Operasi Penyelamatan Kucing Tetangga
Kalau ada penghargaan untuk orang yang paling pandai menghilangkan barang bukti...
Bimo hampir pasti menjadi juaranya.
Bukan karena ia pencuri.
Bukan juga karena ia nakal.
Melainkan karena setiap kali melakukan kesalahan...
Otaknya justru bekerja lebih cepat daripada orang dewasa.
Sayangnya...
Ide-ide itu hampir selalu berakhir menjadi bencana yang jauh lebih besar.
Hari Minggu siang.
Bu Nina memasak ikan goreng.
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan enam ekor sekaligus.
Aroma ikan goreng memenuhi seluruh rumah.
Bahkan Pak Darto yang sedang menyapu halaman sampai berhenti bekerja.
"Wah..."
"Bu Nina masak ikan."
Pak Emon yang lewat ikut menghirup aroma.
"Kalau baunya begini..."
"...pasti Bimo tambah nasi."
Di dapur, Bu Nina mulai membagi ikan.
"Satu untuk Ayah."
"Satu untuk Ibu."
"Satu untuk Raka."
"Satu untuk Rino."
"Satu untuk Bimo."
Dan satu lagi...
"Itu buat Pak Emon."
Pak Emon memang sering membantu keluarga Omen memperbaiki keran, mengganti lampu, atau sekadar mengantar gas.
Karena itulah Bu Nina sengaja menyisihkan seekor ikan untuknya.
"Jangan dimakan dulu ya."
"Nanti sore Pak Emon mampir."
Bimo mengangguk cepat.
"Iya, Bu."
Namun...
Matanya tidak pernah lepas dari piring berisi ikan.
Menjelang siang, rumah mendadak sepi.
Bu Nina pergi sebentar ke warung.
Ayah mencuci motor.
Raka menjemur pakaian.
Rino menyiram tanaman.
Tinggallah Bimo sendirian di ruang makan.
Ia menatap ikan di piring.
Lalu menatap ke kanan.
Ke kiri.
Tidak ada siapa-siapa.
Perutnya berbunyi.
"Kruuuuk..."
Bimo menelan ludah.
"Cuma satu gigitan."
Lima detik kemudian...
Gigitan pertama berubah menjadi gigitan kedua.
Lalu ketiga.
Tak sampai dua menit...
Ikan miliknya habis.
Ia mengusap bibir.
"Enak..."
Tetapi...
Perutnya masih lapar.
Matanya perlahan bergeser ke piring lain.
Piring bertuliskan kertas kecil.
"Untuk Pak Emon."
Bimo kembali menelan ludah.
"Pak Emon pasti nggak marah..."
"...kalau tinggal sedikit."
Lima menit kemudian...
Yang tersisa hanya tulang.
Bimo baru sadar.
"Ya ampun..."
"Habis."
Suara langkah kaki Bu Nina terdengar dari luar.
"Bimo..."
"Iya, Bu!"
"Piring Pak Emon jangan lupa ditutup."
Bimo langsung panik.
Ia melihat tulang ikan.
Melihat pintu.
Melihat jendela.
Lalu...
Sebuah ide muncul.
"Kalau nggak ada barang buktinya..."
"...berarti aman."
Ia mengambil tulang-tulang ikan.
Lalu berlari ke bawah meja makan.
Diselipkannya tulang itu di balik taplak yang menjuntai.
Ia tersenyum puas.
"Aman."
Padahal...
Dua mata sedang memperhatikannya dari balik pintu.
Rino.
Rino hanya menggeleng kecil.
"Bimo..."
"Iya?"
"Itu bukan ngilangin barang bukti."
"Itu mindahin."
Tak lama kemudian...
Seekor kucing belang milik tetangga melompat ke teras.
"Meooong..."
Bimo langsung tersenyum lebar.
"Nah!"
"Ada tersangka."
Ia menggendong kucing itu.
"Makasih ya."
Kucing itu mengeong bingung.
"Mulai sekarang..."
"...kamu yang makan ikannya."
Kucing itu hanya berkedip.
Belum tahu bahwa sebentar lagi...
Namanya akan terseret dalam kasus paling konyol di Gang Melati.
Sementara di dapur...
Bu Nina mulai membuka tudung saji.
Ia melihat satu piring kosong.
Keningnya langsung berkerut.
"Eh..."
"Ikan Pak Emon mana?"