RAPAT:Rasa Paling Tahu

Yusuf Pradika
Chapter #2

Chapter BAB #2 Rapat Keluarga Pertama yang Berakhir Ricuh

Rapat Keluarga Pertama yang Berakhir Ricuh


Pagi di Gang Melati selalu dimulai dengan dua suara.


Suara ayam.


Dan suara Bu Nina.


"AYAH OMEEEN!"


Suara itu memantul ke tembok rumah, memantul lagi ke pagar yang berbunyi kreeeek..., lalu sukses membangunkan separuh penghuni gang.


Pak Darto yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.


"Nah..."


"Ibu Nina sudah mulai."


Ia melihat jam dinding.


"Pukul enam lewat lima."


Pak Darto mengangguk puas.


"Berarti masih sesuai jadwal."


Di rumah keluarga Omen, Ayah keluar dari kamar dengan rambut berdiri ke segala arah.


"Iya, Bu?"


"Mas bilang semalam mau beli gas."


"Iya."


"Gasnya mana?"


Ayah terdiam.


"Hmm..."


Bu Nina langsung menyipitkan mata.


"Jangan bilang..."


Ayah tersenyum canggung.


"Lupa."


Raka yang baru keluar kamar langsung menepuk dahinya.


"Baru juga bangun."


"Masalah sudah datang."


Bimo menguap lebar.


"Ada apa?"


Rino menjawab datar,


"Hari ini kita sarapan alasan."


Semua kecuali Ayah tertawa.


Ayah masih berusaha membela diri.


"Sebenarnya Ayah ingat."


"Lalu?"


"Waktu sampai warung..."


"...Ayah ketemu Pak Darto."


Pak Darto yang mendengar namanya dari luar pagar spontan menjawab,


"Lho, saya?"


"Iya."


"Kita ngobrol."


"Terus?"


"Terus lupa."


Pak Darto menggaruk kepala.


"Berarti saya ikut bersalah?"


Bu Nina langsung tertawa kecil.


"Pak Darto, jangan mau."


"Kalau Mas lupa naruh dompet juga nanti salah Bapak."


Gang Melati kembali dipenuhi tawa.


Sarapan pagi akhirnya berlangsung dengan menu sederhana.


Nasi hangat.


Telur dadar.


Tempe goreng.


Dan sambal buatan Bu Nina yang terkenal bisa membuat Ayah berkeringat walau dimakan di musim hujan.


Baru tiga suap.


Bimo mengangkat tangan.


"Aku mau usul."


Semua langsung berhenti makan.


Ayah berbisik pelan,


"Kalau Bimo bilang mau usul..."


"...biasanya dompet siap-siap."


"Aku cuma mau bilang..."


"...kenapa kita nggak pernah rapat?"


Bu Nina mengernyit.


"Rapat apa?"


"Rapat keluarga."


Raka tertawa.


"Memangnya kita perusahaan?"


"Bukan."


"Terus?"


"Biar kalau ada masalah..."


"...nggak teriak-teriak."


Semua saling pandang.


Ayah mengangguk pelan.


"Idenya bagus."


Rino ikut mengangguk.


"Setidaknya kita punya waktu khusus untuk bicara."


Bu Nina tersenyum.


"Baik."


"Habis Magrib."


"Kita rapat."


Bimo langsung bersorak.


"Asyik!"


Raka berbisik,


"Jangan senang dulu."


"Biasanya yang punya ide..."


"...jadi korban pertama."


Kabar tentang "rapat keluarga" ternyata menyebar lebih cepat daripada aroma gorengan.


Siang harinya, Pak Darto datang.


"Pak Omen."


"Iya?"


"Dengar-dengar malam ini ada rapat?"


Ayah heran.


"Bapak tahu dari mana?"


"Bimo."


Bimo yang sedang menyiram tanaman menjawab santai,


"Aku cuma bilang sedikit."


"Sedikit bagaimana?"


"Aku bilang..."


"...malam ini ada rapat besar."


Pak Darto mengangguk.


"Saya kira mau pemilihan RT."


Bu Nina tertawa sampai harus memegang kusen pintu.


Menjelang sore, Bu Wati datang membawa pisang.


"Ini buat rapat."


Pak RT lewat sambil bertanya,


"Undangannya mana?"


Ayah mulai panik.


"Ini rapat keluarga, Pak."


"Oh..."


Pak RT tertawa.


"Saya kira ada musyawarah kampung."


Malam pun tiba.


Meja makan dibersihkan.


Lima kursi disusun rapi.


Di tengah meja, Bu Nina meletakkan sebuah buku tulis bergaris.


Di sampulnya ditulis dengan spidol merah:


RAPAT KELUARGA OMEN


Ayah berdiri sambil berdehem.


"Ehem..."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Rapat pertama keluarga Omen resmi dibuka."


Bimo langsung bertepuk tangan.


Raka ikut bertepuk tangan.


Rino tersenyum tipis.


Bu Nina menggeleng sambil tersenyum.


Ayah mengambil sendok lalu mengetuk gelas.


"Ting... ting... ting..."


"Agenda pertama."


"Silakan kalau ada yang mau menyampaikan pendapat."


Raka langsung mengangkat tangan.


"Ayah."


"Iya?"


"Kalau habis makan..."


"...tolong gelasnya jangan ditaruh di atas kulkas."


Ayah terkejut.


"Kok tahu?"


"Soalnya kemarin aku cari satu rumah."


Bu Nina ikut menambahkan,


"Sendok juga pernah ditemukan di rak sepatu."


Ayah tertawa malu.


"Itu strategi."


"Strategi apa?"


"Biar nggak hilang."


Semua serempak menjawab,


"Malah hilang!"


Giliran Bu Nina berbicara.


"Aku juga punya usul."


"Apa?"


"Kalau ada yang habis pakai handuk..."


"...tolong jangan ditaruh di kasur."


Bimo langsung menoleh ke Raka.


Raka menunjuk balik.


"Itu Bimo."


"Lho, kemarin Kakak."


"Itu latihan."


"Latihan apa?"


"Jadi orang rajin."


Ruangan langsung dipenuhi gelak tawa.


Kini giliran Rino.


"Aku cuma punya satu usul."


"Silakan."


"Kalau ada masalah..."


"...jangan langsung menyalahkan siapapun."


Ayah mengangguk.


"Setuju."


Baru saja kalimat itu selesai...


Terdengar suara bruk!


Semua menoleh.


Toples kerupuk jatuh dari meja.


"Tuh, Bimo!" seru Raka spontan.


"Lho! Aku nggak ngapa-ngapain!" protes Bimo.


Ayah menunjuk Raka.


"Nah."


"Baru saja Rino selesai bicara."


"Kamu langsung nuduh."


Semua tertawa.


Bimo menyeringai.


Lihat selengkapnya