RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #24

Teror Malam Jum'at

Malam jumat kliwon merayap sunyi. Di bawah naungan langit Pemalang yang pekat tanpa rembulan, rumah joglo milik Arli dan Andin tampak sepi seolah tidak berpenghuni.


Lampu teras belakang temaram, mempertegas bayangan pepohonan yang meliuk-liuk ditiup angin malam. Namun, di dalam kamar utama, suasana justru terasa teramat ganjil dan mencekam.


​Dari balik pintu yang tertutup rapat, sayup-sayup terdengar suara desahan berat dan erangan kenikmatan yang memecah keheningan.


Di tengah ranjang pengantin, Andin terbaring telentang. Ia mengenakan gaun tidur putih tipis dengan tubuh yang meliuk-liuk.


Kedua kakinya mengangkang lebar secara tidak wajar, sementara jemari tangannya meremas sprei putih dengan sangat kencang hingga kain itu berkerut kusut.


Sesekali kepalanya mendongak ke atas, matanya terpejam rapat dengan bibir yang terus mendesah-desah penuh syahwat.


​Di alam ghaib yang tak kasat mata, sukma Andin yang kini terperangkap di atas ranjang terkutuk sedang dipaksa melayani nafsu binatang milik Halimun. Jiwanya telah dimanipulasi sepenuhnya oleh sihir Kologondo Mbah Suro.


Dalam pandangan ghaib Andin yang telah kehilangan kesadaran kemanusiaannya, sosok monster bertanduk yang sedang menindihnya itu adalah Arli, suaminya sendiri. Itulah mengapa ia menyerahkan dirinya dengan pasrah, bergumul mesra dalam ilusi persetubuhan yang mematikan.


​Tepat pada puncak pergumulan ghaib itu, sorot lampu mobil sedan milik Arli membelah pelataran rumah. Mobil itu berhenti dengan sentakan pelan.


Arli turun dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Herman dan Tarjo yang setia menemani perjalanannya kembali dari Semarang.


Tidak hanya mereka, dari pintu belakang, turun pula Ki Ageng bersama putranya, Yusuf—seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki kemampuan indigo dan mata batin yang teramat tajam.


​Begitu kakinya menginjak tanah pelataran, Ki Ageng langsung menghentikan langkahnya. Hidungnya mengendus udara malam yang mendadak berbau anyir busuk bercampur kemenyan.


​"Astaghfirullahaladzim... Le, omahmu iki wis dikepung pager ghaib sing teramat reget, (𝐿𝑒, 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ𝑚𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑝𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑔ℎ𝑎𝑖𝑏 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑘𝑜𝑡𝑜𝑟)" bisik Ki Ageng dengan raut wajah yang berubah sangat serius. Tangannya mulai memutar tasbih dengan tempo cepat.


​Yusuf memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya perlahan. Sorot mata pemuda indigo itu bergetar. "Bener, Bah. Nang sekeliling awake dewe, akeh banget mripat sing podo ngawasi soko balik wit-witan, (𝐷𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑘𝑖𝑡𝑎, 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑚𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑎-𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑤𝑎𝑠𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘 𝑝𝑒𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛𝑎𝑛)" timpal Yusuf dengan suara rendah, menunjuk ke arah kegelapan halaman depan.


​Belum sempat mereka menapakkan kaki di anak tangga teras, hawa dingin yang mencekam seketika menusuk tulang.


𝘞𝘶𝘶𝘶𝘴𝘩𝘩𝘩!


Dari balik kabut tipis yang mendadak muncul, sesosok makhluk berbaju mori putih ikat kepala—pocong—muncul berdiri tegak menghadang jalan mereka.


Tidak hanya satu, dalam hitungan detik, ghaib berwujud sekitar sepuluh pocong berbaris rapat dengan wajah menghitam membusuk dan mata melotot tanpa kedip.


​"Aaaaaakh! Setannn, Li! Pocong, Li! Akeh banget!" jerit Herman gila, langsung bersembunyi di balik punggung Tarjo dengan tubuh gemetar hebat.

Lihat selengkapnya