Ranjang yang Menjadi Saksi

Arifin
Chapter #2

#2 Saat Kepercayaan Dipertaruhkan Dokumen Terakhir

Fajar baru saja menyingsing ketika Arga sudah bersiap meninggalkan rumah. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Jam tangan tua peninggalan ayahnya masih berada di atas meja ruang tamu, sementara secarik pesan yang ditemukan di dalamnya terus terbayang di benaknya.


Maya mengantarkan Arga sampai ke teras.


"Mas, hati-hati. Aku punya firasat yang tidak enak."


Arga menggenggam tangan istrinya.


"Aku akan pulang. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Tidak ada lagi rahasia di antara kita."


Maya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka saling memandang dengan kejujuran yang mulai tumbuh kembali.


Arga menemui Dimas di kantornya. Mereka memeriksa kembali semua dokumen, foto, dan catatan yang telah terkumpul.


"Ada satu nama yang terus muncul," kata Dimas sambil menunjuk beberapa berkas. "Tapi belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa orang ini dalangnya."


Arga mengangguk.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Kita cari dokumen terakhir yang disebut dalam catatan ini. Kalau benar masih ada, kemungkinan besar di situlah jawaban dari semua pertanyaanmu."


Di sudut salah satu berkas terdapat tulisan tangan yang hampir pudar.


"Gudang Lama – Blok C."


Arga langsung teringat sebuah gudang milik perusahaan lama tempat ayahnya pernah bekerja. Gudang itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan.


Menjelang sore, Arga dan Dimas tiba di gudang tua tersebut. Bangunannya tampak kusam, dengan pintu besi yang mulai berkarat. Angin berembus pelan, membuat suasana terasa sunyi.


Mereka masuk dengan hati-hati.


Di dalam gudang hanya ada rak-rak kayu tua, beberapa kotak berdebu, dan tumpukan arsip yang hampir rusak dimakan waktu.


Setelah hampir satu jam mencari, Dimas menemukan sebuah lemari besi kecil yang tersembunyi di balik rak.


"Arga, coba lihat ini."


Lihat selengkapnya