UJIAN CALON MANTU
Pagi itu, rumah keluarga Omen mengalami kejadian yang cukup langka.
Rumahnya bersih.
Bukan sekadar bersih.
Bersih sekali.
Lantai disapu. Meja dilap. Bantal sofa disusun rapi. Piring-piring yang biasanya menumpuk di dapur sudah masuk tempatnya. Bahkan sandal Bimo yang selama ini terkenal memiliki kehidupan sendiri akhirnya tersusun berpasangan di depan pintu.
Pak Omen berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi perubahan itu.
Ia menggaruk kepala.
“Bu.”
Bu Nina muncul dari dapur sambil membawa kain lap.
“Apa?”
“Ini rumah kita?”
Bu Nina mengerutkan kening.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak biasanya.”
“Tidak biasanya bagaimana?”
“Bersih.”
Bu Nina melotot.
“Jadi selama ini rumah kita kotor?”
Pak Omen langsung mengangkat kedua tangan.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Maksud saya... hari ini kelihatannya seperti rumah orang kaya.”
Bu Nina mendengus.
“Jangan banyak bicara. Bantu angkat kursi.”
Pak Omen menurut.
Ia mengangkat satu kursi, lalu meletakkannya di tempat yang sudah ditentukan Bu Nina.
“Di sini?”
“Sedikit ke kanan.”
Pak Omen menggeser.
“Di sini?”
“Sedikit lagi.”
Geser.
“Sekarang?”
“Ke kiri.”
Pak Omen berhenti.
“Bu, ini kursi atau satelit? Kok arahnya harus tepat sekali?”
Bu Nina menahan senyum.
“Hari ini Raka bawa pacarnya.”
Pak Omen langsung terdiam.
“Oh.”
Ia kembali melihat ruang tamu.
“Pantas.”
“Pantas apa?”
“Pantas rumah kita mendadak kelihatan seperti sedang mengikuti ujian.”
Bu Nina menghela napas.
“Memang.”
RAPAT DADAKAN
Di kamar, Raka sedang berdiri di depan cermin.
Ia sudah berganti pakaian tiga kali.
Kemeja putih.
Ganti.
Kemeja biru.
Ganti.
Kemeja kotak-kotak.
Akhirnya ia kembali menggunakan kemeja biru.
Rino yang sejak tadi duduk di ujung tempat tidur memperhatikannya.
“Sudah?”
Raka menatap cermin.
“Menurutmu?”
“Bagus.”
“Serius?”
“Serius.”
Raka merapikan rambut.
“Kelihatan gugup?”
Rino menjawab santai.
“Banget.”
“Parah?”
“Seperti orang mau sidang.”
Raka menghela napas.
“Ini pertama kalinya dia datang ke rumah.”
“Ya.”
“Bagaimana kalau keluarga kita bikin dia tidak nyaman?”
Rino tertawa.
“Mustahil.”
“Kenapa?”
“Karena keluarga kita memang tidak nyaman untuk siapa pun.”
Raka langsung melempar bantal.
“Diam.”
Rino menangkap bantal itu.
“Tenang. Kalau dia bisa bertahan satu jam bersama Bimo, berarti dia cocok.”
Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
“AKU DENGAR!”
Raka dan Rino saling pandang.
Bimo masuk sambil membawa sisir.
“Aku mau ikut.”
Raka mengerutkan kening.
“Ke mana?”
“Menemui calon kakak ipar.”
“Jangan panggil begitu.”
“Kenapa?”
“Belum tentu.”
Bimo berpikir.
“Kalau begitu calon keluarga.”
Rino tertawa.
Raka menggeleng.
“Kamu jangan banyak bicara nanti.”
Bimo mengangguk.
“Siap.”
Rino langsung menyelak.
“Kalau Bimo sudah bilang ‘siap’, justru itu yang harus ditakuti.”
Di ruang tengah, Pak Omen sudah duduk bersama Bu Nina.
Rino keluar dari kamar.
Bimo ikut keluar.
Pak Omen memandang mereka.
“Mana Raka?”
“Masih bersiap,” jawab Rino.
Pak Omen mengangguk.
Kemudian ia menatap semuanya.
“Hari ini kita harus bersikap baik.”
Bu Nina mengangguk.
“Betul.”
“Jangan membuat malu Raka.”
“Iya.”
“Jangan terlalu banyak bertanya.”
“Iya.”
“Jangan terlalu kepo.”
“Iya.”
Pak Omen menoleh kepada Bimo.
“Terutama kamu.”
Bimo menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Iya.”
“Aku kan pendiam.”
Semua langsung tertawa.
Bimo tersinggung.
“Kenapa tertawa?”
Rino menjawab:
“Karena kalimatmu tidak masuk akal.”
KEDATANGAN RAKA
Menjelang siang, suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Raka turun.
Di sampingnya seorang perempuan muda ikut berjalan menuju pintu.
Raka tampak gugup.
Ia menarik nafas panjang.
Kemudian mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Belum sempat mengetuk lagi, pintu langsung terbuka.
Bu Nina sudah berdiri di sana.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Bu Nina tersenyum.
“Silakan masuk.”
Raka masuk bersama pacarnya.
“Bu, Yah, ini”
Belum selesai Raka memperkenalkan, Bimo sudah berdiri di belakang sofa.
Ia menatap pacar kakaknya dengan serius.
Raka langsung tahu.
“Bimo.”
“Apa?”
“Jangan begitu.”
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Wajahmu.”
“Memangnya kenapa dengan wajahku?”
“Seperti sedang memeriksa barang bukti.”
Bimo langsung mengubah ekspresi menjadi tersenyum.
Namun senyumnya justru terlihat lebih aneh.
Rino berbisik:
“Sudah. Jangan dipaksakan.”
Pacar Raka duduk dengan sopan.
Bu Nina menyuguhkan minuman.
“Minum dulu, Nak.”
“Terima kasih, Bu.”
Pak Omen ikut tersenyum.
“Anggap saja seperti rumah sendiri.”
Bimo langsung menyelak.
“Jangan terlalu seperti rumah sendiri.”
Semua menoleh.
Raka memegang kepala.
“Bimo!”
Bimo membela diri.
“Maksudku... nanti dia tahu rumah kita sebenarnya.”
Rino tertawa.
Pak Omen menggeleng.
“Bimo, diam.”
“Siap.”
PERKENALAN
Setelah suasana sedikit tenang, Raka mulai memperkenalkan pacarnya secara lebih lengkap.
Bu Nina mendengarkan dengan penuh perhatian.
Pak Omen sesekali mengangguk.
Rino tersenyum.
Bimo memperhatikan.
Kemudian Bu Nina bertanya:
“Sudah lama kenal dengan Raka?”
“Sudah beberapa waktu, Bu.”
“Raka orangnya bagaimana?”
Raka langsung menatap ibunya.
“Bu...”
Bu Nina mengangkat tangan.
“Ibu cuma bertanya.”
Pacar Raka tersenyum.
“Raka baik, Bu.”
Bimo langsung mengangkat tangan.
“Tidak selalu.”
Raka menoleh.