Di rumah joglo Pemalang, Arli sedang berdiri mematung di samping meja telepon ruang tengah. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja menerima panggilan telepon darurat dari rumah orang tuanya di Semarang.
Suara di seberang sana adalah suara Ibu Rasti yang berbicara sambil menangis terisak-isak, menceritakan kejadian brutal yang dilakukan oleh Arya tiga hari yang lalu.
โArli mencengkeram gagang telepon dengan sangat kuat, wajahnya dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. "Ibu... Ibu karo Bapak ra popo toh nang Semarang? Pripun kahanane Ibu kaliyan Bapak saiki? (๐ต๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐ผ๐๐ข ๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐?)" tanya Arli dengan nada suara yang bergetar.
โDari balik sambungan telepon, Ibu Rasti mencoba menyeka air matanya meski suaranya masih terdengar parau. "Ibu karo bapakmu wis rodo mendingan, Le. (๐ผ๐๐ข ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข ๐ ๐ข๐๐โ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐ฟ๐.) Bapakmu wingi sempet kena serangan jantung mergo kelakuane Arya sing kurang ajar, tapi saiki wis dirawat dokter. Sing tak kuwatirke kuwi justru kowe karo Andin nang Pemalang, Le..." ratap Ibu Rasti pilu.
โIbu Rasti kemudian bercerita dengan detail yang merinding. Ia mengatakan bahwa tiga hari lalu, saat ia nyaris pingsan di lantai koridor akibat didorong secara kasar oleh Arya sewaktu mencoba menyelamatkan surat-surat penting keluarga, ia sempat mendengar Arya berbicara sendiri dengan nada gila.
Arya sesumbar bahwa seluruh surat sertifikat tanah dan pabrik gula milik Pak Gunawan akan ia serahkan langsung kepada Mbah Suroโseorang dukun ilmu hitam di Pemalang yang selama ini telah membantunya untuk mencelakai dan menghancurkan pernikahan Arli dan Andin.
โ๐๐ฆ๐จ!
โArli seketika tersentak kaget, matanya membelalak gila menahan amarah yang membakar dadanya. Teka-teki tentang siapa dalang di balik penderitaan istrinya selama ini akhirnya terjawab lunas. Ternyata abang kandungnya sendiri, manusia berhati iblis itu, yang tega mengirimkan santet Kologondo.
โ"Ibu... wis, Ibu rasah kuwatir meneh nggih. Aku nang kene wis gowo Ki Ageng seko Semarang nggo nambani Andin. Insya Allah kabeh bakal aman," (๐ด๐๐ข ๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐โ ๐๐๐๐๐๐ค๐ ๐พ๐ ๐ด๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐ก ๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐ ๐ด๐๐๐๐) ucap Arli mencoba menenangkan ibunya.
Namun, Arli memilih untuk merahasiakan rapat-rapat tentang rencana ritual gila ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฐ๐ด๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ฐ yang akan ia lakukan malam nanti. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Ibu Rasti yang bisa berakibat fatal bagi kesehatan jantung ayahnya.
โSetelah panggilan telepon diputuskan, Arli meletakkan gagang telepon perlahan. Ia berdiri termenung, menatap lantai dengan pikiran yang berkecamuk gila. Mengapa Arya, kakak kandung berlainan ibu itu, begitu tega ingin mencelakai dirinya dan Andin sampai sehancur ini?
Arli sangat yakin, ini semua bukan sekadar perkara perebutan harta warisan tanah atau pabrik gula belaka. Pasti ada dendam masa lalu atau rasa iri dengki yang teramat busuk yang dipendam oleh Arya seumur hidupnya.
โArli membalikkan badannya, menoleh ke arah pintu kamar utama yang terbuka lebar. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas kondisi Andin yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
Gadis itu tampak seperti sesosok mayat hidup. Raga fisiknya ada di sana, namun tatapan matanya kosong melompong menatap lurus ke depan tanpa ekspresi, tanpa jiwa. Sebuah pemandangan yang selalu berhasil mengiris-iris hati Arli setiap detiknya.
โ.............................
โMalam jumat kliwon berikutnya akhirnya tiba, membawa atmosfer horor yang seratus kali lipat lebih pekat dan mencekam dari sebelumnya.