Mereka semua sudah tenang, tapi masih dalam posisi memeluk, memberi kehangatan.
"Lalu bagaimana nanti Wati? Apa yang harus kita lakukan?"
"Aku gak tau Sena, entah apa yang akan aku lakukan, kakakku sudah datang, dia berkata akan melindungiku dari bapak dan yang lainnya, mungkin aku harus percaya pada kakakku, Candra"
"Apa dia pantas dipercaya? Aku takut keputusan ini nantinya malah jebak kamu Wati"
Mereka semua melepas pelukan dan memperhatikan Wati kembali. Sebelum menjawab sudut bibirnya Wati tertarik ke sudut hanya sedikit.
"Iya Ratih, kakakku ini dia orang yang menyayangiku dari dulu, hanya saja karena dia menjaga jarak kami tak terlalu dekat"
"Kalau begitu apa kami bisa ikut samamu Wati, biarkan kami ikut juga.. " Semuanya juga ikut antusias.
Belum sempat Wati menjawab, seseorang panggil nama salah satu dari kami.
"Malya!" Mereka saling bertatap mata.
"Ya?" Malya bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu. Semua mata tertuju pada pintu depan.
Pintu terbuka menampilkan sosok wanita berusia 30-an berdiri di depan pondok mereka, "Ada apa bi?" Dia salah satu tetangga dari pondok tempat mereka tinggal.
"Ada laki laki di depan, dia cari Wati sih, orangnya tinggi, pakaiannya rapi, pokoknya dia orang yang berada lah"
Semua mata kembali tertuju ke Wati, wati merenung sebentar.
"Mungkin dia kakakku"
Kedua tangannya meremas ujung kainnya, Wati ambil nafas panjang dan bangkit.
"Kita pergi sekarang juga, ayo!" Wati beranjak dari duduknya, semua mata temannya tertuju padanya. Langkah kakinya Wati mengarah ke lemari kecil tempat penyimpanan pakaian mereka, ia mengambil pakaiannya secara acak dan menggelar kain jarik.
"Kau yakin?" Raut wajah yang penuh khawatir tentu tak lepas dari mereka.
Sementara tetangga mereka masih melihat percakapan diantara mereka.
"Oh, dia kekasihmu ya Wati? Kamu hebat juga ya punya kekasih yang keren gitu" Banyak sekali pertanyaan darinya yang juga dilontarkan, tapi tak didengarkan oleh yang lain.
Malya memejamkan matanya berusaha tetap tenang, "Tidak bi, kami kesana ya, tolong bilangkan ke pria itu suruh tunggu sebentar" Malya pun tak ingin melihat bibi itu lama lama, dia termasuk orang yang selalu ingin tahu dan pastinya bibirnya itu tak pernah lelah membicarakan orang lain.
"Tapi... "