RAPAT:Rasa Paling Tahu

Yusuf Pradika
Chapter #7

Chapter BAB #7 Tetangga Baru yang Terlalu Sempurna

Tetangga Baru yang Terlalu Sempurna


Gang Melati sebenarnya bukan gang yang mudah terkejut.


Warganya sudah terbiasa melihat Ayah Omen lupa membawa motor.


Sudah terbiasa melihat Bimo mengejar ayam sambil menangis karena ayam itu "mencuri" kerupuknya.


Sudah terbiasa pula mendengar suara rapat keluarga yang lebih mirip acara lawak daripada musyawarah.


Tetapi...


Hari Senin pagi itu...


Seluruh Gang Melati mendadak heboh.


Sebuah mobil hitam mengkilap perlahan memasuki gang.


Disusul sebuah mobil putih.


Lalu keesokan harinya...


Mobil merah.


Dua hari kemudian...


SUV besar berwarna abu-abu.


Pak Darto yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya.


"Lho..."


"Mobil lagi?"


Bu Wati yang sedang menyiram bunga ikut menoleh.


"Rumah baru itu ya?"


"Iya."


Pak Darto mengusap dagunya.


"Hebat juga."


"Masih muda..."


"...mobilnya ganti terus."


Rumah baru itu dihuni seorang pria bernama Jaka.


Usianya sekitar tiga puluh tahun.


Ramah.


Murah senyum.


Setiap bertemu tetangga selalu menyapa.


"Pagi, Pak."


"Pagi, Bu."


Namun justru karena terlalu ramah...


Warga makin penasaran.


Raka yang sedang duduk di teras memperhatikan mobil hitam yang terparkir rapi.


Ia berbisik kepada Ayah.


"Yah..."


"Iya?"


"Menurut Ayah..."


"...kerjanya apa?"


Ayah mengangkat bahu.


"Enggak tahu."


"Tapi mobilnya keren."


Raka menghela napas.


"Orangnya kelihatan biasa."


"Tapi kok tiap hari mobilnya beda?"


Ayah tersenyum.


"Jangan iri."


"Bukan iri."


"Lalu?"


"Penasaran."


Padahal...


Dalam hati, Raka memang sedikit iri.


Ia baru saja menabung berbulan-bulan untuk membeli sepeda bekas.


Sementara tetangga barunya setiap hari datang dengan mobil berbeda.


Sore harinya...


Warung Mak Eha kembali menjadi pusat informasi.


Pak Darto sudah mulai menyusun teori.


"Saya rasa..."


"...dia pengusaha."


Pak Emon menggeleng.


"Bisa jadi pejabat."


Bu Wati menyela.


"Atau artis."


Mak Eha tertawa kecil.


"Kalau artis..."


"...masa beli mi instan utang dua ribu?"


Semua langsung terdiam.


"Lho..."


"Iya juga."


Di rumah Omen...


Raka masih memikirkan tetangga baru itu.


"Aku yakin ada yang disembunyikan."


Rino yang sedang membaca buku menoleh.


"Kenapa harus disembunyikan?"


"Soalnya terlalu sempurna."


"Memangnya salah?"


"Enggak."


"Tapi aneh."


Rino tersenyum tipis.


"Kadang..."


"...yang aneh bukan orangnya."


"Terus?"


"Cara kita melihatnya."


Raka mendengus.


"Filsuf lagi."


Malam harinya, Bimo datang membawa kabar.


"Kak!"


"Apa?"


"Aku lihat Om Jaka."


"Di mana?"


"Lagi ganti mobil."


Raka langsung berdiri.


"Nah kan!"


"Aku bilang juga."


Ayah ikut penasaran.


"Besok kita lihat."


Bu Nina yang sedang mengupas bawang langsung menatap tajam.


"Mas."


"Iya?"


"Jangan ikut-ikut."


"Kita nggak usah ngurusin hidup orang."


Ayah mengangguk.


"Iya."


Namun lima detik kemudian...


Ia berbisik kepada Raka.


"Besok kita lihat dari jauh."


Lihat selengkapnya