RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #13

Cerita Arli

Matahari tepat berada di atas kepala, membakar aspal di sekitar kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang. Jam dinding di koridor kantor PNS menunjukkan waktu makan siang.


Herman berdiri di dekat lobi, matanya celingukan ke sana kemari mencari keberadaan seseorang. Begitu ia menangkap punggung laki-laki muda berseragam cokelat yang melangkah keluar menuju gerbang belakang, Herman langsung berseru.


​"Li! Arli! Enteni aku, jare arep cerito! (𝑇𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒 π‘Žπ‘˜π‘’, π‘˜π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘π‘Ž!)" teriak Herman sambil berlari kecil, napasnya sedikit terengah-engah begitu berhasil menyusul langkah sahabatnya. Ia langsung menepuk bahu Arli, menagih janji yang diucapkan tadi pagi.


​Arli menoleh, lalu mengulas senyum tipis melihat tingkah temannya yang tak sabaran. "Yowis, ayo. Dewe mangan awan nang warunge Mbak Murni wae, langganan dewe sing nang pinggir sawah," (π‘Œπ‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž, π‘Žπ‘¦π‘œ. πΎπ‘–π‘‘π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘–π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘”π‘›π‘¦π‘Ž π‘€π‘π‘Žπ‘˜ π‘€π‘’π‘Ÿπ‘›π‘– π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž, π‘™π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘›π‘Žπ‘› π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘–π‘Ÿ π‘ π‘Žπ‘€π‘Žβ„Ž) ajak Arli.


​Herman mengangguk setuju, namun telunjuknya kembali mengarah ke wajah Arli. "Awas loh yo, Li. Ojo mblenjani janji. Aku wis penasaran ket mau esuk. Perjaka matang koyo aku iki butuh wejangan," (π΄π‘€π‘Žπ‘  π‘™π‘œβ„Ž π‘¦π‘Ž, 𝐿𝑖. π½π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘–π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘Ÿ π‘—π‘Žπ‘›π‘—π‘–. π΄π‘˜π‘’ π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘ π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘‘π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘”π‘–. π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘˜π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘Žπ‘˜π‘’ 𝑖𝑛𝑖 π‘π‘’π‘‘π‘’β„Ž π‘€π‘’π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘›) canda Herman.


Ia memang berencana menikahi Laras, kekasihnya yang berada di kampung halamannya di Semarang, begitu tabungannya dirasa sudah cukup.


​Mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak di belakang gedung Pemda, menuju sebuah warung makan sederhana beratap rumbia yang terletak persis di pinggiran hamparan persawahan hijau yang luas.


Warung Mbak Murni siang itu tampak sangat ramai. Beberapa kuli bangunan yang berlumuran semen dan karyawan dari pabrik gula sekitar sedang duduk mengitari meja panjang, memesan menu makan siang mereka.


Mbak Murni sendiri terlihat sangat kewalahan melayani pembeli. Beruntung ada Wawan, keponakannya yang baru berusia 23 tahun, yang dengan cekatan membantu menyajikan piring-piring makanan dan gelas-gelas minuman ke meja pelanggan.


​Saat Arli dan Herman mengambil tempat duduk di sudut meja yang menghadap langsung ke panorama sawah yang asri, Mbak Murni menyempatkan diri menoleh dan langsung melempar godaan manis.


"Loh, Den Arli wis mlebu kerja toh? Piye, Den, mantep mboten wengi pertamane? Penganten baru kok malah ketok kuru, hahaha!" (πΏπ‘œβ„Ž, 𝐷𝑒𝑛 π΄π‘Ÿπ‘™π‘– π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘šπ‘Žπ‘ π‘’π‘˜ π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž π‘ π‘–β„Ž? πΊπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž, 𝐷𝑒𝑛, π‘šπ‘Žπ‘›π‘‘π‘Žπ‘ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž? π‘ƒπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘‘π‘–π‘› π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘˜π‘œπ‘˜ π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘™π‘–β„Žπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ , β„Žπ‘Žβ„Žπ‘Žβ„Žπ‘Ž!)


​Arli hanya bisa tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, menahan rasa sesak yang mendadak menyerang dadanya.


Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan memesan dua porsi nasi rames dengan lauk ayam goreng dan sambal terasi. Tidak lama kemudian, Wawan datang melangkah dengan sopan, meletakkan dua piring pesanan mereka di atas meja kayu.


​"Monggo, Mas. Badhe pesen unjukan nopo?" (π‘†π‘–π‘™π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›, π‘€π‘Žπ‘ . π‘€π‘Žπ‘’ π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘› π‘šπ‘–π‘›π‘’π‘šπ‘Žπ‘› π‘Žπ‘π‘Ž?) tanya Wawan ramah.


​"Es teh manis loro, Wan," (𝐸𝑠 π‘‘π‘’β„Ž π‘šπ‘Žπ‘›π‘–π‘  π‘‘π‘’π‘Ž, π‘Šπ‘Žπ‘›) jawab Arli singkat, yang langsung diangguk oleh pemuda itu sebelum kembali bergegas ke area dapur.

Lihat selengkapnya