RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #17

Pangutan Sukma

Bau manis tebu yang membusuk menyengat indra penciuman Andin. Dalam kegelapan mimpi yang ganjil, ia mendapati dirinya kembali berlarian di tengah-tengah kebun tebu yang rimbun dan menjulang tinggi.


Daun-daun tebu yang tajam bagai sembilu menggores kulit lengan dan wajahnya, namun Andin tidak peduli.


Di belakangnya, kabut tebal bergerak lambat, lambat namun pasti. Dari balik kabut itu, sesosok bayangan hitam raksasaβ€”Halimunβ€”mengejarnya dengan derap langkah yang menggetarkan tanah.


​"Tulung! Sopo wae... tulung aku!" (π‘‡π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘”! π‘†π‘–π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž... π‘‘π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘’!) jerit Andin gila, suaranya parau dan tercekat di tenggorokan.


​Brak!


​Kakinya tersangkut akar jati, membuat tubuhnya tersungkur keras di atas tanah yang becek. Air mata ketakutan meleleh, bercampur dengan peluh dan debu tanah. Andin merangkak mundur, napasnya memburu gila seiring kabut hitam yang semakin mendekat.


​"Andin."


​Sebuah suara bariton yang sangat tenang memecah keheningan yang mencekam. Andin menghentikan tangisnya, perlahan mengangkat wajahnya yang pucat.


Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat seorang laki-laki berpakaian kemeja rapi berdiri tepat di hadapannya, mengulurkan tangan sambil melemparkan senyuman manis yang begitu familier.


​Mas Arya.


​"M-Mas Arya? Kok kamu...," bisik Andin, mundur teratur dengan kedua lutut yang gemetar hebat. Rasa heran dan ketakutan ghaib mendadak menyatu, mencengkeram dadanya hingga sesak.


​Arya tidak menjawab. Senyumannya melebar, namun sorot matanya mendadak berubah kosong dan dingin seketika. Tanpa diduga, kedua tangan Arya bergerak naik, mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuat.


π˜’π˜³π˜¦π˜¬... 𝘬𝘳𝘦𝘬... 𝘴𝘳𝘦𝘦𝘦𝘡!


Dengan satu sentakan biadab, Arya mencabut kepalanya sendiri hingga putus dari leher. Darah hitam kental menyembur, dan dalam sekejap mata, kepala manusia itu bermetamorfosis menjadi kepala kambing hitam berbulu lebat dengan sepasang tanduk melingkar yang berlumuran darah segar.


Arya menyodorkan kepala binatang busuk yang matanya menyala merah itu tepat di hadapan wajah Andin.


​"Aaaaaaaaakhhhhhhh!"


​Andin menjerit kencang sekuat tenaga, memecah keheningan seisi rumah.

Lihat selengkapnya