Rangkaian Bunga Kecil

Lilyandra
Chapter #7

7

Hiruk pikuk suasana pasar, udara pagi yang masih mampu menusuk tulang, sayuran segar yang masih basah dan hasil laut juga masih segar. Keramaian pasar pagi cukup tak terkendali, berbagai suara menjadi satu tempat. Ada yang menarik pelanggan untuk singgah, ada suara orang yang menurunkan barang dari dobraknya, ada pula ibu ibu yang menawar barang belanjaannya. Pada hiruk pokoknya pasar,  Sela juga gak mau kalah untuk mendapatkan harga termurah.


"Ini 3 koin aja ya pak" Sela menunjukkan ikan yang ada di hadapannya.


"Gak bisa loh neng, ini baru aja diambil, masih segar, bapak gak bisa kasih lebih murah, bapak udah turunkan 2 koin tadi" Dari suaranya sudah kelihatan ia lelah melayani Sela.


Tak haya pedagang yang lelah dengan Sela, Mal yang dan Wati juga ikut lelah mendengar tawaran dari Sela.


"Ah bapak nih, yaudh deh 3 koin" Wajah Sela terlihat kesal tapi setelah itu ada kemenangan yang terlihat dari raut wajahnya.


Seikat ikan berhasil kami dapatkan.


"Hehehe, aku menang dong.... ikannya murah" Sela sangat bangga akan keberhasilan tawar menawarnya.


"Udah jadinya 3 koin pun pakai tawar lagi, yang benar aja.. " Wati memutarkan kedua matanya dengan malas.


"Et... jangan salah, kita tuh begini biar hemat tau..., tau kan kita baru gajian, ikan seikat gini juga gak cukup sebulan sama kita berlima" Apa yang dikatakan Sela ada benarnya. Kami sudah keluar dari panti asuhan, usia kami belum genap 15 tahun, tapi kami sepakat ingin keluar dari panti asuhan dan menginap di penampungan para perempuan. Tempat yang menyediakan sebuah rumah kecil yang cukup untuk beberapa orang. Kami semua tinggal disana. Rumah yang gak terlalu besar, mungkin masih bisa dibilang gubuk kecil. Lingkungan yang aman karena semuanya adalah perempuan.


Kali ini kami beralih ke tukang sayur, Sela kembali beraksi, Wati dan aku hanya menggeleng gelengkan kepala.


"Hahaha, aku menang lagi, asik banget.. " Sela begitu senang, ia berjalan dengan penuh irama.


"Iya iyaa, kau menang lagi" Wati pun pasrah melihatnya.


"Kau keren ya Sela, 5 keping dan kau bisa belanja" Malya memberi apresiasi.


"Huh, Sela gitu loh" Ketiganya tertawa secara bersamaan.


Hari sudah semakin siang, mereka memutuskan untuk kembali.


"Wati?" Satu panggilan itu membuat Malya, Sela dan Wati membalikkan badan mereka. Seorang pria bertubuh tegap dan pakaian rapi berdiri di belakang mereka, nafas yang seolah tersenggal


Malya dan Sela sangat bingung karena tak mengenal pria yang ada di depannya. Tapi tidak dengan Wati.


"Ngapain kesini?" Suaranya begitu sinis.


"Mas kesini mau ngomong sesuatu" Pria itu meraih tangan Wati.


"Gak ada yang perlu dibicarakan, ngapain sih kesini, udah mulai butuh, iya?" Wati menghempaskan tangan pria itu dengan kasar.


"Dek, dengerin mas dulu.. " Ternyata dia kakaknya Wati.


"Dengerin apanya, kalian juga dulunya gak mau dengerin aku" Wati tak ingin menatapnya sesekali berdecak kesal.


"Mas salah karena gak mau dengerin adek, tapi ini demi kebaikan adek" Suaranya semakin di lembutkan, ia berusaha berbicara baik baik dengan Wati yang keras kepala.

Lihat selengkapnya