Liburan yang Tidak Jadi Liburan
Ada satu kalimat yang paling ampuh membuat keluarga Omen lupa segala masalah.
"Kita liburan, yuk!"
Kalimat itu bisa mengalahkan suara hujan.
Mengalahkan suara tukang bakso.
Bahkan mampu membuat Ayah bangun lebih pagi daripada alarm.
Dan pagi itu...
Kalimat tersebut datang dari sebuah pesan singkat yang membuat seluruh rumah bersorak.
"Yah... Yah...!"
Bimo berlari dari ruang tamu sambil membawa ponsel.
"Ada hadiah!"
Ayah yang sedang menyiram bunga langsung menoleh.
"Hadiah apa?"
"Katanya kita menang undian!"
"Mana coba?"
Ayah mengambil ponsel.
Di layar tertulis dengan huruf besar:
SELAMAT!
Anda terpilih sebagai pemenang hadiah perjalanan keluarga GRATIS ke Yogyakarta selama tiga hari dua malam dari program Gift Way.
Segera hubungi nomor layanan kami untuk proses keberangkatan.
Mata Ayah berbinar.
"Lho..."
"Serius ini?"
Raka langsung mendekat.
"Wah..."
"Asyik!"
Bu Nina yang baru keluar dari dapur ikut membaca.
"Mas..."
"Jangan-jangan benar."
Rino memperhatikan lebih teliti.
"Nomornya aneh."
Namun...
Tak ada yang benar-benar mendengarkan Rino.
Semua sudah lebih dulu larut dalam rasa senang.
Sepuluh menit kemudian, telepon berbunyi.
Ayah mengangkatnya.
"Selamat pagi, Pak Omen!"
"Iya."
"Selamat ya, Bapak menjadi pemenang utama."
"Wah..."
"Terima kasih."
"Keberangkatan tinggal dua hari lagi."
"Baik."
"Hanya ada sedikit biaya administrasi dan pajak agar tiket bisa dicetak."
Ayah mengangguk.
"Oh."
"Berapa?"
Petugas itu menyebutkan nominal yang cukup besar.
Ayah sempat ragu.
Namun suara di seberang terdengar sangat meyakinkan.
"Setelah pembayaran diterima, tiket langsung kami kirim."
Tanpa banyak berpikir...
Ayah menyetujuinya.
Sejak siang itu, rumah keluarga Omen berubah menjadi markas persiapan liburan.
Bu Nina mengeluarkan koper dari atas lemari.
Debunya sampai membuat Ayah bersin tiga kali.
"Haciiim!"
Raka tertawa.
"Kopernya kayak habis ikut perang."
Bimo sibuk memilih baju.
Ia memasukkan delapan kaos.
Empat celana.
Tiga topi.
Dua sandal.
Satu boneka dinosaurus.
Bu Nina melihat isi koper Bimo.
"Bim..."
"Iya?"
"Kita liburan tiga hari."
"Bukan pindahan."
Semua tertawa.
Rino duduk di ruang tamu sambil membuka internet melalui ponselnya.
Ia membaca ulang pesan kemenangan itu.
Semakin dibaca...
Semakin aneh.
"Kak."
"Iya?" jawab Raka.
"Aku belum pernah dengar program ini."
"Namanya juga undian."
"Tapi..."
Raka menepuk bahu adiknya.
"Sesekali berpikir positif."
Rino hanya mengangguk pelan.
Namun wajahnya belum sepenuhnya yakin.
Sore harinya, Pak Darto datang.
"Dengar-dengar mau liburan?"
Ayah tersenyum lebar.
"Iya."
"Gratis."
Pak Darto langsung bersiul kagum.
"Wah..."
"Kalau begitu oleh-olehnya jangan lupa."
Pak Emon ikut menyahut dari pagar.
"Saya titip bakpia."
Mak Eha tertawa.
"Saya titip foto saja."
Bimo langsung menjawab penuh percaya diri.
"Aku nanti foto naik kereta!"
Semua ikut tertawa membayangkan keseruan itu.
Malam sebelum keberangkatan...
Tak ada satupun yang bisa tidur nyenyak.
Bu Nina berkali-kali mengecek koper.
Ayah mengecek tiket yang baru dikirim melalui pesan.
Raka mengecas kamera.
Bimo memakai tas kecil sambil berlatih melambaikan tangan.
"Selamat tinggal, Gang Melati!"
Pak Darto yang mendengar dari luar pagar berteriak,
"Jangan lama-lama!"
Ayah tertawa.