Menjelang siang, suasana perpisahan haru menyelimuti kediaman Wicaksono. Andin memeluk erat ayah dan ibunya sebelum melangkah masuk ke dalam mobil sedan milik Arli.
Restu menyalakan mesin sepeda motornya, mengendarainya di depan untuk mengawal dan mengantarkan keberangkatan mobil adiknya sampai ke gerbang pintu perbatasan desa.
Setelah lambaian tangan terakhir di batas desa, Restu berbalik arah, sementara mobil Arli melesat membelah jalur antar kota menuju Pemalang.
Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Ketika mereka mulai memasuki area perhutanan lereng bukit di daerah Pemalang, sang surya telah tenggelam sepenuhnya.
Langit berubah menjadi hitam pekat, dan kabut pegunungan yang tebal mulai turun, mengurangi jarak pandang.
Dug! Dug! Sreeettt...
Setir mobil Arli mendadak terasa berat dan bergetar hebat. "Loh, kok mobilnya nggak enak gini?" gumam Arli panik. Ia meminggirkan mobilnya di tepi jalan hutan yang sunyi senyap, di bawah rindangnya pohon-pohon jati tua.
Arli turun dari mobil setelah menyalakan lampu hazard. Setelah memeriksa bagian bawah, ia mengetuk kaca jendela tempat Andin duduk. "Din, bannya kempes ini. Kamu tetep nang njero mobil wae ya, wes bengi, njobo adem lan peteng. Mas tak ngganti ban sek." (𝐷𝑖𝑛, 𝑏𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑝𝑒𝑠 𝑖𝑛𝑖. 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑜𝑏𝑖𝑙 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑦𝑎, 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚, 𝑑𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑑𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑔𝑒𝑙𝑎𝑝. 𝑀𝑎𝑠 𝑔𝑎𝑛𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑛 𝑑𝑢𝑙𝑢.)
Andin mengangguk, mengunci pintu dari dalam. Suasana di luar sangat sepi, hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun jati yang tertiup angin gunung.
Andin menatap kaca jendela di sampingnya. Di sela-sela remang lampu hazard yang berkedip kemerahan, matanya menangkap sesuatu di balik rimbunnya pepohonan hutan.
Sesosok makhluk hitam setinggi tiga meter berdiri diam di sana. Tanduk melingkarnya yang besar terlihat jelas di bawah temaram sinar bulan. Mata merah makhluk itu menembus kaca mobil, menatap lurus ke arah sukmanya. Halimun.
"Aaaaaakhhh!" Andin menjerit histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Di luar, Arli yang sedang memutar dongkrak terkejut setengah mati mendengar jeritan istrinya. Klek! Jarinya tergelincir dan terjepit besi dongkrak yang berat. "Aduh! Tanganku patah!" ringis Arli kesakitan, darah segar mulai mengucur dari ujung jarinya.
Mendengar suaminya mengaduh, Andin melupakan rasa takutnya. Ia membuka pintu mobil dan bergegas keluar. "Mas Arli! Astagfirullah, tangannya kamu berdarah, Mas!" Dengan cemas dan tangan gemetar, Andin merobek sedikit tisu dari tasnya, membalut luka di jari Arli dengan sangat hati-hati.
"Kamu tadi kenapa menjerit toh, Din? Ngaget-ngageti wae," tanya Arli sambil meringis menahan perih.
Andin menoleh cepat ke arah kegelapan hutan tempat makhluk itu berdiri tadi. Kosong. Sosok Halimun telah lenyap tak berbekas. Andin menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.
"M-mboten, Mas... wau Andin cuma kaget, sepertinya lihat hewan buas di balik pohon," jawab Andin berusaha menetralisir rasa takutnya di depan Arli.
Arli tersentak, lalu tersenyum tipis, mengusap pipi istrinya dengan tangannya yang tidak terluka. "Wis, ra popo. Kamu masuk mobil meneh kono. Mas tak cepet-cepet ngrampungke ban iki." (𝑆𝑢𝑑𝑎ℎ, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑝𝑎-𝑎𝑝𝑎. 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑚𝑜𝑏𝑖𝑙 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑛𝑎. 𝑀𝑎𝑠 𝑏𝑖𝑎𝑟 𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡-𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖.)
Setelah menyimpan dongkrak dan ban kempes ke dalam bagasi, Arli kembali ke kursi kemudi, dan perjalanan dilanjutkan menembus keheningan malam.