Sementara itu, di pusat kota, gedung Pemerintahan Daerah Kabupaten Pemalang mulai ramai oleh kedatangan para pegawai. Arli baru saja melangkah memasuki ruang kantor PNS tempatnya bekerja setelah menyelesaikan masa cuti pernikahannya.
βBegitu sosok Arli terlihat di ambang pintu, suasana kantor yang semula tenang langsung riuh oleh sorak-sorai dan godaan dari teman-teman sejawatnya.
β"Wahhh! Iki dia penganten barune wis teko!" (ππβββ! πΌππ πππ πππππππ‘ππ ππππ’ππ¦π π π’ππβ πππ‘πππ!) seru salah seorang rekan kerjanya dengan keras, memicu tawa yang lain.
β"Gimana, Li? Kok ketoke lesu men? Kurang turu yo mergo lembur wengi? Hahaha!" (πΊπππππ, πΏπ? πΎππ ππππβππ‘ππππ¦π πππ π’ ππππππ‘? πΎπ’ππππ π‘πππ’π π¦π ππππππ πππππ’π πππππ π‘πππ’π ? π»πβπβπ!) timpal yang lain sembari menyenggol lengan Arli.
βArli hanya bisa memaksakan sebuah senyuman tipis dan membalas lambaian tangan mereka dengan canggung. Di dalam lubuk hatinya, ia harus berjuang keras menyembunyikan gundah gulana yang membuat otaknya ruwet setengah mati.
Alih-alih menikmati indahnya masa-masa pengantin baru, batinnya justru disiksa oleh kenyataan bahwa istrinya sakit misterius dan tak kunjung selesai haid sejak hari pertama mereka sah.
βArli berjalan menuju meja kerjanya dan meletakkan tas kerjanya. Belum sempat ia duduk dengan tenang, dua orang teman dekatnya, Herman dan Ayu, langsung merangsek maju dan berdiri mengitari mejanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang besar.
β"Sik, sik, Li... Cerito dhisik toh karo dewe," (ππππππ‘ππ, π πππππ‘ππ, πΏπ... πΆππππ‘π ππ’ππ’ dong π πππ πππ‘π) goda Ayu sambil menopang dagunya di atas sekat meja kerja Arli.
"Dewe kan penasaran banget. Andin kuwi kan cah Semarang sing ayu banget, awake lencir kuning, sifate alus pisan. Kowe iki beruntung banget iso entuk bojo koyo dheweke." (πΎππ‘π πππ πππππ ππππ ππππππ‘. π΄ππππ ππ‘π’ πππ ππππ ππππππππ π¦πππ ππππ‘ππ ππππππ‘, π‘π’ππ’βππ¦π πππππ ππ’πππ‘ππ¦π ππ’ππππ πππππ ππ‘, π ππππ‘ππ¦π βπππ’π ππππ. πΎπππ’ πππ ππππ’ππ‘π’ππ ππππππ‘ πππ π πππππ‘ ππ π‘ππ π πππππ‘π πππ.)