RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #5

Darah Pengantin

Bara api yang melahap janur kuning akhirnya berhasil dipadamkan setelah para pemuda bergotong-royong menyiramkan berember-ember air.


Keindahan janur yang tadinya kuning cerah melambangkan kesucian hajatan, kini berubah menjadi arang yang menghitam, compang-camping, dan menyebarkan bau sangit yang pekat ke udara.


​Ki Ageng berdiri diam di depan gerbang, menatap sisa-sisa arang janur itu dengan tatapan mata yang dalam dan sarat kecemasan. Ia menoleh ke arah Pak Wicaksono yang masih menyeka keringat di dahinya.


​"Pak Wicaksono... niki mboten sepele," (π‘ƒπ‘Žπ‘˜ π‘Šπ‘–π‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘œπ‘›π‘œ... 𝑖𝑛𝑖 π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑙𝑒,) bisik Ki Ageng, suaranya berat, memecah keheningan yang mencekam setelah kepanikan reda.


"Janur sing kobong tanpa sebab niki sejatine siji malapetaka. Iki pertanda buruk, perkoro sengkolo sing bakal nemplek nang pernikahane Andin karo Arli." (π½π‘Žπ‘›π‘’π‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘Žπ‘›π‘π‘Ž π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘ 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘π‘’π‘Žβ„Ž π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘˜π‘Ž. 𝐼𝑛𝑖 π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜, π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘ π‘–π‘Žπ‘™ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘šπ‘π‘’π‘™ π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘–π‘˜π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› 𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛 π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π΄π‘Ÿπ‘™π‘–.)


​Pak Wicaksono menghela napas panjang, mencoba menepis rasa gentar yang sempat menyelinap ke dadanya. "Ah, Ki Ageng... sampun sah meden-medeni. Niki cuma musibah biasa, mungkin enten lare alit sing dolanan korek api nopo wonten konsleting kabel dekorasi. Sing penting akad nikah sampun sah, bocah-bocah wis resmi."


(π΄β„Ž, 𝐾𝑖 𝐴𝑔𝑒𝑛𝑔... π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘˜π‘’π‘‘-π‘›π‘Žπ‘˜π‘’π‘‘π‘–. 𝐼𝑛𝑖 π‘π‘’π‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘ π‘–π‘π‘Žβ„Ž π‘π‘–π‘Žπ‘ π‘Ž, π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘˜π‘–π‘› π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘–π‘› π‘˜π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘˜ π‘Žπ‘π‘– π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘’ π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘˜π‘œπ‘Ÿπ‘ π‘™π‘’π‘‘π‘–π‘›π‘” kabel π‘‘π‘’π‘˜π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘–. π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘‘ π‘›π‘–π‘˜π‘Žβ„Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘ π‘Žβ„Ž, π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜-π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘Ÿπ‘’π‘ π‘šπ‘–,) jawab Pak Wicaksono, berusaha tegar meski batinnya mulai terusik.


​Sementara malam mulai merayap naik membungkus kota Semarang, jauh di sebuah wilayah perbukitan ghaib di Pemalang, Arya justru sedang memulai babak baru kegilaannya.


Di dalam sebuah gua keramat yang lembap dan berbau tanah mati, Arya duduk bersila telanjang dada di atas batu ceper.


​Mbah Suro berdiri di belakangnya, memegang batok kelapa berisi air kembang tujuh rupa yang telah dimantrai.


𝘚𝘳𝘒𝘱𝘺𝘒𝘬! 𝘚𝘳𝘒𝘱𝘺𝘒𝘬!


Mbah Suro mengguyur tubuh Arya perlahan sembari merapalkan mantra-mantra kuno pemanggil iblis dalam bahasa Jawa kuno yang mendengung mengerikan.


​Setelah air kembang habis, Mbah Suro mendekatkan wajahnya ke arah Arya. Ia menghirup asap kemenyan dalam-dalam, lalu meniupkannya tepat ke wajah Arya sembari merapalkan mantra pamungkas.


"Sir raga, sir sukma... lebuo ing impene, jupuk kesucianne!" (π‘†π‘–π‘“π‘Žπ‘‘ π‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘Ž, π‘ π‘–π‘“π‘Žπ‘‘ π‘ π‘’π‘˜π‘šπ‘Ž... π‘šπ‘Žπ‘ π‘’π‘˜π‘™π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’ π‘šπ‘–π‘šπ‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž, π‘Žπ‘šπ‘π‘–π‘™ π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘π‘–π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž!)


​Seketika, tubuh Arya menegang kaku, napasnya berhenti sejenak sebelum akhirnya kepalanya terkulai lemas. Sukmanya telah berhasil ditiupkan keluar, π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘œπ‘”π‘œ π‘ π‘’π‘˜π‘šπ‘Ž menembus batas dimensi ghaib untuk memasuki alam bawah sadar Andin.


Di atas sebuah batu di mulut gua, seekor burung hantu bermata tajam hinggap gagu, menjadi saksi isu ritual hitam yang terkutuk itu.


Lihat selengkapnya