Ranjang Opa & Keranjang Oma

Vitri Dwi Mantik
Chapter #2

Dua Larangan

Pagi di rumah tua itu datang bersama kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan.

Ayam jantan sudah berkokok sejak subuh, tetapi suasana rumah tetap terasa muram. Sisa-sisa karangan bunga dari pemakaman masih tersusun di teras. Bau dupa yang semalam dinyalakan belum benar-benar hilang.

Di ruang tengah, seluruh anggota keluarga kembali berkumpul.

Hari ini bukan lagi tentang berkabung.

Hari ini tentang memutuskan nasib rumah warisan.

Pak Surya duduk di kursi rotan yang dahulu selalu ditempati Opa. Di hadapannya terbentang beberapa map berisi sertifikat tanah, surat kepemilikan rumah, dan buku tabungan.

"Kita selesaikan satu per satu," katanya. "Rumah ini bagaimana?"

"Aku rasa dijual saja."

Usul itu datang dari Beni tanpa ragu.

"Rumah sebesar ini kosong juga percuma. Uangnya bisa dibagi rata."

Beberapa orang mengangguk setuju.

Namun Bu Ratna, anak kedua Opa dan Oma, menggeleng pelan.

"Rumah ini bukan sekadar bangunan."

"Lalu?"

"Ini rumah tempat kita semua dibesarkan."

"Kenangan nggak bisa bayar pajak," sahut Beni sambil terkekeh.

Suasana mulai menghangat.

Raka yang sedari tadi diam memilih memperhatikan dinding-dinding rumah. Entah mengapa ia merasa rumah itu terdengar berbeda pagi ini.

Lebih sunyi.

Seolah menunggu sesuatu.

"Kalau memang mau dijual," lanjut Beni, "isinya juga harus dibereskan."

Pak Surya mengangguk.

"Perabot yang masih bagus bisa disimpan."

"Yang sudah rusak dibuang."

Ia baru saja mengucapkan kalimat itu ketika Bu Ratna menatapnya.

"Termasuk... ranjang Ayah?"

Ruangan kembali hening.

Pak Surya menghela napas.

"Surat Ayah jelas."

"Jangan ditiduri."

"Itu saja."

"Bukan berarti tidak boleh dipindahkan."

"Tapi..."

"Dan keranjang di dapur juga jangan dipindahkan," sela Pak Hendra, adik bungsu mereka.

"Kalian lupa?"

"Lupa apa?"

"Waktu kecil, Ayah selalu marah kalau ada yang masuk kamar belakang."

"Itu cuma karena ranjangnya antik."

"Tidak."

Pak Hendra menggeleng.

"Bukan itu."

"Lalu apa?"

Ia terdiam.

Sudah lama sekali.

Bahkan ia sendiri tak lagi yakin apakah kenangan itu benar-benar terjadi atau hanya cerita yang terus diulang hingga terasa nyata.

"Ayah tidak pernah menjelaskan."

"Nah, berarti memang tidak ada apa-apa."

Beni kembali tertawa.

"Kalau memang ada alasannya, kenapa tidak ditulis sekalian?"

Tak seorang pun mampu menjawab.

Menjelang siang, pembicaraan beralih pada rencana membersihkan rumah.

Beni berdiri.

"Oke. Aku mulai dari kamar belakang."

"Jangan."

Suara Pak Surya terdengar tegas.

"Bersihkan bagian lain dulu."

"Lho?"

Lihat selengkapnya