RAPAT:Rasa Paling Tahu

Yusuf Pradika
Chapter #11

Chapter BAB #11 UlANG TAHUN PERNIKAHAN YANG TERLALU ASIN

UlANG TAHUN PERNIKAHAN YANG TERLALU ASIN


Pagi itu, rumah keluarga Omen terasa agak berbeda.


Tidak ada suara Pak Omen mencari kunci motor.


Tidak ada suara Bu Nina memanggil Bimo dari dapur.


Tidak terdengar Raka berdebat dengan Rino soal acara televisi.


Bahkan Bimo yang biasanya sejak pagi sudah membuat keributan, pagi itu duduk manis di ruang tengah sambil memegang kalender.


Keheningan itu justru membuat Pak Omen curiga.


Ia keluar dari kamar sambil mengucek mata.


"Kenapa rumah kita seperti habis kena razia?"


Bimo menoleh.


"Diam, Yah."


Pak Omen berhenti.


"Kenapa?"


"Jangan keras-keras."


"Memangnya ada orang tidur?"


Bimo menggeleng.


"Enggak."


"Lalu?"


"Kita sedang merencanakan sesuatu."


Pak Omen langsung duduk.


"Merencanakan apa?"


Bimo mendekat dan berbisik.


"Rahasia."


Pak Omen mengangguk serius.


"Bagus."


Kemudian ia ikut berbisik.


"Rahasia apa?"


Bimo menatap ayahnya dengan kesal.


"Kalau aku kasih tahu, namanya bukan rahasia."


Pak Omen terdiam.


"Oh iya."


Ia berdiri lagi.


"Kalau begitu Ayah pergi."


"Ke mana?"


"Supaya rahasianya tetap rahasia."


Bimo mengangguk puas.


Baru tiga langkah Pak Omen berjalan, ia berhenti.


"Tapi Ayah boleh tahu sedikit?"


Bimo menggeleng.


Pak Omen pergi sambil bergumam.


"Anak sekarang kalau punya rahasia sama orang tua."


Dari balik pintu kamar, Raka muncul.


"Sudah, Yah. Jangan kepo."


Pak Omen menatap Raka.


"Kamu tahu?"


"Tahu."


"Rino tahu?"


"Tahu."


"Berarti tinggal Ayah yang enggak tahu?"


Raka tersenyum.


"Betul."


Pak Omen menghela napas.


"Di rumah sendiri Ayah seperti tetangga."


Hari itu ternyata adalah hari ulang tahun pernikahan Pak Omen dan Bu Nina.


Sudah bertahun-tahun mereka menikah.


Tanggal itu sebenarnya tidak pernah mereka rayakan secara mewah.


Tidak ada makan di restoran mahal.


Tidak ada hadiah mahal.


Tidak ada perjalanan romantis.


Bahkan beberapa tahun terakhir mereka sering lupa tanggalnya.


Pernah sekali Pak Omen baru ingat setelah Bu Nina mengingatkan.


Pernah juga Bu Nina lupa karena sibuk mengurus rumah.


Namun tahun ini anak-anak ingin membuat sesuatu yang berbeda.


Raka yang pertama kali mengusulkan.


"Bagaimana kalau kita bikin makan malam untuk Ayah dan Ibu?"


Rino langsung setuju.


Bimo bahkan lebih semangat.


"Kita masak sendiri!"


Raka menatapnya.


"Kamu bisa masak?"


Bimo mengangkat dagu.


"Telur."


"Telur apa?"


"Telur rebus."


"Itu bukan memasak."


"Kenapa?"


"Airnya yang masak."


Bimo berpikir sebentar.


"Berarti aku yang menyuruh air memasak."


Rino tertawa.


"Logikanya mulai rusak."


Bimo tidak peduli.


Yang penting ia sudah dianggap bagian dari tim.


Mereka kemudian membagi tugas.


Raka bertugas membeli bahan.


Rino bertugas menyiapkan peralatan.


Bimo bertugas membuat hiasan.


Dan Bu Nina...


Tidak boleh tahu.


Masalahnya, Bu Nina adalah orang yang paling mudah mengetahui sesuatu di rumah.


Sekitar pukul sepuluh pagi, Bu Nina keluar dari kamar.


Ia melihat Raka membawa kantong belanja.


"Raka."


Raka berhenti.


"Iya, Bu?"


"Belanja apa?"


Raka langsung gugup.


"Belanja."


Bu Nina mengernyit.


"Ibu tahu itu belanja. Maksud Ibu, belanja apa?"


Raka tersenyum kaku.


"Belanja kebutuhan."


"Kebutuhan apa?"


"Kebutuhan... kehidupan."


Bu Nina semakin curiga.


"Jangan jawab seperti calon pejabat."


Raka tertawa.


"Ini cuma bahan makanan."


"Buat apa?"


"Untuk... makan."


Bu Nina menatapnya lama.


"Kamu kalau bohong matanya jangan ke kiri terus."


Raka langsung memaksa matanya melihat kanan.


Bu Nina tertawa.


"Sudah, sana."


Raka pergi dengan lega.


Begitu sampai dapur, Rino langsung berbisik.


"Aman?"


Raka mengangguk.


"Tipis."

Lihat selengkapnya