RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #25

Pencarian Buhul Santet

Ki Ageng menepuk pundak Arli, mencoba memberikan ketenangan. "Wis, Le, rasah nangis terus. Saiki, jupuk raga bojomu, gowo metu nang ruang tengah," (π‘†π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž, 𝐿𝑒, π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘’π‘ π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘–π‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ . π‘†π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”, π‘Žπ‘šπ‘π‘–π‘™ π‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘Ž π‘–π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘’, π‘π‘Žπ‘€π‘Ž π‘˜π‘’π‘™π‘’π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘’ π‘Ÿπ‘’π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žβ„Ž) perintah Ki Ageng. Ia kemudian menoleh ke arah Yusuf dan Tarjo. "Suf, Tarjo... ndang cepet siapke klasa lan perlengkapan zikir nang ruang tengah. Awake dewe kudu nahan energi ireng iki kersane ra ngrusak ragane Andin luwih jero," (π‘†π‘’π‘”π‘’π‘Ÿπ‘Ž π‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘ π‘ π‘–π‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘–π‘˜π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘’π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘› π‘§π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿ 𝑑𝑖 π‘Ÿπ‘’π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žβ„Ž. πΎπ‘–π‘‘π‘Ž β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘šπ‘’π‘›π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘”π‘– β„Žπ‘–π‘‘π‘Žπ‘š 𝑖𝑛𝑖 π‘π‘–π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žπ‘˜ π‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž 𝐴𝑛𝑑𝑖𝑛 π‘™π‘’π‘π‘–β„Ž π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š) lanjut Ki Ageng.


​Arli dengan hati-hati membopong tubuh Andin yang terasa sangat dinginβ€”sedingin es batuβ€”membawanya keluar dari kamar. Raga Andin kemudian dibaringkan di atas tikar pandan yang telah digelar di ruang tengah, pakaiannya pun telah diganti oleh kain jarik dan dress panjang putih bersih untuk menjaga kesucian ritual.


​Ki Ageng, Yusuf, Tarjo, dan Arli duduk melingkari tubuh Andin. Mereka mulai memejamkan mata, memutar tasbih, dan melantunkan ayat-ayat zikir penolak bala dengan suara yang bergemuruh rendah memenuhi ruangan. Herman memilih duduk agak jauh di sudut ruangan, memeluk lututnya dengan wajah tegang.


β€‹π˜šπ˜³π˜¦π˜¦π˜΅π˜΅π˜΅...


​Mendadak, di tengah kekhusyukan zikir, raga Andin yang semula terbujur kaku langsung bangkit, duduk tegak dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Sepasang matanya terbuka lebar, melotot gila ke arah Arli yang sempat merasa lega karena mengira istrinya telah tersadar.


​"Ndin... kowe wis tangi, Ndin? Iki aku, Ndin..." (𝑁𝑑𝑖𝑛... π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘›, 𝑁𝑑𝑖𝑛? 𝐼𝑛𝑖 π‘Žπ‘˜π‘’, 𝑁𝑑𝑖𝑛...) bisik Arli mencoba meraih tangan istrinya.


​Namun, Andin tidak menjawab. Raga Andin mendadak merangkak cepat bagai seekor binatang buas, jalannya mendesis. Tanpa sempat Arli menghindar, kedua tangan kurus Andin melesat maju dan langsung mencengkeram erat leher Arli dengan kekuatan yang luar biasa besar, mencekiknya hingga napas Arli terhenti.


​"Grrrrrrr... Kowe kudu mati nang tanganku! Raaaaagh!"


​Suara yang keluar dari tenggorokan Andin berubah total menjadi suara ghaib yang berat, serak, dan menggelegar penuh kebencianβ€”suara iblis Halimun yang merasuki raganya untuk menghabisi nyawa Arli secara fisik.


​"A-Andin... sadar, Ndin... iki bojomu... Uhukk!" rintih Arli dengan wajah yang mulai membiru, lidahnya menjulur menahan sakit.

Lihat selengkapnya