RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #18

Mencari Pertolongan

Setelah mendapatkan ijin resmi dari kepala dinas Pemda Pemalang dengan dalih urusan keluarga yang mendesak, Arli langsung memacu mobil sedannya menuju kota Semarang. 


Tidak sendirian, Herman duduk di kursi kemudi samping, dengan setia menemani sahabatnya menembus jalur antar kota yang panjang.


​Setibanya mereka di kota lumpia, Semarang, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Arli memilih untuk terlebih dahulu mendatangi kediaman orang tua kandungnya di sebuah desa yang asri. 


Kedatangan Arli dan Herman yang mendadak tanpa pemberitahuan tentu saja disambut dengan senyuman sumringah dan rasa bahagia yang luar biasa oleh Ibu Rasti dan Pak Gunawan.


​Namun, setelah pelukan hangat terlepas, Ibu Rasti mengedarkan pandangannya ke arah luar pintu pagar dengan wajah keheranan. 


"Loh, Arli... anakku sing bagus. Kok kowe mrene dewekan toh, Le? (𝐿𝑜ℎ, 𝐴𝑟𝑙𝑖... 𝑎𝑛𝑎𝑘𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑔𝑎𝑛𝑡𝑒𝑛𝑔. 𝐾𝑜𝑘 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑘𝑒𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑖ℎ?) Istrimu... menantuku Andin kok nggak diajak kesini? Padahal Ibu tuh kangen banget sama Andin. Kenapa nggak diajak?"


​Arli mengembuskan napas berat, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius. Ia memegang jemari ibunya. "Ibu... Bapak... mari kita duduk di ruang tengah dulu. Wonten perkoro wigati sing badhe Arli ceritoni," (𝐴𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑢 Arli 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛) ujar Arli dengan nada suara yang bergetar.


​Di ruang tengah yang luas, setelah Herman juga ikut duduk, Arli akhirnya menumpahkan seluruh beban rahasia yang ia pendam selama dua minggu ini. 


Ia menceritakan tentang kondisi Andin yang mengalami perdarahan haid aneh tanpa henti hingga membuat tubuhnya kurus, tentang jeritan-jeritannya di tengah malam, hingga kejadian ganjil lainnya setibanya mereka di Pemalang. 


​Ibu Rasti seketika membekap mulutnya, matanya berkaca-kaca menahan rasa syok yang luar biasa, sementara Pak Gunawan mendengarkan dengan rahang mengeras penuh rasa khawatir yang mendalam terhadap nasib menantu mereka.


​"Dadi... kedatanganku nang Semarang iki sebenerne nggo nemoni Ki Ageng, Pak, Bu. Aku pengen njaluk tulung piyambake nggo mriksa perkoro ghaib opo sing sakjane ngganggu Andin," (𝐽𝑎𝑑𝑖... 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑘𝑢 𝑘𝑒 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑖 𝐾𝑖 𝐴𝑔𝑒𝑛𝑔, 𝑃𝑎𝑘, 𝐵𝑢. 𝐴𝑘𝑢 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑚𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑡𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑔ℎ𝑎𝑖𝑏 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢 𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛) aku Arli jujur.


​Pak Gunawan mengangguk tegas, memahami gawatnya situasi. Ia berdiri dan melangkah ke arah pintu belakang, lalu memanggil abdi setianya, seorang tukang kebun paruh baya bernama Tarjo yang dikenal memiliki keberanian dan sedikit pengetahuan tentang adat ghaib. 


"Tarjo! Mrene dhisik, Jo! Kowe terno Arli karo Herman menyang omahe Ki Ageng nang perkampungan cedhak omahe Andin saiki sisan!" (𝑇𝑎𝑟𝑗𝑜! 𝐾𝑒 𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑑𝑢𝑙𝑢, 𝐽𝑜! 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝐴𝑟𝑙𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝐻𝑒𝑟𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐾𝑖 𝐴𝑔𝑒𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎!) perintah Pak Gunawan.


​"Nggih, Pak Gunawan. Sendika dawuh," (𝐼𝑦𝑎, 𝑃𝑎𝑘 𝐺𝑢𝑛𝑎𝑤𝑎𝑛. 𝑆𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑖𝑎𝑝 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑛𝑡𝑎ℎ) sahut Tarjo dengan patuh.


​Selepas berkumandangnya azan Magrib yang syahdu, Arli, Herman, dan Tarjo berpamitan. Mereka segera melesat membelah jalanan Semarang yang mulai merayap malam menuju rumah Ki Ageng. 


Di teras rumah, Ibu Rasti berdiri menatap kepergian mobil anaknya dengan air mata yang menetes, hatinya dirundung kecemasan seorang ibu terhadap keselamatan nyawa Arli dan Andin. 


Pak Gunawan merangkul pundak istrinya, mencoba menenangkan. "Wis, Bu... ndonga wae, mugi-mugi Gusti Allah ngajani dalan sing padhang nggo anak-anak dewe." (𝑆𝑢𝑑𝑎ℎ, 𝐵𝑢... 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑜𝑎 𝑠𝑎𝑗𝑎, 𝑠𝑒𝑚𝑜𝑔𝑎 𝐺𝑢𝑠𝑡𝑖 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑘𝑖𝑡𝑎.)


.................................. 


​Perjalanan malam itu menuju rumah Ki Ageng berubah menjadi sangat dramatis dan memompa adrenalin. Jalur alternatif yang ditunjukkan oleh Tarjo mengharuskan mobil sedan Arli membelah wilayah perkebunan kelapa sawit tua yang sepi, gelap gulita, dan berbau tanah basah.


​𝘉𝘢𝘵𝘵𝘵! 𝘉𝘢𝘵𝘵... 𝘎𝘳𝘳𝘳𝘳... 𝘱𝘴𝘴𝘴𝘴𝘩𝘩𝘩...

Lihat selengkapnya