itu, para ibu langsung pergi, karena pekerjaan mereka sudah selesai.


“Panji siapa?”


“Panji itu suami dari bi Aya, kamu gak tau?” kata Sena.


Malya menggeleng.


“Yuk ah kita pulang, dengerin cerita ibu-ibu tadi juga kita kan gak paham, jadi nambah pikiran aja” Wati memasukkan pakaiannya ke dalam keranjangnya.


Ditengah perjalanan mereka melihat beberapa anak laki-laki yang siap-siap pergi kerja, mereka jalan dengan membawa beberapa buntalan kain, mungkin itu bekal makan siang mereka, tubuh yang ramping dan tegap berjalan dengan gagahnya. Wati terdiam melihat dan memperhatikan mereka yang berjalan. Anak perempuan yang berambut pendek itu tak memalingkan tatapannya dari gerombolan itu. tatapan yang penuh arti, sendu.


“Andai aku laki-laki, mungkin aku bisa kayak mereka” Wati bergumam pelan, tapi Malya bisa dengar.


Mereka kembali berjalan seolah tak ada apa-apa dan tak mendengar apapun. Malya merasa ganjal dengan apa yang diucap oleh Wati, sepanjang perjalanan Wati hanya jalan dengan kebisuan, yang lain juga ikut diam tak berani angkat suara. Biasanya Sena yang paling sering mengajak bicara lebih dulu, tapi kini diam membisu. sesampaikan kembali ke panti, Sena dan Malya yang terakhir menjemur pakaian.


“Um.. Sena”


“Ya ada apa Malya?


“Tadi aku gak sengaja dengar uacapan Wati, katanya ‘andai aku laki-laki’ itu maksudnya apa?”

Lihat selengkapnya