RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #9

Teror

Jeritan histeris Andin melengking keras mengguncang kesunyian rumah. π˜—π˜³π˜’π˜―π˜―π˜¨π˜¨! Gelas kaca di genggamannya terlepas, jatuh menghantam lantai semen dan hancur berkeping-keping.Β 


Sial bagi Andin, sebuah pecahan beling yang tajam dan besar melesat dan menancap cukup dalam di punggung kaki kanannya.


​"Aduh! Sakiit... Mas Arli, tolong!" Andin meringis kesakitan, terduduk di lantai sambil memegangi kakinya yang mulai mengucurkan darah merah segar.


​Arli yang sedang tertidur lelap seketika terlompat dari ranjang mendengar jeritan histeris istrinya yang disusul suara benda pecah. Dengan panik, ia berlari kencang tanpa alas kaki menuju dapur.Β 


"Andin! Ada apa, Din?"


​Jantung Arli berdegup kencang melihat Andin terduduk lemas di lantai dapur bersimbah darah dari kakinya yang tertusuk beling.Β 


Tanpa membuang waktu atau bertanya lebih banyak, Arli langsung berlutut, mengangkat tubuh Andin ke dalam gendongannya dengan raut wajah panik luar biasa, lalu membawanya kembali ke dalam kamar untuk direbahkan di atas ranjang.


​Tepat pada saat itu, pintu depan terbuka. Mbok Sira dan Pak Bagyo baru saja tiba untuk memulai pekerjaan pagi mereka.Β 


Mbok Sira yang berjalan menuju dapur seketika tersentak kaget melihat genangan darah dan serpihan gelas kaca yang berantakan di lantai.Β 


"Ya Allah! Iki ono perkoro opo toh? Kok mpecah beling nang kene?" (π‘Œπ‘Ž π΄π‘™π‘™π‘Žβ„Ž! 𝐼𝑛𝑖 π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘–β„Ž? πΎπ‘œπ‘˜ π‘šπ‘’π‘šπ‘’π‘π‘Žβ„Žπ‘˜π‘Žπ‘› 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖?), pekiknya kaget.


​Arli keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, berjalan menuju wastafel dapur. "Mbok Sira, Andin ketusuk pecahan gelas kaca. Saya mau ambil air dingin buat kompres lukanya."


​Mbok Sira dengan sigap langsung membantu. "Oalah, nggih Den, nggih. Kersane kulo sing nyiapake kain kompres kaliyan obat merah, Den Arli mbalik wae nggo njogani Mbak Andin." (π‘‚π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž, π‘–π‘¦π‘Ž 𝐷𝑒𝑛, π‘–π‘¦π‘Ž. π΅π‘–π‘Žπ‘Ÿ π‘ π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘–π‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘Žπ‘–π‘› π‘˜π‘œπ‘šπ‘π‘Ÿπ‘’π‘  π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘œπ‘π‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žβ„Ž, 𝐷𝑒𝑛 π΄π‘Ÿπ‘™π‘– π‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘™π‘– π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘”π‘Ž π‘€π‘π‘Žπ‘˜ 𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛.)Β 


Sementara Mbok Sira sibuk dengan kain kompres, Pak Bagyo segera mengambil sapu dan serokan untuk membersihkan beling-beling tajam yang berserakan di lantai dapur agar tidak mencelakai yang lain.


​Di dalam kamar, setelah luka di kaki Andin dibersihkan, diberi obat merah, dan dibalut rapi dengan perban oleh Arli, suasana kamar menjadi sedikit lebih tenang. Arli duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Andin yang masih bergetar.


​"Sebenarnya tadi ada apa toh, Din? Kok bisa sampai jatuh gelasnya?" tanya Arli lembut, menatap mata istrinya penuh selidik.

Lihat selengkapnya