RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #3

Tulah

Kediaman Keluarga Gunawan Wijaya, Semarang - Pagi Hari


​Aroma harum pandan, parutan kelapa, dan adonan kue mochi serta wingko babat yang dipanggang menguar dari dapur besar kediaman Gunawan Wijaya. 


Rumah bergaya kolonial di kawasan perbukitan Semarang itu tampak hidup. Beberapa kerabat sibuk menata hantaran, sementara para pekerja hilir mudik menyiapkan janur kuning yang akan dipasang di depan gerbang.


​Di tengah keriuhan itu, Pak Gunawan Wijaya (58 tahun) berdiri di beranda, sesekali mengisap cangklong peraknya dengan senyum tipis. 


Di dekatnya, Rasti (50 tahun), sang istri, sedang sibuk memeriksa wadah-wadah berisi air bunga setaman untuk ritual panyiraman adat bagi putra bungsu mereka, Arli Wijaya.


​Namun, kedamaian pagi itu mendadak pecah oleh dering telepon rumah yang melengking nyaring.


​𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨𝘨𝘨! 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨𝘨𝘨!


​Mbok Asih, asisten rumah tangga senior, bergegas mengangkatnya. Tak lama, wajah wanita tua itu memucat. "Pak... Bu... Niki dari kepolisian," (𝑃𝑎𝑘... 𝐵𝑢... 𝐼𝑛𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑜𝑙𝑖𝑠𝑖,) suaranya bergetar.


​Pak Gunawan Wijaya langsung menyambar gagang telepon. Rahangnya mengeras mendengar suara tegas seorang polisi di seberang sana. "Apa? Kecelakaan? Di jalur perbukitan arah Ungaran?"


​Rasti yang mendengar kata 'kecelakaan' langsung mendekat, wajahnya pias. "Wonten nopo, Pak? (𝐴𝑑𝑎 𝑎𝑝𝑎, 𝑃𝑎𝑘?) Arli kenapa?"


​"Arli kecelakaan, Bu. Mobilnya masuk parit di tepi jurang setelah berkunjung dari rumah temannya," ujar Pak Gunawan Wijaya, menutup telepon dengan tangan gemetar. "Aku harus ke lokasi sekarang."


​"Aku melu, Pak! Aku melu! Pikiranku ra penak iki!" (𝐴𝑘𝑢 𝑖𝑘𝑢𝑡, 𝑃𝑎𝑘! 𝐴𝑘𝑢 𝑖𝑘𝑢𝑡! 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎𝑎𝑛𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑒𝑛𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑖!) Rasti bersisear, air matanya mulai menggenang.


​Tanpa membuang waktu, mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil dinas keluarga. Bagus, sang sopir, langsung memacu kendaraan membelah jalanan Semarang yang mulai padat menuju daerah pegunungan yang terpencil.


.......................................... 


​Tepi Jurang - Jalur Pegunungan


​Suasana di lokasi kejadian begitu mencekam. Kabut tipis sisa semalam masih menggantung di sela-sela pohon pinus. 


Mobil sedan milik Arli Wijaya tampak ringsek di bagian depan, tersangkut di antara pepohonan besar tepat beberapa sentimeter sebelum tebing curam yang menganga ke dalam jurang terdalam.


​"Alhamdulillah, Gusti..." Rasti langsung berlari dan memeluk Arli yang sedang duduk di dalam mobil polisi dengan dahi dibalut perban. Arli selamat, hanya mengalami luka gores dan syok berat.


​Setelah Pak Gunawan menyelesaikan urusan administrasi dengan polisi dan mengatur penderekan mobil, mereka semua kembali ke rumah. 


Di dalam kamar utama, setelah Arli mulai tenang dan meminum teh hangat, Rasti duduk di tepi ranjangnya.


​"Sebenarnya gimana ceritanya toh, Le? Kok bisa sampai banting setir ke jurang gitu?" tanya Rasti lembut, mengusap rambut putranya.


​Arli menarik napas dalam-dalam, matanya menerawang dengan tatapan ngeri. "Arli mengemudi pelan kok, Bu. Waktu itu sekitar jam tiga pagi. Jalanan sepi banget, peteng ndedet (𝐺𝑒𝑙𝑎𝑝 𝑔𝑢𝑙𝑖𝑡𝑎). Tapi pas di tikungan itu... tiba-tiba di tengah jalan muncul sosok tinggi besar, ireng, berbulu... dan punya tanduk kayak kambing gembel. Makhluk itu ngadep ke mobil Arli sambil melotot!"


​Rasti tertegun, lalu tersenyum tipis mencoba menenangkan. "Ah, kamu itu pasti ngantuk, Le. Kan semalam habis acara 𝐵𝑎𝑐ℎ𝑒𝑙𝑜𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑡𝑦 sama teman-temanmu to? Begadang semalaman. Itu pasti halusinasi kamu aja karena capek."


​Arli Wijaya menggeleng kuat-kuat. "Mboten, Bu! Arli mripatku melek bunder! (𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘, 𝐵𝑢! 𝑀𝑎𝑡𝑎 𝐴𝑟𝑙𝑖 𝑚𝑒𝑙𝑒𝑘 𝑙𝑒𝑏𝑎𝑟.) Arli melihat nyata banget! Makhluk itu kayak nungguin Arli!"


​Pak Gunawan Wijaya yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam, mengisap cangklongnya sedalam-dalamnya.


Di dalam hatinya ada riak kegelisahan, namun sebagai kepala keluarga, ia harus rasional. 

Lihat selengkapnya