RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #19

Labirin Kebun Kelapa Sawit

Jarum speedometer mobil sedan milik Arli bergoyang konstan di angka empat puluh kilometer per jam. Di luar jendela, batang-batang pohon kelapa sawit yang kokoh dan berpelepah tajam berbaris rapat, mencuat ghaib dari kegelapan tanah yang basah.


Sudah lebih dari tiga puluh menit Arli menginjak pedal gas, namun pemandangan di kanan dan kiri jalan tanah itu sama sekali tidak berubah.


​Herman yang duduk di kursi penumpang depan mulai gelisah. Matanya bergerak liar menatap keluar, mengamati sebuah pohon sawit dengan batang bengkok yang seingatnya sudah mereka lewati sebanyak empat kali. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.


​"Li... Arli... Sik, sik, mandeg dhisik. (π΅π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ, π‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ, π‘π‘’π‘Ÿβ„Žπ‘’π‘›π‘‘π‘– 𝑑𝑒𝑙𝑒.) Aku ngerasa dewe iki kesasar, Li. Lah kok ket ket mau awake mung muter-muter nang panggonan sing podo?" (πΏπ‘Žβ„Ž π‘˜π‘œπ‘˜ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘‘π‘Žπ‘‘π‘– π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿ-π‘šπ‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿ 𝑑𝑖 π‘‘π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž?) bisik Herman dengan suara yang bergetar menahan panik.


​Arli mencengkeram lingkar kemudi lebih erat. Sorot lampu utama mobilnya tampak samar menembus kabut tipis yang mulai turun. Ia menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan.


"Iyo, Man. Pikiranku yo podo. Ketoke dalan iki ra ono pucuke, mung muter terus," (πΌπ‘¦π‘Ž, π‘€π‘Žπ‘›. π‘ƒπ‘–π‘˜π‘–π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘˜π‘’ π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž. π‘†π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž π‘—π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› 𝑖𝑛𝑖 π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘’π‘—π‘’π‘›π‘”π‘›π‘¦π‘Ž, π‘π‘’π‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ-π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ ) sahut Arli dengan napas yang mulai memburu.


​Ketakutan yang mendera membuat Herman nekat membalikkan badannya ke belakang. Di kursi penumpang belakang, Tarjo tampak tenang dengan mata terpejam rapat.


Kedua tangannya memegang erat sebuah bungkusan kain mori kecil berisi garam mantra. Mulut pria paruh baya itu komat-kamit, merapalkan ayat-ayat suci pembenteng diri dari gangguan ghaib.


​"Kang Tarjo! Iki sejatine ono opo toh, Kang? Dewe kok ra tekan-tekan nang omahe Ki Ageng?" (πΎπ‘Žπ‘›π‘” π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘—π‘œ! 𝐼𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘¦π‘Ž π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘–β„Ž, πΎπ‘Žπ‘›π‘”? πΎπ‘–π‘‘π‘Ž π‘˜π‘œπ‘˜ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘Žπ‘–-π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘Žπ‘– 𝑑𝑖 π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Žβ„Žπ‘›π‘¦π‘Ž 𝐾𝑖 𝐴𝑔𝑒𝑛𝑔?) cecar Herman dengan wajah pucat pasi.


​Tarjo membuka matanya perlahan, sorot matanya tampak begitu tegang. "Den Herman, Den Arli... iki wis dudu perkoro kesasar biasa. Ono sing sengojo nggawe mripat lan pikiran dewe peteng, (π΄π‘‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘—π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘ π‘šπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘”π‘’π‘™π‘Žπ‘) supados dewe mboten saged sowan nang daleme Ki Ageng. Aura ireng sing ngetutke soko Pemalang wis mulai nutup dalan iki," bisik Tarjo dengan suara berat.


​Kepanikan seketika menjalar di dada Arli. Kakinya refleks hendak menginjak pedal rem, namun Tarjo langsung berseru dengan nada tegas yang menggelegar di dalam kabin mobil.


"Ojo mandeg, Den Arli! Tetep mlaku, ojo pisan-pisan ngesotke rem! (π‘‡π‘’π‘‘π‘Žπ‘ π‘—π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›, π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘–-π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘–π‘›π‘—π‘Žπ‘˜ π‘Ÿπ‘’π‘š!) Nek mobil iki mandeg, awake dewe bakal mbebayani!"


​Arli membatalkan niatnya, kembali menginjak gas. Mobil sedan itu terus melaju membelah kegelapan hutan sawit yang semakin mencekam.


Namun ganjil, udara di dalam mobil mendadak berubah menjadi sangat dingin sedingin es, hingga hembusan napas mereka mengeluarkan uap putih tipis.

Lihat selengkapnya