RAPAT:Rasa Paling Tahu

Yusuf Pradika
Chapter #4

Chapter BAB#4 Perang Remote TV Nasional

Perang Remote TV Nasional


Benda itu panjangnya tidak sampai dua puluh sentimeter.


Lebarnya hanya sekitar lima sentimeter.


Warnanya hitam.


Di atasnya terdapat tombol merah, tombol angka, tombol volume, dan beberapa tombol yang bahkan tidak pernah ada yang tahu fungsinya.


Namanya...


Remote televisi.


Benda kecil itu seharusnya diciptakan untuk mempermudah hidup manusia.


Namun, di rumah keluarga Omen...


Ia justru menjadi penyebab perang terbesar sejak Ayah salah membawa motor Pak Darto.


Hari Minggu.


Hari yang seharusnya tenang.


Tidak ada sekolah.


Tidak ada pekerjaan.


Semua anggota keluarga berkumpul di rumah.


Bu Nina sudah selesai memasak opor ayam.


Aroma bawang goreng memenuhi ruang makan.


Ayah baru selesai mencuci motor-kali ini motornya sendiri, setelah memastikan nomor polisi, warna, bahkan lecet di bodinya.


"Ayah sekarang nggak mau ambil resiko," katanya bangga.


Raka yang melihat hanya terkekeh.


"Bagus, Yah. Tinggal jangan salah bawa sapu tetangga."


Ayah melempar kain lap ke arah Raka.


"Kurang ajar."


Bimo tertawa paling keras.


Pukul sembilan pagi.


Televisi dinyalakan.


Bimo sudah duduk paling depan.


Tangannya menggenggam remote seperti petugas bank membawa uang setoran.


Ia menonton film kartun kesukaannya sambil sesekali menirukan suara tokohnya.


"Awas! Jurus Naga Kentut!"


Ayah yang baru masuk ruang tamu berhenti melangkah.


"Ayah mau lihat berita sebentar."


"Sebentar itu berapa lama?" tanya Bimo.


"Lima menit."


Bimo menggeleng cepat.


"Nggak percaya."


"Lho?"


"Soalnya kemarin Ayah bilang lima menit."


"Iya."


"Taunya sampai iklan deterjen tiga kali."


Raka tertawa.


"Anak ini mulai belajar dari pengalaman."


Ayah mendekat pelan-pelan.


"Cuma lihat cuaca."


"Kenapa?"


"Besok Ayah kerja."


Bimo berpikir sejenak.


"Baik."


"Benar lima menit?"


"Iya."


Bimo menyerahkan remote dengan wajah penuh kecurigaan.


Belum sampai tiga menit.


Raka muncul dari kamar memakai kaos tim sepak bola kesayangannya.


"Yah!"


"Apa?"


"Hari ini final!"


"Oh ya?"


"Iya."


"Ganti sebentar."


Ayah menggeleng.


"Berita dulu."


"Cuma lima menit."


"Itu kata Ayah."


"Lho memang."


Raka menunjuk jam.


"Lima menit Ayah sudah lewat."


Ayah pura-pura tidak dengar.


Volume televisi malah dinaikkan.


Raka mencoba mengambil remote.


Ayah mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Belum."


"Ayah curang."


"Namanya juga orang tua."


"Nggak ada hubungannya."


Belum selesai mereka berdebat.


Bu Nina datang membawa sepiring pisang goreng.


"Kalian ribut apa?"


"Remote."


Bu Nina langsung mengulurkan tangan.


"Sini."


Ayah menyerahkan remote dengan lega.


"Nah."


"Biarkan Ibu yang menentukan."


Raka mengangguk.


"Setuju."


Bu Nina duduk di sofa.


Klik.


Saluran televisi berganti.


Muncul...


Sinetron favorit Bu Nina.


Ayah membelalakkan mata.


"Katanya menentukan?"


"Iya."


"Kenapa malah sinetron?"


"Karena Ibu juga punya hak."


Raka langsung bersandar pasrah.


"Bubar..."


"Semua kalah."


Di sudut ruang tamu, Rino hanya memperhatikan.


Ia sedang membaca buku sambil sesekali tersenyum melihat kekacauan itu.


Bimo mendekatinya.


"Kak."


"Iya?"


"Kok nggak ikut rebutan?"


Rino menutup bukunya pelan.


"Karena nanti juga capek sendiri."


"Kalau nggak nonton?"


"Baca buku juga seru."


Bimo mengangguk pelan.


Namun lima detik kemudian...


Ia kembali ikut berebut remote.


Perdebatan semakin panas.


Ayah ingin berita.


Bu Nina ingin sinetron.


Raka ingin pertandingan.


Bimo ingin kartun.


Semua merasa pendapatnya paling penting.


Semua merasa waktunya yang paling berharga.


Tak ada yang mau mengalah.


Suara mereka mulai terdengar hingga ke luar rumah.


Pak Darto yang sedang menyiram bunga melongok ke pagar.

Lihat selengkapnya