Di tempat lain, di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, Andin berjalan dengan langkah gontai. Ia mengenakan selembar kerudung kain kain murah berwarna gelap untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya agar tidak dikenali orang.
Ia berjalan mengekor di belakang langkah kaki Mbok Sira yang tampak sangat hafal jalur tersebut.
βMereka berdua berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin menanjak, membelah wilayah perbukitan yang terisolasi di lereng gunung.
Kendaraan bermotor sama sekali tidak bisa masuk ke jalur makadam yang sempit, berbatu, dan diapit oleh jurang dangkal ini.
βNapas Andin sudah tersengal-sengal, peluh bercucuran membasahi dahi dan lehernya yang dibalut jilbab. Rasa linu di paha dan kakinya yang belum sembuh benar akibat pecahan beling memperparah rasa lelahnya.
"Mbok... sekedap, Mbok... kulo ngelih banget. Omah Mbah Suro kuwi jek tebih mboten toh?" (ππππ... π πππππ‘ππ, ππππ... π ππ¦π ππππβ ππππππ‘. π π’ππβ πππβ ππ’ππ ππ‘π’ πππ πβ πππ’β π‘ππππ?) tanya Andin parau, bersandar pada sebuah batang pohon.
βMbok Sira berbalik, lalu menunjuk menggunakan jari telunjuknya ke arah sebuah lembah kecil di depan mereka. "Niku loh, Mbak... sampun ketok. Omah kayu sing wonten ing tengah-tengah ladang tebu sing jembar kae." (πΌπ‘π’ ππβ, ππππ... π π’ππβ ππππβππ‘ππ. π π’ππβ πππ¦π’ π¦πππ πππ ππ π‘ππππβ-π‘ππππβ ππππππ π‘πππ’ π¦πππ ππ’ππ ππ‘π’.)
βAndin mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk Mbok Sira. Seketika itu juga, jantung Andin seakan berhenti berdetak. Seluruh aliran darahnya mendadak membeku sempurna.
βDi depan sana, sebuah gubuk kayu kuno berasitektur aneh berdiri tegak, dikelilingi oleh hamparan batang-batang tebu yang tinggi menjulang, rimbun, dan pekat.
Suasananya begitu sunyi, mencekam, dan memancarkan aura mistis yang sangat kuat, persis seperti apa yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi buruknya selama dua minggu ini.
β"M-Mbok..." bisik Andin, suaranya bergetar hebat karena dicekam rasa horor yang luar biasa. "Omah kuwi..."
βTanpa mendengarkan bisikan lirih Andin, Mbok Sira terus berjalan maju membelah lorong ladang tebu hingga akhirnya mereka berdua tiba tepat di depan pelataran gubuk kayu tersebut. Bau menyengat kemenyan bercampur aroma darah anyir langsung menusuk indra penciuman mereka.