Misteri Uang Seratus Ribu
Ada satu benda yang lebih sering hilang daripada kaus kaki di rumah keluarga Omen.
Uang.
Bukan karena rumah mereka sering kemasukan pencuri.
Bukan juga karena ada tuyul seperti cerita yang sering dibahas ibu-ibu saat arisan.
Melainkan...
Karena hampir semua penghuni rumah memiliki penyakit yang sama.
Merasa paling ingat.
Padahal...
Yang paling sering terjadi justru sebaliknya.
Hari Senin pagi.
Bu Nina sudah sibuk sejak pukul lima.
Ia menyapu halaman, menanak nasi, menyiapkan bekal Ayah, lalu mengecek daftar belanja yang ditempel di pintu kulkas.
Di bagian paling bawah tertulis dengan spidol merah.
Kas keluarga: Rp100.000
Uang itu sengaja disimpan untuk membeli perlengkapan lomba tujuh belasan di Gang Melati.
"Mas..."
"Iya, Bu?"
"Nanti jangan dipakai dulu ya."
Ayah mengangguk mantap.
"Tenang."
"Sudah ada di tas Ibu."
Bu Nina menghela nafas lega.
"Alhamdulillah."
Raka yang baru bangun langsung berkomentar.
"Kalau sudah bilang 'tenang'..."
"...aku malah nggak tenang."
Ayah pura-pura tidak dengar.
Menjelang siang, Bu Nina menghadiri rapat ibu-ibu PKK di balai warga.
Tas hitam kesayangannya dibawa.
Di dalamnya ada buku catatan.
Pulpen.
Dompet.
Dan uang seratus ribu itu.
Rapat berlangsung santai.
Ada yang membahas lomba makan kerupuk.
Ada yang mengusulkan lomba tarik tambang.
Ada pula yang sibuk memperdebatkan warna pita untuk hiasan gapura.
Bu Nina menjadi bendahara dadakan.
Ia beberapa kali membuka tas untuk mencatat pengeluaran.
Semuanya tampak biasa.
Sampai rapat selesai.
Sesampainya di rumah, Bu Nina membuka kembali tasnya.
Dompet masih ada.
Pulpen masih ada.
Buku catatan juga.
Tetapi...
Uang seratus ribu itu hilang.
Ia membeku.
"Mas!"
Ayah yang sedang menyiram tanaman menoleh.
"Ada apa?"
"Uangnya enggak ada!"
Ayah langsung menghentikan selang.
"Uang apa?"
"Yang buat kas keluarga!"
Dalam hitungan detik, seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang tamu.
Raka langsung menyilangkan tangan.
"Aku punya teori."
Bimo berbisik kepada Rino.
"Nah..."
"Kalau Kak Raka bilang teori..."
"...sebentar lagi pasti ngawur."
Rino hanya tersenyum.
"Aku nggak bilang."
"Tapi biasanya begitu."
Bu Nina mengeluarkan seluruh isi tas.
Dompet.
Pulpen.
Tisu.
Permen.
Kunci rumah.
Bahkan struk belanja tiga minggu lalu masih tersimpan.
Semua diperiksa satu per satu.
Tidak ada.
Ayah ikut membantu.
Ia membuka semua laci meja.
Lemari.
Rak piring.
Bahkan kulkas.
Raka langsung memandang Ayah.
"Kenapa kulkas?"
Ayah menjawab santai.
"Siapa tahu."
Raka menggeleng.
"Ayah masih trauma senter ya?"
Bimo tertawa sampai berguling di lantai.
Belum sepuluh menit mencari, Pak Darto sudah berdiri di depan pagar.
"Pak Omen!"
"Iya?"
"Dengar-dengar ada uang hilang?"
Ayah melongo.
"Pak..."
"Baru lima menit."
Pak Darto tersenyum bangga.
"Informasi itu harus cepat."
Tak lama kemudian Bu Wati datang.
Disusul Pak Emon.
Lalu Mak Eha.
Rumah keluarga Omen mendadak seperti kantor polisi.
Bedanya...
Semua penyelidiknya membawa camilan.
Pak Darto bahkan membawa buku kecil.
"Kalau boleh..."
"...saya mau mencatat."