Salah Kirim Voice Note
Ada dua hal yang sangat disukai Bu Nina.
Yang pertama, membuat daftar.
Yang kedua...
Mengirim voice note.
Menurut Bu Nina, mengetik itu melelahkan.
"Kalau ngomong kan lebih cepat."
Masalahnya...
Kecepatan Bu Nina berbicara sering kali lebih cepat daripada pikirannya sendiri.
Dan pagi itu...
Hal kecil itu hampir membuat satu Gang Melati percaya bahwa keluarga Omen akan memiliki bayi lagi.
Pukul delapan pagi.
Bu Nina sedang duduk di ruang tamu sambil memegang ponsel.
Hari itu ibu-ibu PKK berencana mengadakan penyuluhan kesehatan tentang program keluarga berencana.
Bu Nina mendapat tugas sederhana.
Mengingatkan semua anggota grup arisan agar hadir.
Ia menekan tombol rekam.
Lalu mulai berbicara dengan penuh semangat.
"Assalamu'alaikum ibu-ibu cantik..."
"Jangan lupa ya, besok kita kumpul di balai warga."
"Ada penyuluhan tentang program KB."
"Biar kita semua makin sehat, makin paham, dan bisa merencanakan keluarga dengan baik."
"Pokoknya jangan sampai nambah lagi kalau memang belum siap..."
"Nanti kita ngobrol santai sambil makan kue."
Bu Nina mendengarkan ulang sebentar.
"Sudah bagus."
Lalu...
Ia menekan tombol kirim.
Selesai.
Ia pun meletakkan ponsel dan kembali memasak.
Tanpa sadar...
Pesan suara itu bukan terkirim ke grup arisan.
Melainkan...
Ke grup Warga Gang Melati.
Grup yang isinya bukan hanya ibu-ibu.
Tetapi juga bapak-bapak.
Pemuda karang taruna.
Pak RT.
Pak Darto.
Pak Emon.
Bahkan tukang bakso keliling.
Lima menit kemudian...
Ponsel Bu Nina berbunyi tanpa henti.
Ting!
Ting!
Ting!
Puluhan pesan masuk bertubi-tubi.
Bu Nina mengernyit.
"Lho..."
"Kok ramai sekali?"
Ia membuka grup.
Matanya langsung membelalak.
Pesan suara yang tadi dikirim...
Sudah didengarkan hampir semua anggota grup.
Kolom komentar penuh.
Pak Darto menulis:
"Lho... memang keluarga Pak Omen mau nambah anak lagi?"
Bu Wati membalas:
"Katanya disuruh jangan nambah lagi."
Pak Emon ikut berkomentar:
"Berarti memang ada kabar baik ya?"
Seseorang bahkan menulis:
"Selamat ya Pak Omen!"
Bu Nina menepuk dahinya.
"Ya Allah..."
"Salah kirim!"
Ia buru-buru menghapus pesan itu.
Namun...
Terlambat.
Di bawah tulisan kecil WhatsApp tertera jelas.
Sudah didengarkan oleh 87 anggota.
Bu Nina menutup mata.
"Ya sudah..."
"Besok pindah rumah saja."
Di saat yang sama...
Pak Omen sedang duduk santai di warung Mak Eha menikmati kopi.
Tiba-tiba semua orang memandangnya sambil tersenyum.
Pak Darto datang menghampiri.
"Selamat ya, Pak."
Ayah mengernyit.
"Selamat apa?"
"Katanya mau punya anak lagi."
Ayah hampir menyemburkan kopi.
"Hah?!"
Pak Emon ikut menjabat tangan Ayah.
"Semoga sehat semuanya."
Ayah semakin bingung.