Ranjang Opa & Keranjang Oma

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

Wasiat Terakhir

Hujan baru saja reda ketika iring-iringan pelayat meninggalkan pemakaman.

Tanah merah masih basah. Bau tanah bercampur bunga kamboja memenuhi udara. Di bawah langit yang mulai menggelap, dua gundukan makam berdampingan tampak begitu sunyi.

Di atas batu nisan pertama tertulis nama Opa.

Di sebelahnya, nama Oma.

Mereka meninggal hanya berselang tiga hari.

Tak ada yang benar-benar bisa menjelaskan bagaimana dua orang yang selama puluhan tahun selalu tampak sehat itu pergi begitu cepat. Dokter menyebut usia. Tetangga menyebut takdir. Namun bagi keluarga, kehilangan itu terasa janggal. Seolah salah satu tidak pernah berniat hidup tanpa yang lain.

"Sudahlah. Kita pulang."

Suara Pak Surya, anak sulung Opa dan Oma, memecah kesunyian.

Satu per satu anggota keluarga berjalan menuju mobil masing-masing. Ada yang masih mengusap air mata, ada pula yang mulai membicarakan urusan pembagian warisan.

Rumah.

Sawah.

Kebun.

Tabungan.

Tak seorang pun menyangka bahwa warisan yang paling berharga justru bukan semuanya itu.

Rumah tua keluarga berdiri di ujung desa.

Halamannya luas, dipagari pohon mangga dan sawo yang usianya mungkin sama tua dengan rumah itu sendiri. Cat dinding telah kusam dimakan hujan dan panas. Gentingnya mulai menghitam. Meski kosong selama beberapa hari sejak Opa dan Oma dirawat di rumah sakit, rumah itu tetap tampak... terawat.

Tidak ada daun kering berserakan.

Tidak ada debu tebal.

Seolah masih ada seseorang yang membersihkannya setiap pagi.

"Aneh," gumam Raka, cucu tertua.

"Apa?"

"Rumah kosong begini, kok bersih?"

Ibunya menoleh sekilas.

"Mungkin tetangga yang membantu."

Raka mengangguk pelan, meski hatinya tak sepenuhnya percaya.

Begitu pintu utama dibuka, aroma kayu tua bercampur minyak kayu putih langsung menyambut mereka. Bau yang begitu akrab bagi setiap cucu yang pernah menghabiskan liburan di rumah itu.

Tak ada yang berubah.

Jam dinding masih menggantung.

Radio tua masih berada di atas lemari.

Foto keluarga masih memenuhi ruang tamu.

Seakan pemilik rumah hanya sedang pergi sebentar.

"Semua berkumpul di ruang tengah."

Pak Surya mengambil sebuah amplop cokelat yang sedari tadi dibawanya.

"Ini pesan terakhir Ayah."

Ruangan mendadak hening.

Semua duduk melingkar.

Tak terdengar suara selain detak jam dinding yang berdetak lambat.

Tik...

Tak...

Tik...

Pak Surya membuka amplop itu dengan hati-hati.

"Ayah bilang surat ini baru boleh dibaca setelah pemakaman selesai."

Ia menarik selembar kertas yang sudah menguning.

Tulisan tangan Opa masih terlihat jelas.

Lihat selengkapnya