RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #14

Kebohongan Andin

Waktu terus bergulir, dan sang surya kembali menenggelamkan dirinya di balik perbukitan Pemalang. Hari mulai meredup, menyisakan bias warna jingga keunguan yang suram di langit saat Andin berjalan kaki seorang diri menyusuri jalan setapak menanjak menuju rumahnya di atas bukit.


​Mbok Sira sudah langsung berpamitan pulang ke rumah aslinya di perkampungan bawah begitu mereka berdua melangkah keluar dari area ladang tebu milik Mbah Suro siang tadi.


Di sepanjang perjalanan yang sepi ini, pikiran Andin berkecamuk hebat, dipenuhi oleh bayang-bayang ucapan mengerikan sang dukun sepuh.


​"Kowe kuwi kudu diruwat lewat ritual khusus, Nduk... Kersane getih duso sing nempel nang awakmu iki iso resik lan setan sing ngetutke kowe soko Semarang iso lungo," (πΎπ‘Žπ‘šπ‘’ 𝑖𝑑𝑒 β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘’π‘€π‘Žπ‘‘ π‘™π‘’π‘€π‘Žπ‘‘ π‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ π‘˜β„Žπ‘’π‘ π‘’π‘ , π‘π‘‘π‘’π‘˜... π΅π‘–π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žβ„Ž π‘‘π‘œπ‘ π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘šπ‘π‘’π‘™ 𝑑𝑖 π‘‘π‘’π‘π‘’β„Žπ‘šπ‘’ 𝑖𝑛𝑖 π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘–π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘šπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘†π‘’π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘–) begitu suara parau Mbah Suro terus terngiang-ngiang ghaib di dalam telinga Andin.


​Andin juga mengingat dengan jelas bagaimana dukun tua itu membakar sejumput kemenyan merah, merapalkan mantra-mantra dalam bahasa Jawa kuno yang dingin, lalu meniup ubun-ubun kepala Andin sebanyak tiga kali.


Mbah Suro berdalih bahwa tiupan itu berfungsi ghaib untuk mengusir roh halus jahat yang hinggap di dalam tubuhnya. Namun, alih-alih merasa tenang dan sembuh, perasaan Andin justru semakin tidak enak.


Dadanya terasa sesak, mual, dan batinnya dirayapi kecemasan yang tidak karuan yang membuatnya ingin menangis tanpa sebab.


​Dari kejauhan, kelap-kelip lampu teras rumah joglonya sudah mulai terlihat di atas bukit. Andin mempercepat langkah kakinya, napasnya memburu gila.


Ia dirundung ketakutan jika Arli ternyata sudah pulang lebih dulu dari kantor Pemda. Ia tidak ingin suaminya curiga atau bertanya-tanya dari mana ia pergi seharian ini.


​Grrr... Grrrr...


​Langkah kaki Andin mendadak terhenti sempurna. Dari arah rimbunnya semak-semak belukar di tepi jalan yang gelap, terdengar suara geraman berat yang sangat mengerikan, seperti suara dengus napas seekor binatang buas raksasa yang sedang kelaparan.


Bulu kuduk Andin langsung berdiri tegak, merinding diserang rasa sedingin es.


​Andin menyapu pandangannya ke sekeliling kegelapan hutan bukit dengan mata membelalak ketakutan. Ia memeluk tubuhnya sendiri, lalu buru-buru melangkah lebar untuk berlari.


​Sreeettt!


​Tepat di belokan jalan depan pelataran rumahnya, sesosok bayangan hitam raksasa setinggi tiga meter mendadak muncul dan berdiri tegak menghadang jalannya. Sosok berbulu lebat dengan sepasang tanduk melingkar besar milik seekor kambing jantan ghaib. Halimun.


Lihat selengkapnya