RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #16

Malam Petaka

16. Malam Petaka

Andin tersentak hebat, seluruh dunianya seakan runtuh melihat kehadiran mantan dosennya itu secara ghaib di dalam rumah barunya.

Tubuhnya gemetar hebat, ia terus melangkah mundur dalam kepanikan gila hingga akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas sofa ruang tamu dengan napas yang memburu silang.

"Mas Arya... Kok kamu bisa ada di sini? Andin nyaris tak percaya. Ia menatap laki-laki jangkung di hadapannya dengan perasaan heran sekaligus takut.

​Arya tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan sangat perlahan, seringai gila penuh nafsu kebinatangan terukir jelas di wajahnya.

Matanya bergerak liar, menatap lapar ke arah tubuh Andin yang hanya dibalut oleh selembar gaun tidur tipis berwarna putih gading yang mengekspos lekuk tubuh indahnya secara sempurna.

​Arya berdiri tepat di hadapan Andin yang meringkuk ketakutan di sofa. Ia membungkukkan badannya, lalu merapalkan serangkaian mantra ghaib kuno pemikat jiwa dengan suara desis yang dingin tepat di depan wajah Andin, lalu meniup wajah gadis itu sebanyak satu kali.

​Fuuuuhhh...

​Seketika itu juga, tatapan mata Andin yang semula dipenuhi oleh ketakutan gila mendadak berubah menjadi kosong, sayu, dan kehilangan seluruh kesadaran akal sehatnya.

Efek sihir ghaib pengikat sukma yang dilakukan oleh Mbah Suro lewat media tiupan ubun-ubun tadi siang kini telah aktif sepenuhnya di dalam jiwa Andin.

Kedatangan Arya malam ini adalah babak pamungkas untuk melengkapi jalinan sihir tersebut, mengunci kesadaran batin Andin agar mau menyerahkan kesuciannya dengan sukarela tanpa ada perlawanan.

​Melihat reaksi magis tersebut, seringai Arya semakin melebar penuh kemenangan gila. Ia menatap Andin dengan pandangan penuh nafsu syahwat yang membakar.

Perlahan, Andin mengulas sebuah senyuman manis yang sangat asing—sebuah senyuman penuh gairah tunduk yang membalas tatapan berahi Arya tanpa ada sisa penolakan dari masa lalunya.

​Arya merendahkan tubuhnya, meraih jemari tangan Andin lalu menciumnya dengan lembut sebelum akhirnya merangsek maju dan mencium bibir Andin secara brutal dan penuh nafsu kebinatangan di atas sofa.

Andin sama sekali tidak memberontak; ia justru mengalungkan kedua lengannya di leher Arya, membalas setiap lumatan kasar pria itu dengan desahan-desahan pasrah yang ghaib saat tangan kotor Arya mulai melucuti lembar demi lembar pakaian tidur satin putih gading miliknya.

Lihat selengkapnya