RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #21

Ritual Terakhir

Di waktu yang bersamaan, di belahan bumi lain, gubuk kayu milik Mbah Suro yang terletak jauh di tengah-tengah hamparan perkebunan tebu Pemalang tampak diselimuti oleh aura mistis yang sangat kental dan menyesakkan dada. Malam telah mencapai puncaknya, menciptakan keheningan yang purba dan penuh dosa.


​Di dalam kamar ritual yang pengap, Mbah Suro duduk bersila di atas lantai tanah di hadapan sebuah cawan kuningan besar berisi dupa kemenyan yang mengepulkan asap putih tebal berbau harum busuk.


Di tangan kanannya, seekor ayam cemani jantan berkulit hitam legam dipegang dengan posisi terbalik. Dengan satu gerakan cepat menggunakan pisau kecil, Mbah Suro menyembelih leher ayam tersebut, lalu mengucurkan darah hitam kentalnya tepat di atas potongan kepala kambing hitam yang telah terpenggal siang tadi.


​"Khusussipun... sukmo lan ragane Andin... manunggala marang panguwasane ilmu ireng... Kologondo..." rapal Mbah Suro dengan suara parau yang mendesis ghaib.


​Dukun tua itu kemudian mengambil selembar foto Andin yang ia curi dari Mbok Sira. Dengan jemari yang berlumuran darah ayam cemani, ia mengotori wajah Andin di foto tersebut, lalu meletakkannya tepat di hadapan mata kepala kambing hitam.


​Di atas ranjang kayu di sampingnya, Arya Wijaya tampak terbaring kaku dengan mata terpejam. Sekujur tubuhnya ditutupi oleh kelopak bunga mawar merah dan melati yang melambangkan ritual penyerahan sukma.


Selama ini, dalam setiap ritual Kologondo yang dilakukan, lelembutan atau sukma asli milik Arya akan menyatu sepenuhnya ke dalam raga Halimun, sang iblis kambing hitam.


Artinya, setiap sentuhan, kepuasan, dan kebiadaban yang dilakukan oleh Arya terhadap raga Andin di alam ghaib, akan dirasakan langsung secara fisik dan batin oleh Halimun.


​Dan malam ini... adalah malam ketiga, malam terakhir sekaligus puncak penyempurnaan dari sihir pengikat sukma Kologondo. Jika ritual jahanam ini berhasil dituntaskan sebelum fajar menyingsing, maka sukma asli milik Andin akan selamanya terperangkap di dalam ranjang gaib alam hitam, menjadi budak pengantin abadi bagi Halimun untuk selamanya.


​𝘎𝘳𝘳𝘳𝘳𝘳𝘳... 𝘙𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘨𝘩!


​Sesosok bayangan hitam raksasa bermata merah—Halimun—mendadak termaterialisasi di sudut kamar ritual, meraung-raung dengan suara kebinatangan yang dahsyat, mengepalkan tinjunya seolah sudah tidak sabar lagi untuk kembali menjamah raga polos Andin malam ini.


​Mbah Suro menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memejamkan mata, lalu mengacungkan sebilah keris pusaka berlukis tulisan kuno yang berkarat. Dengan satu sentakan tegas, ia mengarahkan ujung keris itu tepat ke arah dada Arya yang sedang terbaring.


​"Manunggal! Sukmo duso, dadi siji! (𝑀𝑎𝑛𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙! 𝑆𝑢𝑘𝑚𝑎 𝑑𝑜𝑠𝑎, 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑡𝑢!) Budhal!" (𝐵𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡!) teriak Mbah Suro gila.


​Seketika itu juga, raga Halimun tersedot masuk ke dalam raga Arya, dan dalam kedipan mata, tubuh Arya menguap ghaib menjadi gumpalan asap putih pekat bercampur hitam yang melesat keluar menembus atap gubuk tebu, terbang membelah langit Pemalang menuju ke arah rumah bukit tempat Andin berada.


​Di rumah perbukitan Pemalang, suasana kamar tidur utama terasa begitu dingin mencekam.


Raga Andin masih terbaring telentang kaku di tengah ranjang besar dengan gaun tidur satin putih gading yang koyak, berada di bawah kendali roh halus kiriman yang merasukinya sejak sore. Di luar, Pak Bagyo masih mendengkur gila di atas kursi rotan akibat pengaruh sirep ghaib.


​𝘞𝘶𝘶𝘶𝘶𝘴𝘩𝘩𝘩!

Lihat selengkapnya