JANDA PENGGODA PAK OMEN
Kalau ada satu hal yang paling cepat menyebar di rumah keluarga Omen selain aroma gorengan, itu adalah kecurigaan Bu Nina.
Dan pagi itu, kecurigaan tersebut mulai tumbuh dari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.
Sebuah baju.
Lebih tepatnya, selembar baju yang tergantung di kursi Pak Omen.
Bu Nina baru saja selesai menyapu ruang tengah ketika matanya menangkap sesuatu yang berwarna biru muda.
Ia berhenti.
Tangannya masih memegang sapu.
Matanya menyipit.
Ia mendekat.
Di kursi Pak Omen tergantung sebuah kemeja baru.
Bu Nina mengangkatnya.
Diperiksa bagian depan.
Diperiksa bagian belakang.
Kemudian labelnya.
"Hm..."
Ia mencium aromanya.
"Bau toko."
Bu Nina semakin curiga.
Pak Omen muncul dari kamar sambil mengancingkan celana.
"Bu, lihat kaus kaki Ayah?"
Bu Nina tidak menjawab.
Pak Omen mencari sendiri.
"Ada di mana, ya?"
Bu Nina masih memegang kemeja.
"Ini punya siapa?"
Pak Omen menoleh.
"Oh, itu."
"Ini punya siapa?"
"Ya punya Ayah."
Bu Nina mengangkat alis.
"Sejak kapan Ayah punya baju baru?"
Pak Omen berpikir.
"Sejak beli."
Bu Nina menghela napas.
"Saya tanya kapan belinya."
"Oh."
Pak Omen berpikir lagi.
"Kemarin."
Bu Nina langsung menatapnya.
"Kemarin?"
"Iya."
"Kenapa Ibu tidak tahu?"
Pak Omen santai.
"Karena Ayah belum cerita."
Bu Nina tersenyum tipis.
"Oh..."
Senyum yang bagi orang lain mungkin terlihat biasa.
Tetapi bagi Pak Omen, senyum itu seperti lampu peringatan di dashboard mobil.
"Kenapa, Bu?"
"Enggak."
Bu Nina menggantung kembali baju itu.
"Bagus kok."
Pak Omen tersenyum.
"Iya, kan?"
"Bagus."
Bu Nina berjalan ke dapur.
Baru tiga langkah, ia berhenti.
"Mas."
"Iya?"
"Belinya sama siapa?"
Pak Omen mengerutkan kening.
"Sendiri."
"Yakin?"
"Yakin."
Bu Nina mengangguk.
"Ya sudah."
Pak Omen menghela nafas lega.
Namun ia tidak tahu bahwa pertanyaan tadi bukan akhir.
Itu baru babak pertama.
PAGI YANG PENUH KEBAHAGIAAN
Sekitar pukul sembilan, seseorang mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Bimo yang sedang makan kerupuk berlari membuka pintu.
"Siapa?"
Dari luar terdengar suara perempuan.
"Bu Nina ada?"
Bimo membuka pintu.
Seorang perempuan berdiri di depan rumah membawa beberapa kantong pakaian.
"Bu Nina ada, Nak?"
"Ada."
Bimo memandang kantong-kantong itu.
"Jualan baju?"
Perempuan itu tersenyum.
"Iya."
Bimo langsung berteriak.
"BUUUU!"
Bu Nina keluar dari dapur.
"Iya, apa?"
"Bu, ada yang bawa baju."
Bu Nina langsung tersenyum.
"Oh, Bu Sari!"
Ternyata perempuan itu memang Bu Sari, seorang pedagang pakaian yang beberapa bulan terakhir sering menawarkan pakaian kepada ibu-ibu sekitar.
Bu Nina sudah beberapa kali membeli pakaian darinya.
Masalahnya...
Bu Sari juga memberikan sistem pembayaran secara cicilan.
Bu Nina menyukai sistem tersebut.
Karena menurutnya:
"Kalau bayar sedikit-sedikit, hati tidak kaget."
Bimo mengangguk waktu pertama kali mendengar kalimat itu.
"Kalau begitu beli motor juga bisa dicicil?"
Bu Nina menjawab,
"Bisa."
"Kalau beli rumah?"
"Bisa."
"Kalau beli ayah baru?"
Pak Omen yang kebetulan lewat langsung berhenti.
"HEI!"
Bimo tertawa.
Bu Sari masuk.
Mereka mulai melihat pakaian.
Ada gamis.
Ada blouse.
Ada daster.
Ada celana.
Ada baju anak.
Pak Omen yang sedang duduk di ruang tengah sebenarnya tidak memperhatikan.
Sampai Bu Sari berkata:
"Pak Omen, ini ada kemeja bagus."
Pak Omen menoleh.
"Oh?"
Bu Sari mengambil sebuah kemeja.
"Ini cocok untuk Bapak."
Pak Omen berdiri.
"Wah, bagus."
Bu Nina yang sedang melihat pakaian langsung menoleh.
"Bagus?"
Pak Omen mengangguk.
"Iya."
Bu Nina tersenyum.
"Ambil."
Pak Omen terkejut.
"Serius?"
"Serius."
Bu Sari tersenyum.
"Kalau yang ini memang cocok buat Pak Omen."
Bu Nina menatap Bu Sari.
"Memang sering memperhatikan Pak Omen, ya?"
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Sari berkedip.