RANJANG GAIB : RITUAL KOLOGONDO

DW AMOUR
Chapter #28

Perebutan Sukma

Begitu mantra pelepas sukma selesai diheningkan oleh Ki Ageng, kesadaran Arli terlempar hebat melintasi lorong waktu yang gelap gulita. Rasanya seperti tersedot ke dalam pusaran angin es yang memekakkan telinga.


Dalam sekejap mata, Arli mendapati dirinya sudah berdiri tegak di atas tanah berdebu yang tandus dan berlubang—versi ghaib dari halaman belakang rumahnya sendiri.


​Di bawah pijakan kakinya, terlihat dua lubang tanah menganga. Di dasar liang itu, Arli bisa melihat raga fisiknya dan raga fisik Andin terbaring kaku di dalam peti mati.


Saat menoleh ke tepi lubang versi alam manusia, mata batin Arli menangkap pemandangan yang menyayat hati: Bu Rasti dan Pak Gunawan sedang menangis terisak-isak, sementara Bu Retno dan Pak Wicaksono masih histeris meratapi raga anak-anak mereka.


Di dekat mereka, Ki Ageng dan Yusuf duduk bersila dengan mata terpejam khusyuk, memancarkan sinar putih tipis yang membentengi area liang lahat dari serbuan lelembutan luar.


​Arli sadar betul, waktunya tidak banyak. Semburat fajar subuh akan menjadi batas mutlak hidup dan matinya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arli memutar badannya dan berlari kencang menuju rumah joglo miliknya yang berdiri di alam ghaib.


​Suasana di alam ghaib terasa teramat sangat sesak. Udara di sekitarnya pekat oleh aroma belerang, darah busuk, dan asap kemenyan yang membaur jadi satu.


Langit di atasnya berwarna merah kehitaman tanpa bintang. Saat melangkah mendekati bangunan rumah, mata Arli terbelalak gila. Ada puluhan—bahkan ratusan—makhluk ghaib bertubuh belang, berwajah hancur, dan bermata merah yang sedang berkeliaran mengitari rumahnya.


Mereka adalah lelembutan liar yang tertarik oleh pesona ritual Kologondo. Arli memeluk erat bungkusan kain jarik kecil di saku celananya—hadiah benteng ghaib dari Ki Ageng—sambil berusaha setengah mati agar kehadirannya tidak terdeteksi oleh para iblis tersebut.


​Fokus Arli cuma satu: temukan sukma Andin dan bawa pulang.


​Arli memutar langkah menuju pintu belakang area dapur untuk menghindari kerumunan jin di pelataran depan. Namun, saat tangannya meraih gagang pintu kayu dapur, pintu itu terkunci rapat secara ghaib.


​𝘊𝘳𝘦𝘦𝘬𝘬!


​"Bajingan! Omahku dewe kok malih ditutup rapat ngene!" (𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ𝑘𝑢 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑘𝑜𝑘 𝑚𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑡𝑢𝑝 𝑟𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑛𝑖!) umpat Arli berbisik.


​Arli mulai menghantamkan bahunya ke daun pintu. 𝘉𝘳𝘢𝘢𝘬𝘬! 𝘉𝘳𝘢𝘢𝘬𝘬! Suara gaduh benturan itu menggema kencang di tengah keheningan alam jin.


Keputusan nekat itu seketika memancing perhatian. Tiga sesosok jin bertubuh tinggi besar dengan tanduk melengkung di kepalanya menoleh patah-patah ke arah sumber suara.


Sepasang mata merah mereka menyala buas saat menyadari ada sukma manusia telanjang tanpa benteng tebal yang masuk ke wilayah mereka.


​"Grrrrr... Ono mangsa anyar! Menungso!" (𝐴𝑑𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑔𝑠𝑎 𝑏𝑎𝑟𝑢! 𝑀𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎!) erang jin bertanduk itu dengan suara menggelegar, mulai melangkah cepat menghampiri Arli dengan cakar terentang.

Lihat selengkapnya