RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #2

2. Ritual Kologondo

Semarang, sepuluh hari menjelang pernikahan.


​Malam telah larut di pinggiran kota Semarang. Angin malam berembus kencang, menggoyang dedaunan pohon mangga di depan rumah keluarga Wicaksono Diningrat, menciptakan bayangan-bayangan serupa jemari hitam yang mencakar jendela kamar.


​Di dalam kamarnya, Andin, putri bungsu Wicaksono, berbaring telentang. Lembar seprai putih membungkus tubuhnya yang gelisah. Kulitnya yang kuning langsat digenangi keringat dingin. Bibirnya bergetar, merancaukan kata-kata yang tak jelas.


​Di balik kelopak matanya yang terpejam, Andin tidak lagi berada di kamarnya yang nyaman.


​Dia sedang berlari. 


Napasnya tersengal-sengal, memburu bagai diburu maut. Di kanan dan kirinya, batang-batang tebu yang tinggi menjulang mencuat membatasi pandangan, daun-daunnya yang tajam menggores pipi dan lengannya hingga perih. 


Suasana di dalam ladang tebu itu begitu pekat, diselimuti kabut tipis berbau busuk seperti bangkai yang menyengat indra penciuman.


​𝘋𝘳𝘢𝘱! 𝘋𝘳𝘢𝘱! 𝘋𝘳𝘢𝘱!


​Suara langkah kaki yang berat dan masif terdengar tepat di belakangnya. Makhluk itu meraung lapar dan mengejarnya dengan brutal. Setiap kali makhluk itu melangkah, tanah yang dipijak Andin terasa bergetar.


​Andin memberanikan diri menoleh sambil terus berlari. Jantungnya mencelos. Di tengah remang kabut, sesosok makhluk bertubuh tinggi besar, hitam pekat, dan berbulu lebat sedang menerobos barisan tebu dengan beringas. 


Makhluk itu memiliki sepasang tanduk melingkar yang mengerikan, dan wajahnya... wajahnya menyerupai seekor kambing jantan berdarah dengan mata merah menyala yang memancarkan kelaparan tiada tara. Halimun.


​"Toloong! Siapa saja, tolooong!" jerit Andin, suaranya parau, tercekat di tenggorokan.


​𝘚𝘳𝘢𝘬! 


​Akar tebu yang melintang menyangkut di kakinya. Andin tersungkur di atas tanah lembap yang dingin. Ia berbalik dengan cepat, mengesot mundur dengan kedua tangannya sementara air mata mulai menderu membasahi pipinya. 


Sosok Halimun sudah berdiri tepat di hadapannya, menjulang tinggi membungkus langit malam. Makhluk itu membuka mulutnya, mengeluarkan lenguhan berat yang menggetarkan dada Andin, siap menerkam.


​"Aaaakh!"


​Andin memejamkan mata, bersiap menghadapi kematian. Namun, sedetik kemudian, keheningan mencekam mendadak turun. Lenguhan mengerikan itu lenyap.


​Perlahan, Andin membuka matanya yang sembap. Sosok monster berkepala kambing itu telah hilang. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ladang tebu yang sunyi. 


Hanya ada suara gesekan daun tebu yang tertiup angin, memancarkan aura mistis yang mengecekik.


​𝘚𝘳𝘦𝘬! 𝘚𝘳𝘦𝘬! 


​Dari balik kegelapan lorong ladang tebu, terdengar langkah kaki manusia. Bukan langkah monster. Seorang pria berjalan keluar dari keremangan. Mengenakan kemeja rapi yang separuhnya terbuka, pria itu menatap Andin yang terduduk lemas.


​Andin tersentak. Wajah itu... wajah yang sangat familiar yang selalu ia hindari selama kuliah di Jogja.


Lihat selengkapnya