Sinar matahari pagi yang cerah kembali menyinari rumah joglo Arli di Pemalang. Namun, kecerahan alam itu sama sekali tidak mampu mengikis awan kelabu yang menyelimuti ruang makan.
βArli tampak duduk di tepi ranjang kamar, memegang semangkuk bubur ayam hangat buatan Mbok Sira. Ia mencoba menyuapkan sesendok bubur ke bibir istrinya. "Ndin... ayo madang dhisik, Ndin. Sithik wae, kersane awakmu nduwe tenaga..." (π΄ππππ... ππ¦π πππππ ππ’ππ’, ππππ. πππππππ‘ π πππ, ππππ πππππππ’ ππ’ππ¦π π‘πππππ...) bujuk Arli dengan suara yang teramat lembut dan dipenuhi kesedihan yang mendalam.
βNamun, Andin tetap bergeming. Gadis itu duduk bersandar pada bantal, tatapan matanya kosong melompong menembus dinding tanpa ada sedikit pun binar kehidupan. Ia tidak berkedip, tidak merespon, layaknya sesosok mayat hidup yang raganya berada di dunia namun jiwanya telah diculik entah ke mana.
βDari ambang pintu kamar, Pak Bagyo dan Mbok Sira yang kakinya masih diperban akibat luka melepuh kemarin tampak berdiri menyaksikan pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca, merasakan kesedihan yang teramat mendalam bagi kebahagiaan majikan mereka yang hancur dalam sekejap.
βSementara itu, di teras depan rumah joglo, Ki Ageng, Yusuf, Tarjo, dan Herman tampak duduk melingkari meja kayu, terlibat dalam obrolan yang sangat serius mengenai kelanjutan penyelamatan jiwa Andin.
Tidak lama kemudian, Mbok Sira bersama Pak Bagyo datang membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng hangat yang baru matang.
β"Monggo, dipun unjuk kopine, Ki Ageng, Mas Yusuf, lan bapak-bapak kabeh," (πππππππ, ππππππ’π ππππππ¦π, πΎπ π΄ππππ, πππ ππ’π π’π, πππ πππππ-πππππ π πππ’π) ucap Mbok Sira dengan sangat sopan sembari menyajikan hidangan tersebut di atas meja.
β"Matur nuwun sanget, Mbok, Pak Bagyo. Sampun ngrepoti," (ππππππ πππ πβ ππππ¦ππ, ππππ, πππ π΅πππ¦π. ππ’ππβ πππππππ‘πππ) sahut Ki Ageng dengan senyuman ramah yang meneduhkan.