Ayah Kehilangan Motor... yang Ternyata Dipakai Sendiri
Kalau ada satu hal yang dipelajari warga Gang Melati setelah kejadian "motor hilang", itu adalah jangan pernah langsung percaya ketika Pak Omen berteriak panik.
Sebab, kemungkinan besar...
Jawabannya ada di sekitar Pak Omen sendiri.
Sejak kejadian memalukan itu, setiap kali Ayah hendak berangkat kerja, Bu Nina selalu berdiri di depan pintu seperti petugas pemeriksaan bandara.
"Dompet?"
"Ada."
"Handphone?"
"Ada."
"STNK?"
"Ada."
"Kunci motor?"
"Ada."
"Motornya?"
Ayah tersenyum lebar.
"Masih di garasi."
Bimo tertawa sambil bertepuk tangan.
"Alhamdulillah... lulus pemeriksaan!"
Ayah menggeleng.
"Sejak kapan rumah ini jadi pos keamanan?"
"Sejak Ayah kehilangan motor yang nggak hilang," jawab Raka santai.
Pagi itu Ayah mendapat tugas penting dari Bu Nina.
"Mas, sekalian pulang kerja beli beras lima kilo, minyak goreng, telur, sabun cuci, sama cabai."
Ayah mengangguk mantap.
"Gampang."
Bu Nina menatap tajam.
"Yakin nggak usah ditulis?"
Ayah menepuk dada.
"Tenang."
"Ingatan Ayah kuat."
Rino yang sedang membaca koran hanya berdehem kecil.
"Kalimat itu pernah kita dengar."
Raka menambahkan,
"Dan biasanya lima menit kemudian..."
"...Ayah menelpon."
Benar saja.
Baru satu jam berlalu, telepon rumah berbunyi.
Bu Nina mengangkat.
"Halo?"
"Bu..."
Suara Ayah terdengar pelan.
"Iya?"
"Itu tadi beli apa saja ya?"
Bu Nina memejamkan mata.
Raka langsung berbisik kepada Bimo,
"Skor Ayah: satu."
Sepulang kerja, Ayah tiba di rumah dengan wajah bangga.
"Semua sudah dibeli!"
Bu Nina membuka kantong belanja.
Beras?
Ada.
Telur?
Ada.
Sabun cuci?
Ada.
Cabai?
Tidak ada.
Sebagai gantinya...
Ayah membeli semangka besar.
Bu Nina mengangkat semangka itu.
"Mas..."
"Apa?"
"Aku nyuruh beli cabai."
"Iya."
"Ini semangka."
Ayah menatap semangka itu cukup lama.
"Lho..."
"Pantes dari tadi rasanya ada yang aneh."
Raka langsung tertawa.
"Ayah, kalau semangka bisa pedas..."
"...Indonesia sudah ekspor sambal dari kebun."
Belum selesai keluarga menertawakan semangka itu, terdengar suara Pak Darto dari luar pagar.
"Pak Omen!"
"Ada apa, Pak?"
"Motornya bagus."
Ayah tersenyum bangga.
"Alhamdulillah."
"Eh..."
"Tapi itu motor saya."
Semua terdiam.
Ayah menoleh ke garasi.
Benar.
Motor yang dibawanya pulang bukan motornya.
Warnanya sama.
Mereknya sama.
Stikernya mirip.
Bedanya...
Di motor itu ada gantungan kunci bertuliskan 'Milik Pak Darto'.
Ayah membeku.
"Ya Allah..."
Raka sampai tersedak minum.
"Bisa-bisanya..."
Bu Nina memegang kening.
"Mas..."
"Mas bawa motor orang?"
Ayah mengangguk pelan.
"Kayaknya..."
"Kayaknya lagi?"
"Parkirnya sebelahan."
Pak Darto ikut tertawa.
"Untung saya hafal kebiasaan Bapak."
"Lho?"
"Kalau bukan karena lupa..."
"...bukan Pak Omen namanya."
Mereka pun bersama-sama menuju minimarket tempat kejadian.
Benar saja.
Motor Ayah masih berdiri manis di tempat parkir.
Petugas parkir menghampiri.
"Pak..."
"Iya?"
"Motor Bapak nggak jadi dibawa?"
Ayah tersenyum canggung.
"Jadi..."
"Cuma tadi salah pilih."
Petugas parkir tertawa.
"Baru kali ini saya lihat orang pulang naik motor orang..."
"...sementara motornya sendiri ditinggal."
Pak Darto menepuk bahu Ayah.
"Mas..."
"Besok kalau mau pinjam motor..."
"...bilang dulu."
Ayah hanya bisa tertawa malu.
Malam harinya, rapat keluarga kembali digelar.
Bu Nina membuka buku notulen.
"Agenda hari ini..."
"...penambahan aturan baru."
Ayah langsung mengangkat tangan.
"Boleh protes?"
"Tidak."
Raka terkekeh.
"Belum dibacakan sudah ditolak."
Bu Nina menulis perlahan.
Pasal Enam
"Sebelum membawa pulang motor, Ayah wajib memastikan motor tersebut benar-benar miliknya."
Bimo langsung berseru,
"Setuju!"
Rino menambahkan,
"Kalau perlu difoto dulu."
Ayah menggeleng sambil tertawa.
"Kalau begini terus..."
"...buku rapat kita isinya semua tentang Ayah."
Bu Nina menutup buku.
"Lah, memang yang paling banyak bikin bahan rapat siapa?"
Semua serempak menunjuk Ayah.
Ruangan kembali dipenuhi gelak tawa.
Ayah akhirnya ikut tertawa paling keras.
"Baiklah."