RAPAT:Rasa Paling Tahu

Yusuf Pradika
Chapter #10

Chapter BAB#10 Semua Menyalahkan Semua

Semua Menyalahkan Semua


Ada satu hal yang sering terjadi setelah seseorang tertipu.


Bukan hanya kehilangan uang.


Tetapi juga kehilangan kesabaran.


Dan itulah yang terjadi di rumah keluarga Omen.


Rumah yang biasanya dipenuhi tawa...


Pagi itu dipenuhi wajah murung.


Sejak gagal berangkat liburan, koper-koper masih tergeletak di ruang tamu.


Belum ada yang membongkar isinya.


Topi pantai Ayah masih tergantung di sandaran kursi.


Kamera Raka masih berada di dalam tas.


Sedangkan Bimo...


Masih sesekali memakai kacamata hitamnya sambil menghela nafas panjang.


"Aku gagal jadi wisatawan..."


Ayah tersenyum tipis.


"Nanti kita jalan lagi."


"Kapan?"


"Kalau tabungan Ayah sudah kuat."


Bimo mengangguk pelan.


"Berarti..."


"...lama."


Siang harinya, suasana mulai memanas.


Bu Nina sedang menghitung kembali sisa uang di dalam dompet.


Ia menarik nafas panjang.


"Mas..."


"Iya?"


"Harusnya kemarin kita cek dulu."


Ayah langsung menunduk.


"Iya..."


"Ayah yang salah."


Raka yang mendengar ikut menyela.


"Bukan cuma Ayah."


"Kita semua terlalu semangat."


Ayah menggeleng.


"Tapi yang transfer uang kan Ayah."


Bu Nina menatap suaminya.


"Mas..."


"Aku juga ikut percaya."


"Kalau aku lebih teliti..."


"...mungkin kita nggak begini."


Suasana kembali hening.


Tiba-tiba Raka berdiri.


"Sebentar."


"Apa?"


"Aku juga salah."


"Lho?"


"Rino sempat bilang ada yang aneh."


Semua mata kini beralih kepada Rino.


Rino yang sedang membaca buku langsung mengangkat wajah.


"Aku cuma merasa aneh."


"Kenapa nggak maksa kita buat cek lagi?" tanya Raka.


Rino tersenyum kecil.


"Karena waktu itu..."


"...kalian semua sedang bahagia."


"Aku nggak mau merusaknya."


Bu Nina langsung memegang tangan Rino.


"Maaf ya."


"Harusnya Ibu dengarkan."


Rino menggeleng.


"Sudah."


"Yang penting sekarang kita belajar."


Belum selesai suasana mereda...


Pak Darto datang seperti biasa.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Pak Darto melihat wajah semua orang.


"Waduh..."


"Masih sedih ya?"


Ayah mengangguk.


"Iya."


Pak Darto duduk pelan.


Lalu berkata,


"Kalau saya boleh jujur..."


"Saya juga hampir pernah ketipu."


Semua langsung menoleh.


"Serius?"


Pak Darto mengangguk.


"Dulu saya beli alat pijat yang katanya bisa bikin tinggi badan."


Raka langsung tertawa.


"Terus?"


"Yang tinggi malah utangnya."


Seluruh ruangan akhirnya kembali tertawa.


Namun, setelah tawa reda...


Perdebatan kecil kembali muncul.


Ayah berkata,


"Mulai sekarang semua keputusan harus lewat Ayah."


Bu Nina langsung menjawab,


"Lho, kemarin juga lewat Ayah."


Raka ikut menyahut,


"Makanya gagal."


Ayah melotot.


"Eh..."


"Lho kan benar."


Bimo mengangkat tangan.


"Kalau menurutku..."


"Keputusan lewat Ibu saja."


Bu Nina tersenyum.


"Kenapa?"


"Soalnya Ibu cerewet."


"Lho?"


"Kalau cerewet berarti banyak nanya."


Semua tertawa.


Rino tersenyum.


"Kalau menurutku..."


"...lebih baik lewat kita semua."


Ayah mengangguk.


"Maksudnya?"


"Kalau ada keputusan besar..."


"...kita duduk bersama."


"Kita cek bersama."


"Kalau ada yang ragu..."


"...jangan malu bertanya."


Ruangan mendadak sunyi.


Semua menyadari...


Ucapan Rino memang masuk akal.


Sore harinya, Pak RT datang.


Ia mendengar kabar keluarga Omen menjadi korban penipuan.


Bukannya menghakimi, Pak RT justru berkata,


"Jangan malu."


"Korban penipuan itu bukan orang bodoh."


"Pelakunya memang pandai menipu."


"Tugas kita sekarang..."


"...belajar supaya tidak terulang."


Ayah mengangguk pelan.


"Terima kasih, Pak."


Malam itu, rapat keluarga kembali digelar.


Namun kali ini suasananya berbeda.

Lihat selengkapnya