RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #23

Keserakahan Sang Iblis

Di belahan kota lain, sore hari di kediaman mewah milik Pak Gunawan Wijaya di Semarang berubah menjadi sangat suram. Langit di luar tampak mendung kelabu, seolah-olah mengisyaratkan sebuah malapetaka besar yang akan segera menumpahkan darah.


​Pak Gunawan dan Ibu Rasti sedang duduk berdua di serambi depan rumah yang megah, ditemani dua cangkir teh hangat yang sudah mulai mendingin. Guratan kecemasan terlukis jelas di wajah keriput Ibu Rasti; sejak keberangkatan Arli semalam, hatinya tidak pernah bisa tenang.


​"Pak... atiku rasane ra kepenak banget soko wingi. Arli kok belum ngekei kabar babar blas nggih? Opo deweke wis ketemu karo Ki Ageng?" (π‘ƒπ‘Žπ‘˜... β„Žπ‘Žπ‘‘π‘–π‘˜π‘’ π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘’π‘›π‘Žπ‘˜ π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘‘ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘˜π‘’π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘›. π΄π‘Ÿπ‘™π‘– π‘˜π‘œπ‘˜ π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿπ‘– π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘Ÿ π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘¦π‘Ž? π΄π‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘šπ‘’ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝐾𝑖 𝐴𝑔𝑒𝑛𝑔?) tanya Ibu Rasti sembari meremas sapu tangan di pangkuannya.


​Pak Gunawan yang sedang memegang cangklong rokok kayunya mengembuskan asap putih perlahan, mencoba bersikap tegap sebagai kepala keluarga. "Wis toh, Buk... kowe rasah kakehan kuwatir karo anakmu. Arli kuwi wis gede lan didampingi mbe Herman karo Tarjo. Aku yakin saiki deweke wis aman nang padepokane Ki Ageng," (π‘†π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘™π‘Žβ„Ž, π΅π‘’π‘˜... π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘’π‘ π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘˜β„Žπ‘Žπ‘€π‘Žπ‘‘π‘–π‘Ÿ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜π‘šπ‘’. π΄π‘Ÿπ‘™π‘– 𝑖𝑑𝑒 π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘šπ‘π‘–π‘›π‘”π‘– π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π»π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘› π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘—π‘œ. π΄π‘˜π‘’ π‘¦π‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘π‘œπ‘˜π‘Žπ‘› π‘›π‘¦π‘Ž 𝐾𝑖 𝐴𝑔𝑒𝑛𝑔) hibur Pak Gunawan mencoba menenangkan sang istri.


​Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang dipacu kencang membelah kesunyian pelataran rumah, diikuti oleh suara decitan ban yang bergesek kasar dengan paving blok. Ibu Rasti tersentak berdiri dari kursinya dengan mata berbinar penuh harap. "Loh! Iku mbo mulyani Arli wis bali, Pak!" (πΏπ‘œβ„Ž! 𝐼𝑑𝑒 π‘π‘Žπ‘ π‘‘π‘– π΄π‘Ÿπ‘™π‘– π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘”, π‘ƒπ‘Žπ‘˜!) serunya bergegas melangkah menuju tangga teras.


​Namun, senyuman di wajah Ibu Rasti seketika membeku. Begitu pintu mobil sedan hitam itu dibuka dengan sentakan kasar, sesosok pria berwajah dingin dan bertubuh tegap melangkah keluar dengan gaya yang teramat angkuh dan sombong.


​Arya Wijaya.


​Arya membanting pintu mobilnya hingga mengeluarkan suara dentuman yang keras, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga teras dengan tatapan mata yang penuh kilat amarah dan keserakahan yang tidak lagi disembunyikan.


​Ibu Rasti yang mencoba menjaga adab kesopanan sebagai ibu tiri tetap memaksakan sebuah senyuman hangat, meskipun batinnya mendadak didera firasat buruk ghaib. "Loh, Arya... kowe toh, Le? Ibu seneng banget kowe gelem bali nang Semarang..." (πΏπ‘œβ„Ž, π΄π‘Ÿπ‘¦π‘Ž... π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘‘π‘œβ„Ž, 𝐿𝑒? 𝐼𝑏𝑒 π‘ π‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘‘ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘šπ‘Žπ‘’ π‘π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘’ π‘†π‘’π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”...)


​"Rasah kakehan cangkem! Endi bapak?!" (π‘‡π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘’π‘ π‘Žβ„Ž π‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž! π‘€π‘Žπ‘›π‘Ž π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘˜?!) potong Arya dengan nada suara yang sangat kasar dan tidak sopan, matanya melotot liar menatap wajah ibu tirinya seolah-olah wanita itu adalah seorang musuh bebuyutan. Arya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah megah peninggalan keluarga Wijaya dengan tatapan penuh nafsu kepemilikan. "Di mana Gunawan Wijaya?!"


​"Arya! Jaga lambemu!" (π΄π‘Ÿπ‘¦π‘Ž! π½π‘Žπ‘”π‘Ž π‘šπ‘’π‘™π‘’π‘‘π‘šπ‘’!)


​Sebuah suara menggelegar penuh amarah datang dari arah pintu utama. Pak Gunawan melangkah keluar dengan wajah yang memerah padam karena emosi yang tersulut, tangannya mencengkeram cangklong kayu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Lihat selengkapnya