Di dalam kamar utama, hawa dingin yang tak wajar mendadak turun, menusuk hingga ke tulang belulang. Tubuh Andin yang semula lemas tak berdaya di atas ranjang jati tiba-tiba menegang.
Matanya terbuka lebar, namun tidak ada lagi binar kelembutan di sana. Sepasang bola mata itu melotot, memerah, dan dipenuhi oleh amarah yang meletup-letup.
"Andin... kamu sudah sadar, Nduk?" tanya Ibu Retno dengan suara bergetar, mencoba mendekat.
Bukannya menjawab, Andin justru bangkit berdiri dengan gerakan patah-patah yang kaku, menyerupai boneka yang digerakkan oleh tali ghaib. Sudut bibirnya tertarik tinggi, menciptakan seringai lebar yang mengerikan.
Sebuah tawa melengking, melengking tinggi dan parau, keluar dari tenggorokannya. Suara itu bukan suara Andin. Itu adalah suara wanita lain, terdengar basah dan dipenuhi penderitaan.
"Hehehe... Hahaha! Keparat! Wong lanang jahanam!" (𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑗𝑎ℎ𝑎𝑛𝑎𝑚!) pekik Andin. Suaranya beralih menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Jokja yang sangat kental dan halus, kontras dengan logat Semarang yang biasa ia gunakan.
Restu Wicaksono yang cemas langsung melangkah maju untuk menenangkan adiknya. "Andin, kowe ngomong opo toh, Nduk? Iki Mas Restu..." (𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛, 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑎𝑝𝑎 𝑡𝑜ℎ, 𝑁𝑎𝑘? 𝐼𝑛𝑖 𝑀𝑎𝑠𝑚𝑢, 𝑅𝑒𝑠𝑡𝑢...)
"Arya! Kowe Arya, toh?! Lonte lanang!" ( 𝐴𝑟𝑦𝑎! 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝐴𝑟𝑦𝑎?! 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖!) teringis sosok di dalam tubuh Andin. Ia salah mengenali Restu Wicaksono sebagai Arya Wijaya karena kemiripan perawakan.
Dengan kecepatan yang tak masuk akal, Andin menerjang Restu Wicaksono. Jemarinya mencengkeram leher Restu Wicaksono dengan kekuatan yang luar biasa kencang untuk ukuran seorang wanita. Kuku-kukunya hampir menancap ke kulit leher Restu.
"Kowe sing wis mateni aku! Kowe sing mbuang aku seko payon kampus! Aku Sekar... aku ra bakal tenang sadurunge kowe mati, Arya!" (𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑛𝑢ℎ𝑘𝑢! 𝐾𝑎𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑡𝑎𝑝 𝑘𝑎𝑚𝑝𝑢𝑠! 𝐴𝑘𝑢 𝑆𝑒𝑘𝑎𝑟... 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑚𝑎𝑡𝑖, 𝐴𝑟𝑦𝑎!) jeritnya histeris, menuntut balas atas kematian tragisnya di atap sebuah universitas di Jokja.
"Astagfirullah! Iki dudu Andin, Pak! Iki kesurupan!" teriak Ibu Retno panik, menangis histeris di sudut kamar.
Pak Wicaksono yang sadar bahwa situasi ini sudah di luar nalar segera berbalik menatap pelayan setianya yang berdiri gemetar di ambang pintu. "Lengser! Ndang mrene! (𝑆𝑖𝑛𝑖 𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡!) Segera panggil Ki Ageng ke sini! Cepet, rasah kakehan mikir! (𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑢𝑠𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟!)
Lengser (40 tahun) mengangguk cepat dan langsung berlari kencang membelah jalanan desa. Rumah Ki Ageng, seorang paranormal aliran putih yang dihormati, memang tidak jauh dari situ.
Tidak butuh waktu lama, Ki Ageng tiba dengan jubah putihnya yang bersahaja. Dengan ketenangan seorang sepuh, ia mendekati Andin yang masih meronta dan mencakar-cakar udara.
Ki Ageng merapalkan ayat-ayat suci dan doa pagar ghaib, lalu menempelkan jempolnya yang telah diolesi minyak khusyuk ke dahi Andin.
"Metu kowe, sukmo sing kesasar! Iki dudu panggonanmu!" (𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑘𝑎𝑚𝑢, 𝑠𝑢𝑘𝑚𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑠𝑎𝑡! 𝐼𝑛𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡𝑚𝑢!) gertak Ki Ageng dengan suara berwibawa.
Tubuh Andin bergetar hebat, kejang sejenak, sebelum akhirnya mengeluarkan lenguhan panjang dan ambruk tak sadarkan diri di pelukan Restu Wicaksono. Sosok bernama Sekar itu telah dipaksa keluar.
Menjelang Magrib, ketika suasana rumah sudah mulai tenang, Ki Ageng berpamitan. Namun, tepat saat ia melangkah keluar dari halaman rumah Pak Wicaksono, langkah kaki Ki Ageng terhenti di bawah pohon beringin tua.
Di remang senja yang kemerahan, Ki Ageng melihat sekilas siluet hitam tinggi berbulu dengan kepala kambing-Halimun-sedang menatap tajam ke arah rumah Andin sebelum perlahan menyublim bersama angin malam.
Ki Ageng mengelus janggutnya, menyembunyikan kecurigaan yang mendalam. "Iki dudu kesurupan biasa. Ono sing ngirim barang jahat mrene," (𝐼𝑛𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑢𝑟𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎. 𝐴𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑟𝑖𝑚 𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎ℎ𝑎𝑡 𝑘𝑒 𝑠𝑖𝑛𝑖.) batinnya.
Ia menduga ada santet kuat yang mengincar Andin, terlebih lagi sosok Sekar tadi membawa dendam kesumat pada seorang pria bernama Arya Wijaya.
Namun, karena belum memiliki bukti yang cukup, Ki Ageng memilih untuk menyimpan perkara ini rapat-rapat demi menjaga ketenangan keluarga yang akan menggelar hajatan besar.