RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #10

Jerat Mistis

Sinar mentari pagi di perbukitan Pemalang masih enggan menembus kabut tebal yang menyelimuti halaman rumah joglo modern milik Arli. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu pekat dan menindas. Andin berdiri mematung di depan sebuah kalender dinding bergambar pemandangan alam tahun 2002.

​Di tangannya, sebatang spidol merah bergoyang gemetar. Dengan napas yang berat, ia menarik garis silang ke sekian kalinya di atas deretan angka-angka kalender tersebut.

Setiap coretan merah itu terasa seperti goresan pisau yang menguliti hatinya sendiri.

​Sudah empat belas hari. Dua minggu penuh pasca akad nikah sakral di Semarang, dan perdarahan aneh yang ia sebut sebagai haid itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Setiap pagi, ia selalu mendapati noda merah pekat yang disertai rasa perih membakar di area intimnya.

​Andin melangkah mundur, lalu duduk termenung di tepi ranjang dengan wajah murung. Air matanya hampir menetes menahan beban batin yang teramat sangat. Ia merasa begitu berdosa dan kasihan pada Arli.

Suaminya yang begitu lembut, sabar, dan penuh cinta, hingga detik ini belum pernah ia ijinkan untuk menyentuh tubuhnya layaknya sepasang suami-istri yang sah. Malam pertama mereka telah berubah menjadi rangkaian teror malam yang tiada habisnya.

Klek.

​Suara gagang pintu kamar yang ditekan membuat Andin tersentak. Ia buru-buru menghapus sudut matanya yang basah dan menoleh ke belakang.

Arli keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat rapi. Ia mengenakan seragam dinas harian pegawai negeri sipil berwarna cokelat yang licin disetrika, lengkap dengan sepatu pantofel hitam yang mengkilap dan wewangian maskulin yang menguar segar.

Arli memang bekerja sebagai staf di Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Pemalang.

​Melihat istrinya yang sedang duduk di ruang tengah menatapnya, Arli menghentikan langkah sejenak. Guratan lelah di wajahnya langsung digantikan oleh senyuman manis yang tulus. Ia melangkah menghampiri Andin, lalu berlutut di hadapannya sambil menggenggam kedua tangan istrinya.

​"Din, Mas badhe mangkat kerja dhisik nggih," (𝐷𝑖𝑛, 𝑀𝑎𝑠 𝑚𝑎𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑑𝑢𝑙𝑢 𝑦𝑎) bisik Arli lembut.

​Andin mengernyitkan dahi, melirik jam dinding yang baru menunjuk ke angka setengah enam pagi. "Loh, Mas... kok esuk-esuk banget wis mangkat? Mboten koyo biasane toh?" (𝐿𝑜ℎ, 𝑀𝑎𝑠... 𝑘𝑜𝑘 𝑝𝑎𝑔𝑖-𝑝𝑎𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑒𝑡 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡? 𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑎𝑛?)

​Arli mengusap punggung tangan Andin dengan ibu jarinya, mencoba memberikan ketenangan. "Iki ono rapat penting banget nang Pemda, Din. Kabeh staf dikon teko luwih awal mbe bupati. Dadine Mas kudu susut-susut budhal saiki." (𝐼𝑛𝑖 𝑎𝑑𝑎 𝑟𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑒𝑡 𝑑𝑖 𝑃𝑒𝑚𝑑𝑎, 𝐷𝑖𝑛. 𝑆𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑠𝑡𝑎𝑓 𝑑𝑖𝑠𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑖. 𝑀𝑎𝑘𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑀𝑎𝑠 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑏𝑢𝑟𝑢-𝑏𝑢𝑟𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔.)

​Andin mengangguk paham, meski ada rasa kecewa yang menyelusup di dadanya. "Yowis nek ngono, Mas. Tapi sarapan dhisik nggih? Wau aku kaliyan Mbok Sira wis masak sega goreng nang meja makan." (𝑌𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑡𝑢, 𝑀𝑎𝑠. 𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑠𝑎𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑑𝑢𝑙𝑢 𝑦𝑎? 𝑇𝑎𝑑𝑖 𝑎𝑘𝑢 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑀𝑏𝑜𝑘 𝑆𝑖𝑟𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑠𝑎𝑘 𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑔𝑜𝑟𝑒𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑚𝑒𝑗𝑎 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛.)

Lihat selengkapnya