IBU SAKIT, SEMUA PANIK
Pagi itu, rumah keluarga Omen terasa aneh.
Bukan karena listrik mati.
Bukan karena air habis.
Bukan pula karena Bimo belum membuat keributan.
Justru karena Bu Nina belum membuat keributan.
Biasanya sejak pukul enam pagi suara Bu Nina sudah terdengar dari dapur.
“Bimo! Bangun!”
“Raka! Jangan lupa sarapan!”
“Rino! Handuk jangan ditaruh di kursi!”
“Mas Omen! Jangan lupa beli gas!”
Tetapi pagi itu...
Sunyi.
Pak Omen yang sedang mencari kaos kaki berhenti di depan kamar.
Ia menoleh ke arah dapur.
“Bu?”
Tidak ada jawaban.
“Bu Nina?”
Tetap tidak ada jawaban.
Pak Omen mulai merasa tidak enak.
Ia berjalan menuju kamar.
Pintu sedikit terbuka.
“Bu?”
Bu Nina sedang berbaring.
Wajahnya terlihat pucat.
Pak Omen langsung panik.
“Bu, kenapa?”
Bu Nina membuka mata perlahan.
“Enggak apa-apa.”
Pak Omen duduk di tepi tempat tidur.
“Enggak apa-apa bagaimana? Wajahmu pucat.”
“Cuma pusing.”
“Sudah dari kapan?”
“Dari tadi malam.”
Pak Omen langsung berdiri.
“Kenapa tidak bilang?”
Bu Nina mencoba tersenyum.
“Karena Mas juga sudah capek.”
Pak Omen menatap istrinya.
“Capek itu bisa dicari obatnya. Kalau Ibu sakit, Ayah mau cari siapa?”
Bu Nina terdiam.
Kalimat itu membuat suasana mendadak berbeda.
Pak Omen keluar kamar.
“RAKA!”
Suara itu membuat semua orang kaget.
Raka berlari dari kamar.
“Kenapa, Yah?”
“Ibu sakit.”
Rino keluar.
“Apa?”
Bimo muncul sambil membawa roti.
“Ibu sakit?”
Pak Omen mengangguk.
Dalam beberapa detik, suasana rumah berubah menjadi kepanikan.
KELUARGA Omen PANIK
Raka langsung mengambil air putih.
Rino mencari termometer.
Bimo berdiri di depan pintu sambil kebingungan.
“Aku harus apa?”
Pak Omen menjawab cepat:
“Ambilkan tas Ibu!”
Bimo berlari.
Lima detik kemudian ia kembali membawa tas belanja.
“Ini.”
Pak Omen melihat.
“Bukan itu!”
“Yang ini?”
Bimo membawa tas sekolah.
“Bukan!”
“Yang ini?”
Ia membawa tas kecil berisi mainan.
Pak Omen memegang kepala.
“Bimo, tas Ibu!”
“Oh..."
Bimo kembali berlari.
Raka menggeleng.
“Bimo kalau panik malah lebih panik.”
Rino menjawab:
“Dia memang spesialis membuat situasi tambah rumit.”
Bimo dari kamar berteriak:
“Aku dengar!”
Rino tersenyum.
“Bagus.”
Setelah beberapa saat, mereka memutuskan membawa Bu Nina ke fasilitas kesehatan.
Pak Omen mengambil dompet.
Raka mengambil dokumen.
Rino mengambil air minum.
Bimo membawa jaket.
Semua sudah siap.
Namun ketika hendak berangkat, Raka bertanya:
“BPJS Ibu ada?”
Bu Nina menjawab pelan.
“Ada.”
“Masih aktif?”
Bu Nina diam.
Pak Omen menoleh.
“Bu?”
Bu Nina menarik napas.
“Sepertinya...”
Ia berhenti.
Pak Omen mulai curiga.
“Sepertinya apa?”
“Sudah lama tidak dibayar.”
Ruangan langsung hening.
Raka menatap ayahnya.
“Berapa lama?”
Bu Nina menunduk.
“Kurang lebih tiga bulan.”
Pak Omen menghela nafas panjang.
“Kenapa tidak bilang?”
Bu Nina menjawab lirih:
“Uang bulan lalu banyak kebutuhan.”