RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #6

Malam Pengantin Yang Direnggut Paksa

Di tengah kekacauan itu, pintu depan terbuka. Lengser tiba kembali bersama Ki Ageng yang kebetulan memang belum tidur karena merasakan pergolakan aura mistis di desa mereka.


​Melihat Andin yang masih meracau dengan suara ghaib, Ki Ageng segera melangkah maju. Ia memejamkan mata, melafalkan mantra-mantra pelindung beraliran putih dengan cepat, lalu mengusap wajah Andin dari atas ke bawah menggunakan telapak tangannya yang hangat.


Seketika itu juga, racauan sosok Sekar terputus, dan tubuh Andin ambruk, pingsan tak sadarkan diri di atas ranjang.


​"Niki pendarahanipun sampun mandeg, tapi jin niki mboten murni kesurupan biasa, Pak Wicaksono," (𝐼𝑛𝑖 π‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žβ„Žπ‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘Ÿβ„Žπ‘’π‘›π‘‘π‘–, π‘‘π‘Žπ‘π‘– 𝑗𝑖𝑛 𝑖𝑛𝑖 π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘›π‘– π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘Ÿπ‘’π‘π‘Žπ‘› π‘π‘–π‘Žπ‘ π‘Ž, π‘ƒπ‘Žπ‘˜ π‘Šπ‘–π‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘œπ‘›π‘œ,) ujar Ki Ageng setelah memeriksa denyut nadi Andin.


"Andin niki diganggu roh halus sing dikirim mbe uwong. Tapi aku durung iso mestekne roh iki asale seko ngendi lan opo karepe. Sing sabar dhisik." (𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛 𝑖𝑛𝑖 π‘‘π‘–π‘”π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘’ π‘Ÿπ‘œβ„Ž β„Žπ‘Žπ‘™π‘’π‘  π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿπ‘–π‘š π‘œπ‘™π‘’β„Ž π‘ π‘’π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”. π‘‡π‘Žπ‘π‘– π‘Žπ‘˜π‘’ π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘Žπ‘ π‘‘π‘–π‘˜π‘Žπ‘› π‘Ÿπ‘œβ„Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘Žπ‘ π‘Žπ‘™π‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘Žπ‘π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘€π‘’π‘›π‘¦π‘Ž. π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘π‘Žπ‘Ÿ 𝑑𝑒𝑙𝑒.)


​Pak Wicaksono menjabat tangan Ki Ageng dengan penuh rasa terima kasih, lalu mengantarkannya hingga ke teras depan rumah.


Sementara di dalam kamar, Arli duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan istrinya yang dingin dengan raut wajah penuh kecemasan dan ketakutan akan keselamatan pernikahan mereka.


​Beberapa saat kemudian, Andin akhirnya perlahan membuka matanya. Kesadarannya kembali pulih. Ibu Retno yang berada di sampingnya segera menyodorkan segelas air putih hangat. "Ombe sek, Nduk..." (π‘€π‘–π‘›π‘’π‘š 𝑑𝑒𝑙𝑒, π‘π‘‘π‘’π‘˜...)


​Andin meminumnya sedikit, pandangannya tampak kebingungan menatap langit-langit kamar dan wajah-wajah cemas di sekitarnya.


"Mas Arli... Ibu... wonten nopo toh? (π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž π‘‘π‘œβ„Ž?) Kenapa kamar Andin rame-rame gini?" tanyanya polos, sama sekali tidak mengingat kejadian kesurupan maupun pendarahan yang baru saja menimpanya.


​Arli Wijaya mencoba tersenyum, mengusap dahi istrinya dengan lembut. "Ora popo, Nduk. (π‘‡π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘π‘Ž-π‘Žπ‘π‘Ž, π‘π‘Žπ‘˜.) Kamu tadi cuma pingsan, mungkin karena kecapekan mikir acara hajatan dari pagi."


​Ibu Retno pun menambahi, "Yo wis, saiki Andin karo Arli istirahat wae. Rasah mikir sing aneh-aneh." (π‘Œπ‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž, π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” 𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛 π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π΄π‘Ÿπ‘™π‘– π‘–π‘ π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘Žβ„Žπ‘Žπ‘‘ π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž. π‘‡π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘’π‘ π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘˜π‘–π‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘’β„Ž-π‘Žπ‘›π‘’β„Ž.)


Ibu Retno dan para pelayan kemudian meninggalkan kamar, membiarkan sepasang pengantin baru itu beristirahat, meski mereka semua menyembunyikan fakta bahwa Restu Wicaksono belum juga kembali membawa dokter.


​Tengah malam tiba, suasana rumah benar-benar hening. Di samping Arli yang telah tertidur lemas karena kelelahan batin, Andin kembali terlelap. Namun, jiwanya tidak beristirahat. Sukma Andin terseret kembali ke dalam jebakan ghaib yang dirancang oleh Arya Wijaya.


​Di dalam mimpinya, Andin kembali berada di tengah ladang tebu yang sangat luas dan pekat. Suara lenguhan Halimun terdengar mengerikan, mengejarnya dari belakang dengan beringas.


Andin berlari sekuat tenaga, membelah daun-daun tebu yang tajam, hingga matanya menangkap sebuah gubuk atau rumah kayu kuno yang berdiri terisolasi di tengah-tengah lancang tebu tersebut.


​Dengan keputusasaan yang memuncak, Andin berlari ke arah rumah itu. Ia menggedor-gedor pintu dan jendela kayu rumah tersebut dengan keras.


"Tulung! Sopo wae sing nang njero, tulunggg! Wonten setan nang mburiku!" (π‘‡π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘”! π‘†π‘–π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š, π‘‘π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘”! π΄π‘‘π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘π‘’π‘™π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘”π‘˜π‘’!) teriaknya histeris. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.

Lihat selengkapnya