Malam itu, hujan turun tanpa henti. Tetesannya menghantam kaca mobil Arga yang melaju perlahan meninggalkan stasiun tua. Di kursi belakang, map hitam dan amplop misterius tersimpan rapi di dalam tas. Tidak seorang pun berbicara. Keheningan terasa lebih berat daripada suara hujan yang mengguyur jalanan.
Sesampainya di rumah, Arga langsung mengunci pintu. Maya menyiapkan minuman hangat, sementara Dimas kembali membuka semua dokumen yang telah mereka kumpulkan. Ruang tamu berubah menjadi tempat penyelidikan. Berkas-berkas, foto-foto lama, catatan tangan ayah Arga, hingga rekaman suara disusun di atas meja.
"Ada sesuatu yang belum kita lihat," ujar Dimas sambil memperhatikan map hitam itu.
Arga mengangguk. Ia membuka lapisan paling dalam map tersebut. Ternyata ada sebuah kantong plastik tipis yang hampir tidak terlihat. Di dalamnya tersimpan sebuah kunci kecil berwarna perak dengan nomor 114.
"Kunci apa ini?" tanya Maya.
Belum sempat ada yang menjawab, secarik kertas kecil terjatuh dari balik map.
"Kunci ini akan membawamu pada kebenaran. Tapi berhati-hatilah, karena setelah pintu itu terbuka, tidak akan ada jalan untuk kembali."
Arga memandang Dimas.
"Kita harus mencari tahu kunci ini."
Keesokan paginya, mereka kembali menemui Pak Surya. Begitu melihat kunci itu, wajah pria tua tersebut berubah pucat.
"Aku mengenal kunci ini," katanya pelan.
"Itu milik ruang arsip pribadi direktur lama. Tempat itu sudah bertahun-tahun ditutup."
"Masih ada?" tanya Arga.
Pak Surya mengangguk.
"Masih. Tapi tidak banyak orang yang tahu keberadaannya."
Tanpa membuang waktu, mereka berangkat menuju gedung lama perusahaan. Bangunan itu tampak kosong dan dipenuhi debu. Sebagian besar ruangan sudah tidak digunakan.
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besi dengan angka 114.
Arga menggenggam kunci itu erat-erat.
Saat kunci diputar, terdengar bunyi pelan.
Klik...
Pintu terbuka.
Di dalam ruangan terdapat lemari arsip, meja kayu tua, dan sebuah brankas kecil. Debu tebal menutupi hampir seluruh isi ruangan, seolah tempat itu telah lama ditinggalkan.